MACAM-MACAM TALAK DAN HUKUM TALAK

MACAM-MACAM TALAK DAN HUKUM TALAK

Perpisahan (furqah) antara suami istri adakalanya berupa putusnya ikatan pernikahan akibat suami melakukan talak, atau istri melakukan khulu’. Setelah itu keduanya bisa rujuk kembali, atau tetap berpisah selamanya. Perpisahan itu dapat pula berupa perpisahan dari segi syar’i, yaitu ila’ dan li’an. Adapun zhihar tidak termasuk furqah. la hanya mengakibatkan kafarat. Furqah atau fasakh ini menimbulkan konsekuensi hukum bernama ‘iddah.

  1. Talak
  2.   Definisi, Pensyariatan, dan Rukun-Rukun Talak

Talak secara bahasa berarti “melepas ikatan” dan “memisahkan”. Dari sanalah muncul istilah “Naqatun thaliqun” yang artinya unta yang dilepas, tidak diikat.

Adapun secara syara’, talak berarti melepas ikatan pernikahan dengan kata “talak” (cerai) atau yang sejenis.

Dalil pensyariatan talak ini berasal dari al-Qur’an, as-Sunah, maupun ijma’ ulama. Dari al-Qur’an, ada beberapa ayat, di antaranya firman Allah SWT “Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik,” (QS. al-Baqarah [2]: 229) dan firman-Nya, “Wahai Nabi, apabila kalian menceraikan istri-istri kalian, hendaklah kalian ceraikan mereka pada waKtu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya (yang wajar).” (QS. ath-Thaláq [65]: 1).

Ihwal talak juga disebutkan dalam sejumlah hadits shahih, antara lain Nabi Saw bersabda, “Tidak ada perbuatan halal yang lebih dimurkai Allah selain talak,” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih dan al-Hakim yang menshahihkan hadits ini). Juga sabda beliau, “Jibril menemuiku lalu berkata, ‘Rujuklah kepada Hafshah, karena día suka berpuasa dan shalat malam. Sesungguhnya día adalah istrímu di surga.‘” (HR. Abu Dawud dan periwayat lainnya dengan sanad yang hasan).

Selanjutnya, para ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa talak itu benar-benar disyariatkan.

Rukun talak ada lima, yaitu 1) orang yang menalak, 2) shighat atau kata-kata talak, 3) orang yang ditalak, 4) perwalian, dan 5) niat.

  1.   Syarat-Syarat Rukun Talak

Semua rukun talak di atas mempunyai sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Berikut ini uraian masing-masing secara berurutan.

  1.   Syarat Orang yang Menalak

Talak dianggap sah bila dilakukan oleh suami yang berakal, baligh, dan atas kehendak sendiri (mukhtar). Maka sifat mukallaf merupakan syarat, jadi talak orang safih (pemboros), meskí tidak seberapa, hukumnya tetap sah. Terkecuali orang yang mabuk secara sengaja, -misalnya minum khamr atau obat yang bisa menghilangkan kesadaran tanpa alasan medís- maka talak yang dilontarkannya tetap sah. Ini sebagai hukuman sekaligus peringatan baginya, meski saat mabuk dia bukan mukallaf. Apabila seseorang telah diwajibkan menunaikan ibadah dengan adanya perintah, dan dari segi hukum talaknya sah dengan adanya sebab-sebab yang telah ditentukan maka hukum orang mabuk ataupun sehat sama saja. Adapun orang yang mabuk karena berobat atau tanpa sengaja, talaknya tidak sah.

Ketentuan di atas melahirkan beberapa konsekuensi: 1) talak orang yang belum mukallaf tidak sah, seperti talaknya anak kecil, orang gila atau tidak sadar, penderita ayan, dan orang yang tidur, baik secara langsung (munjiz) maupun bersyarat (taklik); 2) talak yang dilakukan bukan oleh suami atau wakilnya juga tidak sah; 3) talak orang yang dipaksa tanpa alasan yang benar juga tidak sah. Misalnya suami diancam akan dibunuh, dipotong anggota tubuhnya, dipukuli, dikecam, ataupun dipukul dengan ringan sementara dia adalah orang yang terhormat. Pemukulan itu untuk menghinakannya. Walhasil, ada empat orang yang talaknya tidak sah, yaitu: anak kecil, orang gila, orang yang sedang tidur, dan orang yang dipaksa.

Yang dimaksud “paksaan” di sini adalah ancaman dengan hal-hal di atas. Misalnya, si pemaksa benar-benar melakukan isi ancamannya besok, sementara orang yang dipaksa tahu si pemaksa bisa melaksanakan ancaman tersebut. Dengan kata lain, pemaksaan itu meniscayakan tiga syarat. Pertama, si pemaksa sanggup mewujudkan ancamannya. Kemampuan tersebut bisa berwujud kekuasaan, tekanan, atau serangan. Kedua, yang dipaksa tidak kuasa melawan baik membela diri, atau meminta bantuan orang lain. Ketiga, yang dipaksa mempunyai dugaan kuat bahwa menentang hanya akan membawa akibat buruk.

Seorang suami boleh mewakilkan talak, meski kepada wanita, asal sudah baligh dan berakal. Misalnya, dia berkata kepada wanita lain (bukan mahramnya), “Talakkanlah si fulanah, istriku,” atau dia berkata pada istrinya, “Aku pasrahkan talakmu kepada dirimu sendiri. Jika kamu menjatuhkan talak, berarti kamu tertalak.”

Si wakil boleh menjatuhkan talak kapan pun, selama orang yang mewakilkan tidak menarik perwakilannya sebelum talak dijatuhkan. Namun, si wakil tidak boleh berbeda dengan orang yang diwakilinya dalam hal jumlah talak yang diperwakilkan.

Dalam talak perwakilan ini, wakil yang ditunjuk tidak disyaratkan harus menerimanya (qabul) dengan segera, namun cukup diberikan kelonggaran (tarakhi). Demikian pula, pelaksanaan talak tersebut juga bersifat longgar.

Tetapi, jika seorang pria berkata pada istrinya, “Talaklah dirimu,” lalu si istri langsung menjawab –saat itu juga- “ Aku menalak diriku sendiri,” maka dia tertalak. Namun, bila si istri mengakhirkan jawabannya selama waktu yang bisa memisah antara jawaban (qabul) dari permintaan (ijab), talaknya tidak jatuh. Kecuali jika suami berkata, “Talaklah dirimu kapan saja,” maka talaknya tidak disyaratkan harus segera.

Dalam hal ini, penyerahan (tafwidh) statusnya menyerupai perwakilan. Artinya, di samping orang yang mewakili, si suami yang mewakilkan juga masih mempunyai hak untuk menjatuhkan talak.

Dalil tidak sahnya talak anak kecil, orang gila, dan orang tidur ialah sabda Nabi Saw “Pena diangkat dari tiga orang: dari orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga mimpi basah, dan orang gila hingga berakal,” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, hadits hasan). Adapun dalil tidak sahnya talak orang yang dipaksa adalah sabda Rasulullah saw  “Tiada talak, tiada kemerdekaan dalam qhilaq atau ighlaq”. Ighlaq artinya pemaksaan. Dalam hadits Ibnu Abbas RA Nabi saw bersabda, “Diampuni dari umatku; kesalahan, lupa, dan sesuatu yang terpaksa. ”

Adapun dalil keabsahan talak orang mukallaf yang mabuk -seperti telah diulas di depan- adalah firman Allah SWT , “Jangan kalian mendekati shalat ketika kalian dalam keadaan mabuk, sampai kalian sadar apa yang kalian ucapkan,” (QS. an-Nisa’ [4]: 43). Selain itu, Ali ra memutuskan untuk memberlakukan sanksi berbohong atas igauan orang yang mabuk. Para sahabat sependapat dengan keputusan Ali ra. Ini mengindikasikan bahwa perkataan orang mabuk mempunyai konsekuensi hukum seperti halnya orang sadar. Hukum orang mabuk juga sama seperti orang sadar dalam hal kewajiban mengqadha shalat. Begitu pula dalam kasus talak.

  1.   Syarat Shighat Talak

Redaksi atau kata-kata (shighat) talak ditujukan kepada pihak perempuan bisa menggunakan kata ganti orang kedua, misalnya “kamu ditalak” atau selain kata ganti orang kedua, seperti “dia ditalak”. Shighat talak juga harus menggunakan kalimat yang jelas (sharih), meskipun tanpa niat, atau dengan kalimat yang samar (kinayah/kiasan) asalkan disertai niat.

Talak yang dilakukan orang muslim atau kafir dengan kalimat sharih yang secara tekstual tidak mengandung makna selain talak, hukumnya sah meski tanpa niat. Kalimat yang sharih bisa mengakibatkan jatuhnya talak, baik disertai niat maupun tidak. Bila tanpa niat, syaratnya kalimat tersebut harus langsung ditujukan pada makna yang sebenarnya, bukan berniat menjatuhkan talak.

Talak juga bisa jatuh dengan kata-kata kiasan (kinayah), yakni kalimat yang mengandung makna talak sekaligus juga makna lain, tetapi harus disertai niat dari si pelaku. Maksudnya, dia memang bertujuan menjatuhkan talak.

Menurut pendapat yang masyhur, shighat yang sharih ada tiga, yaitu talak (cerai), firaq (pisah), dan siráh. (lepas). Di samping kata pertama, dua kata terakhir juga digunakan al-Qur’an untuk menunjuk makna ‘talak’.

Misalnya, si suami berkata kepada istrinya, “Aku menalakmu,” “Kamu tertalak,” “Kamu adalah perempuan yang ditalak,” “Hai wanita yang ditalak,” ataupun “Hai orang yang ditalak.” Jika objek kalimat talak itu dibuang, seperti “aku menalak” atau membuang subjek, seperti “menalak”, atau kata panggilannya dibuang, seperti “orang yang ditalak” maka talaknya tidak jatuh. Menurut pendapat yang ashah, ucapan “kamu wanita-wanita yang ditalak” atau “kamu adalah wanitá-wanita yang ditalak itu”, tidak menyebabkan jatuhnya talak. Kedua redaksi ini tidak jelas, hanya samar-samar.

Mencerai dengan terjemahan kata “talak” dalam bahasa non-Arab, menurut satu madzhab, termasuk talak yang sharih, sebab penggunaan kata tersebut dengan makna ‘talak’ sudah populer bagi masyarakat penggunanya, sebagaimana kepopuleran bahasa Arab bagi pemakainya.

Adapun shighat kinayah, contohnya “aku melepasmu”, “kamu wanita yang bebas”, “sesuatu yang dulu halal atau kehalalan Allah bagiku kini menjadi haram”, “kamu kosong dariku”, “kamu bebas (pisah)”, “ikatanmu sudah terputus”, “ikatan perkawinanmu sudah ditinggalkan”, “kamu orang yang dipisah”, “rahimmu sekarang bebas”_”pergilah kepada keluargamu”, “tali kekangmu sekarang di atas punggungmu sendiri” (maksudnya, aku bebaskan jalanmu, seperti melepas unta dengan menaruh tali kekangnya di atas punggung unta tersebut), “aku sudah tidak peduli denganmu”, “menjauhlah dariku”, “pergilah mengasing tanpa suami”, “tinggalkan aku”, “menyingkirlah dariku”, “aku tidak butuh kamu”, “kamu sekarang haram bagiku. Aku tidak halal lagi melihatmu” “pecahkanlah gelas perpisahan”, “menjauhlah karena kamu sudah wanita lain bagiku”, dan lain-lain.

Semua kalimat di atas berbentuk kiasan (kinayah). Jika seorang suami mengucapkannya dengan niat talak maka talaknya jatuh. Jika tanpa niat si wanita tidak tertalak.

Talak bukanlah bentuk kinayah dan zhihar, demikian pula sebaliknya meskipun keduanya sama-sama berujung pada pengharaman hubungan intim, karena keduanya masih bisa ditempatkan pada tempatnyá masing-masing. Masalah ini merupakan contoh dari kaidah “má kana sharíhan fí babihi wa wajada nafadzan fí maudhu’ihi layakunu kinayatan fí ghairihi (sesuatu yang jelas babnya dan bisa ditetapkan pada tempatnyá tidak bisa menjadi kinayah bagi yang lain).

Seandainya seorang suami berkata pada istrinya, “Kamu di mataku seperti punggung ibuku,” dan niat meniatkan talak, atau mengucapkan, “Kamu orang yang ditalak,” dengan niat zhihar maka niatnya itu tidak sah. Yang terlaksana adalah tuntutan dari kalimat yang tegas diucapkannya.

Apabila seorang pria berkata pada istrinya, “Kamu haram bagiku ” atau “Aku haramkan kamu,” dengan niat melakukan talak raj’i atau talak ba’in -meski berulang kali-, atau dengan niat zhihar maka apa yang diniatkan itu tercapai. Sebab, masing-masing kalimat tersebut menuntut pengharaman. Seorang suami boleh melakukan pengharaman dengan kalimat yang tidak tegas (kinayah).

Jika seseorang meniatkan talak dan zhihar secara bersamaan atau berurutan, kemudian día memilih salah satu hukum, maka apa yang dipilihnya sah.

Apabila seorang suami meniatkan ucapan tersebut untuk mengharamkan istrinya, kemaluannya, atau berhubungan intim, maka niat itu tidak bisa mengharamkannya dari sang istri, meskipun dia dipaksa melakukannya. Dalilnya adalah riwayat an-Nasa’i bahwa seorang pria bertanya kepada Ibnu Abbas ra “Aku mengharamkan istriku.” Ibnu Abbas menjawab, “Kamu telah berdusta. Dia tidak haram bagimu.” Kemudian día membaca firman Allah SWT, “Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu” (QS. at-Tahrím [66]: 1). Namun, laki-laki itu wajib membayar kafarat sumpah, meski pernyataan tersebut bukan termasuk sumpah, karena sumpah bisa terikat bila diucapkan dengan menyebut salah satu nama atau sifat Allah SWT. Kewajiban kafarat tidak semata berkaitan dengan hubungan intim, mengacu pada kisah Mariyah. Ketika Rasulullah saw berkata kepada Mariyah, “Dia haram bagiku,” maka turunlah ayat tadi, hingga “Sungguh, Allah telah mewajibkan kepada kalian membebaskan diri dari sumpah kalian,” (QS. at-Tahrim: [66]: 2). Artinya, Allah SWT telah mewajibkan kalian membayar kafarat seperti halnya kafarat sumpah.

Istri pun tidak lantas menjadi haram, jika suami tersebut tidak berniat. Demikian menurut pendapat yang azhar. Apabila seseorang berkata “Pakaian ini atau makanan ini haram bagiku,” maka ucapan ini selain tidak membawa konsekuensi hukum apa pun, juga tidak dikenai sanksi kafarat.

Untuk talak yang dilakukan dengan shighat kinayah, si suami disyaratkan untuk meniatkan talak dalam seluruh kalimat yang diucapkannya.

  •   Talak dengan Isyarat

Isyarat talak yang dilakukan oleh orang yang normal (tidak bisu) tidak membawa konsekuensi hukum apapun; misalnya, seorang istri berkata kepada suaminya, “Talak aku,” lalu si suami memberi isyarat dengan tangannya “pergilah”. Sebab, peralihan dari ucapan ke isyarat memberikan pemahaman bahwa si suami tidak bermaksud menalak. Selain itu, untuk orang mampu berbicara, talak, sumpah, dan nadzar harus diucapkan.

Adapun orang yang bisu maka seluruh akadnya -seperti jual beli, pernikahan, pengakuan, dakwaan, termasuk akad pembatalan (bukan penangguhan) seperti talak- adalah sah dengan isyarat.

Jika semua orang paham isyarat tersébut maka isyaratnya dianggap sharih, tidak membutuhkan niat; misalnya, seseorang bertanya pada seorang suami, “Berapa banyak kamu menalak istrimu?” lalu día mengangkat tiga jarinya. Namun, jika isyarat talak itu hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang cerdas maka isyaratnya adalah kinayah yang membutuhkan niat.

  •   Talak vía Surat

Apabila seorang suami menalak istrinya melalui surat -baik secara sharih ataupun kinayah- padahal dia tidak berniat menalaknya maka ini tidak membawa konsekuensi hukum. Namun, jika dia berniat menalak, menurut pendapat yang azhar, talaknya sah, karena surat merupakan cara untuk menyampaikan maksud hati, dan itu sudah disertai niat.

Jika si suami menggantungkan talak dengan sesuatu, misalnya dia menulis kepada istrinya, “Jika suratku ini sampai padamu, kamu orang yang ditalak,” maka si istri tertalak dengan sampainya surat tersébut, sesuai bunyi syarat suami.

Apabila dia menulis, “Jika kamu membaca surat ini, kamu orang yang ditalak,” dan istrinya bisa membaca lalu membaca surat tersébut maka dia tertalak sebab adanya faktor yang ditaklik (disyaratkan). Tetapi, jika surat itu dibacakan oleh orang lain, menurut pendapat yang ashah, si istri tidak tertalak, sebab dia tidak membacanya, padahal dia bisa melakukannya sendiri.

  •   Melimpahkan Hak Talak kepada Istri

Berdasarkan ijma’ ulama, memasrahkan talak kepada istri adalah boleh, sebab Rasulullah saw pernah mempersilahkan istrinya untuk memilih antara tinggal dengan beliau atau berpisah, begitu ayat berikut ini turun, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kalian menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepada kalian mut’ah dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Dan jika kalian menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian,'” (QS. al-Ahzab [33]: 28-29). Seandainya memberikan pilihan talak kepada para istri itu tidak berpengaruh, tentu pemberian kesempatan kepada mereka itu tidak ada gunanya.

Memasrahkan talak, menurut qaul jadid, berarti memberikan hak menalak, sebab itu sama dengan perkataan suami, “Aku memberikan hak talak kepadamu.” Syarat sahnya pemasrahan talak ini ialah, si istri harus langsung menalak suaminya seketika itu juga, begitu dia menerima pemasrahan tersébut, karena penalakan di sini merupakan jawaban atas pemberian hak talak tersébut. Jadi ia seperti qabul yang bersifat segera. Seandainya istri mengulur jawaban itu, kemudian dia menalak dirinya, dia belum dihukumi talak.

Jika suami berkata kepada istri, “Talaklah dirimu dengan imbalan seribu,” lalu si istri yang merupakan wanita yang boleh melakukan transaksi itu segera menalak maka dia tertalak ba’in dan berhak menerima imbalan seribu. Jadi, pemberian hak talak dengan imbalan tersébut, dalam kasus ini, sama seperti jual beli.

Sedang suami yang memasrahkan hak talak tersebut boleh rujuk kembali, sebelum istri mengeluarkan pernyataan talaknya, sebab dalam pemberian hak dan perwakilan boleh rujuk kembali sebelum adanya qabul. Jika suami telah merujuknya, kemudian istri menyatakan talak maka talaknya tidak sah, baik dia mengetahui rujuk tersebut maupun tidak.

Apabila suami menaklik pemasrahan talak, misalnya dengan berkata, “Jika bulan Ramadhan tiba, talaklah dirimu,” maka pemasrahan ini tidak membawa konsekuensi hukum, sebab pemberian hak milik itu tidak bisa tergantung kepada hal lain. Terlaksananya talak (najiz) dalam hal ini dirinci sebagai berikut.

  •   Apabila suami berkata kepada istri, “Talak ba’inlah dirimu,” dengan niat memasrahkan talak, lalu istri menjawab, “Aku menalak ba’in” sambil niat menalak dirinya, maka talaknya sah, mengingat shighat kinayah yang disertai niat seperti ini hukumnya seperti talak yang sharih.
  •   Apabila suami berkata kepada istri, “Talaklah dirimu,” lalu istri menjawab sambil niat, “Aku menalak ba’in diriku,” atau suami berkata sambil niat, “Talaklah ba’in dirimu,” lalu istri menjawab, “Aku menalak diriku,” maka dalam dua kasus ini si istri tertalak, sebab dia diperíntahkan untuk menalak dan telah melaksanakannya. Perbedaan redaksi keduanya tidak jadi masalah.
  •   Apabila suami berkata, “Talaklah dirimu,” sambil berniat talak tiga, lalu istri menjawab, “Aku menalak,” dan dia mengetahui niat suaminya serta meniatkan talak tiga tersebut maka jatuhlah talak tiga. Hal ini karena redaksinya mencakup bilangan, lagi pula keduanya telah meniatkannya. Apabila suami istri tersebut tidak meniatkan talak tiga, menurut pendapat yang ashah, jatuhlah talak satu. Sebab, talak yang sharih merupakan kinayah dalam segi jumlah.
  •   Apabila suami berkata, “Talaklah dirimu tiga kali,” lalu istrinya menalak dirinya satu kali (artinya, dia berkata, “Aku menalak diriku satu kali,”) atau sebaliknya, misalnya suami berkata, “Talaklah dirimu sekali,” lalu istrinya menalak tiga kali (artinya, dia berkata, “Aku menalak diriku tiga kali,”) maka dalam dua kasus ini jatuh talak satu. Alasan pada kasus pertama, talak yang dilontarkan istri terhadap dirinya masuk dalam jumlah talak yang dipasrahkan suaminya (tiga kali). Sedangkan pada kasus kedua, talak yang dipasrahkan suami hanya satu kali. Lebih dari itu (dua dan tiga) tidak diperkenankan. Jadi, talak yang jatuh adalah talak yang hak untuk melakukannya diserahkan kepada istri.
  1.   Syarat Qashdu (Kesengajaan) dalam Talak

Qashdu adalah kehendak pemberi talak yang benar-benar ditujukan untuk terlaksana dan tercapainya tujuan yang diharapkan, yaitu talak; atau dengan redaksi sharih yang dilafazhkan. Talak yang dilontarkan oleh orang yang tidur, orang yang tergelincir dalam omongannya, orang yang dipaksa, dan orang yang tidak mengetahui makna talak adalah tidak sah. Namun, talak yang dilakukan orang yang bercanda dan orang yang mabuk dihukumi sah.

  •   Jika orang tidur mengucapkan talak, dia dikenai hukum sebagaimana dalam hadits, “Pena diangkat dari tiga orang…,” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Ali dan Umar). Dalam hadits ini disebutkan, “…orang yang tidur hingga dia bangun,” sebab tidak adanya unsur kesengajaan.
  •   Apabila seseorang terlanjur mengucapkan talak, tanpa sengaja, tanpa menghendaki makna talak sebenarnya, dia tidak dikenai hukum talaknya, sebab tidak ada unsur kesengajaan. Yang serupa dengan kasus ini ialah orang yang menirukan perkataan “talak” yang diucapkan orang lain, atau ahli fiqih (guru) yang mengulang-ulang kata “talak” dalam suatu pelajaran untuk menjelaskan agar orang lain paham.

Pengakuan orang yang terlanjur menjatuhkan talak secara tekstual tidak bisa dibenarkan, karena ada keterkaitan dengan hak orang lain, kecuali jika disertai indikator di bawah ini.

–           Seandainya seorang suami berkata kepada istrinya yang bernama Thaliq (orang yang ditalak), “Hai Thaliq,” dengan maksud memanggil, jelas wanita itu tidak tertalak, sebab si suami telah mengalihkan kata “talak” dari makna sebenarnya. Maka nama istrinya itu merupakan indikator yang dapat membenarkan pengakuannya. Demikian pula menurut pendapat yang ashah, suami dibenarkan jika dia memutlakkan ucapannya (hai Thaliq), tanpa bermaksud apa pun.

–           Jika istrinya bernama Thariq, Thalib, Thali’, atau nama lain yang mempunyai kedekatan bunyi  huruf dengan Thaliq, lalu si suami berkata, “Hai Thaliq,” dan berkata, “Aku bermaksud memanggil, namun hurufnya tertukar,” maka pengakuannya dibenarkan, sebab indikatornya telah jelas.

–           Seandainya seorang suami mengatakan talak kepada istrinya dengan tujuan bercanda (hazl) atau main-main (la’b) dan dia mengira istrinya adalah orang lain (bukan mahram), misalnya karena istrinya berada di tempat gelap atau berada di belakang hijab, atau dia dinikahkan oleh wali (atau wakilnya) dan si suami belum mengetahui akad nikah telah dilakukan oleh wali (atau wakilnya) itu, atau suami lupa, dan sebagainya, maka talaknya sah. Ini berdasarkan hadits hasan, “Ada tiga hal yang kesungguhannya adalah kesungguhan dan candanya adalah kesungguhan, yaitu: talak, nikah, dan rujuk.” Di samping itu suami telah melontarkan kata-kata “talak” dengan sengaja. Sesuai kehendaknya, meski dia menduga tidak jatuh talak. Jadi ucapan berkonsekuensí hukum dan tidak bisa diabaikan begitu saja.

  •   Apabila orang non-Arab mengucapkan talak dengan bahasa Arab dan dia tidak mengetahui maknanya, talaknya tidak jatuh.
  •   Talak orang yang dipaksa tanpa alasan yang dibenarkan adalah tidak sah. Ini berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Ini sama halnya dengan tidak sahnya keislaman orang yang dipaksa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw “Dimaafkan tiga hal atas umatku; kesalahan, lupa, dan sesuatu yang dipaksakan.” Juga berdasarkan pada hadits, “Tiada talak dalam ighlaq” maksudnya, paksaan. Jika seseorang dipaksa melakukan perbuatan batil seperti murtad, maka ini tidak berkonsekuensí hukum. Namun, jika seorang suami dipaksa untuk menalak istrinya dengan alasan yang benar, jatuhlah talaknya, sementara keislamannya tetap sah. Paksaan talak dengan alasan yang benar ini seperti paksaan qadhi (hakim) yang berwenang dalam kasus sumpah ila’ setelah lewatnya masa ila’ untuk menjatuhkan talak satu.

Orang yang dipaksa kadang memiliki indikasi bahwa dia melakukan talak atas keinginan sendiri. Misalnya, seseorang dipaksa supaya menalak tiga, tapi dia malah menalak satu. Bisa pula dipaksa untuk menalak secara sharih atau melakukan taklik talak, dia malah melakukan talak kinayah disertai niat atau melakukan talak munjiz. Dipaksa untuk mengucapkan “Aku menalak istriku,” tapi justru menggunakan redaksi “sarrahtuhá”. dan sebaliknya, misalnya dia dipaksa supaya menalak satu, justru menalak tiga. Dipaksa melakukan talak kinayah, malah menalak secara sharih. Dipaksa melakukan talak munjiz, malah menaklik talak. Dipaksa untuk mengatakan “sarrahtu” malah mengucapkan “thallaqtu”. Apabila semua kasus di atas terjadi maka jatuhlah talaknya. Sebab penentangannya mengisyaratkan keinginan diri atas apa yang dilakukannya.

Kita ketahui bahwa syarat paksaan adalah (1) kemampuan orang yang memaksa untuk mewujudkan ancamannya dengan kekuasaan atau dengan tekanan; (2) ketidakmampuan orang yang dipaksa untuk melawan si pemaksa dengan cara melarikan diri atau cara lainnya seperti meminta pertolongan kepada orang lain; dan (3) dugaan orang yang dipaksa bahwa jika dia menolak perbuatan yang dipaksakan, pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Tindak pemaksaan bisa berbentuk ancaman berupa pukulan keras, penahanan, perusakan barang, dan sebagainya. Tindak pemaksaan sangat bervariasi sesuai karakter individu dan motif di balik tindakan tersebut.

Dalam kasus tidak sahnya talak orang yang dipaksa, tidak disyaratkan adanya tauriyah, yaitu meniatkan selain makna kata-kata yang diucapkan. Misalnya, dia mengucapkan, “Aku menalak Zainab,” padahal yang dimaksud Zainab lain, bukan istrinya; atau meniatkan talak tetapi dengan arti “mengurai ikatan”; atau setelah menyatakan talak dia mengucapkan, “Insya Allah,” dengan suara pelan, atau berkata dalam hati, “insya Allah.” Aturan tauriyah ialah meniatkan sesuatu yang seandainya dinyatakan secara sharih pasti diterima. Dalam kasus ini, talak tidak jatuh.

  •   Orang yang Mabuk dan Sejenisnya

Talak pelaku dosa akibat mengonsumsi sesuatu yang dapat menghilangkan kesadaran, seperti minum khamr, atau minuman keras lain, atau berobat dengan nabidz (perasan gandum yang mengandung alkohol tinggi) atau bahan lainnya adalah tetap sah. Di samping itu, seluruh tindakannya –baik yang menguntungkan maupun merugikan dirinya- baik ucapan maupun perbuatan, seperti masuk Islam, murtad, dan tindak kriminal, seperti merampok dan membunuh -menurut al-madzhab- tetap dikenai sanksi hukum. Alasannya, qalam tidak diangkat dari orang yang mabuk. Ini berbeda dengan orang gila. Orang mabuk masih dikenai kewajiban mengqadha shalat, puasa, dan sebagainya. Adapun pemakai obat-obatan (yang menghilangkan kesadarannya) adalah sama dengan orang mabuk.

  1.   Syarat Objek Talak

Objek talak adalah wanita berikut seluruh jasad, ruh, wujud, atau sebagian unsur yang membentuknya. Seandainya seseorang menalak sebagian unsur wanita, misalnya dia berkata, “Seperempat atau setengahmu, atau bagian tubuhmu, hatimu, rambutmu, kukumu, atau darahmu ditalak,” maka talaknya sah. Namun menurut pendapat ashah, talak tidak jatuh, apabila ditujukan pada bagian tubuh yang tidak vital seperti otot, sperma, susu, atau zat sisa ekskresi seperti keringat dan urine, sebab semua ini tidak menyatu dengan jasad sebagai satu wujud penciptaan, berbeda dengan anggota tubuh yang telah disebutkan sebelumnya.

Seandainya seorang suami berkata kepada istrinya yang tangán kanannya buntung, “Tangán kananmu ditalak,” menurut al-madzhab, talaknya tidak jatuh, sebab objek talaknya tidak ada.

  •   Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Aku adalah orang yang ditalak darimu,” dan dia berniat menalak maka si istri tertalak. Akan tetapi, jika dia tidak berniat maka si istri tidak tertalak. Redaksi ini ditujukan bukan pada objek talak. Sebab itu, dalam redaksi talak seperti ini diberlakukan syarat yang ada pada talak kinayah, yaitu kesengajaan menjatuhkan talak. Demikian pula, menurut pendapat yang ashah, talaknya tidak jatuh bila si suami tidak berniat -selain niat talak- mengarahkan talak itu kepada istrinya. Sebab objek talak adalah perempuan, bukan laki-laki, sedangkan redaksi diatas menyandarkan talak pada suami.
  •   Seandainya suami berkata kepada istrinya, “Aku termasuk orang yang ditalak ba’in,” atau redaksi kinayah lainnya, maka disyaratkan adanya niat talak.
  •   Jika seorang suami berkata, “Bebaskanlah rahimku darimu,” atau “Aku menjauhimu,” atau kalimat semisalnya maka pernyataan ini tidak berkonsekuensi hukum, meskipun dibarengi niat talak. Sebab redaksi yang digunakan selain salah juga tidak beraturan. Padahal syarat talak kinayah ialah adanya kemungkinan makna pada maksud yang dikehendaki pengucap.
  1.   Syarat Kekuasaan Objek Talak, Istri

Talak disyaratkan harus ditujukan pada objeknya, yaitu istri, setelah adanya akad pernikahan. Karena itu, menyatakan talak kepada wanita lain (bukan istri), seperti ucapan, “Kamu orang yang ditalak,” atau menyampaikan taklik talak sebelum pernikahan, seperti ucapan, “Jika aku menikahinya maka dia orang yang ditalak,” atau menyampaikan taklik talak kepada orang yang bukan dalam ikatan pernikahan dengannya, misalnya pernyataan, “Jika kamu masuk rumah maka kamu orang yang ditalak,” (padahal wanita itu bukan istrinya) maka semua ini tidak berkonsekuensi hukum apa pun. Wanita itu tidak tertalak dari suaminya, sebab berdasarkan ijma’, talak munjiz kepada selain istri tidak menjadikan jatuhnya talak. Demikian halnya orang yang ditaklik, sebab orang yang mengucapkan talak atau taklik itu tidak memiliki wewenang terhadap wanita yang menjadi objek talaknya.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada talak, kecuali setelah pernikahan,” (HR. at-Tirmidzi. Dia menshahihkannya). Beliau juga bersabda, ‘Tidak ada talak, kecuali terhadap apa yang dimiliki. ”

Seandainya seorang pria berkata, “Setiap wanita yang akan aku nikahí maka dia tertalak,” lalu seseorang melaporkan hal itu kepada hakim bermadzhab Syafi’i, lalu dia menarik kembali pernyataannya maka batallah sumpah tersebut. Sebagian ulama berkomentar, “Itu bukan pembatalan (fasakh), melainkan penetapan pembatalan sumpah. Sebab sumpah yang shahih, tidak akan dicabut kembali.

  •   Talak bagi Wanita yang telah Dicerai

Wanita yang telah ditalak raj’i masih bisa dijatuhi talak lagi, sebab status hukumnya masih sebagai istri, mengingat suami masih mempunyai hak untuk merujuknya. Asy-Syafi’i ra berkata, “Dalam lima ayat al-Qur’an, wanita yang ditalak raj’i statusnya masih istri.” Maksudnya, día masih memiliki hak untuk ditalak kembali, zhihar, li’an, ila’ atasnya masih sah, dan demikian pula hak warisnya.

Adapun wanita yang mengajukan khulu’ tidak bisa ditalak lagi, meskipun masih dalam masa ‘iddah, sebab wewenang si suami sudah tidak ada.

Jika seorang pria menaklik talak istrinya dengan masuk rumah (misalnya) atau dengan hal lain yang dapat menimbulkan perpisahan (bainunah), dan ternyata istrinya telah ditalak atau difasakh sebelum (atau setelah) masuk rumah, baik dengan ganti rugi (khulu’) atau dengan talak tiga (ba’in), lalu pria ini menikahinya kembali (dengan akad baru), lalu istrinya masuk rumah maka talaknya tidak jatuh, bila dia secara meyakinkan masuk dalam kondisi sudah berpisah. Alasannya, sumpahnya telah rusak akibat dia masuk rumah pada pertengahan perpisahan. Begitu juga, talaknya tidak jatuh, jika dia tidak masuk rumah pada masa perpisahan, tetapi justru masuk dalam akad nikah yang baru. Demikian menurut pendapat yang azhar. Sebab, pernikahan yang memuat taklik talak telah terjadi.

  •   Faktor yang Mengembalikan Wanita yang Telah Dicerai pada Suami Pertama

Jika seorang suami menjatuhkan talak satu atau dua kali terhadap istrinya lalu rujuk kembali, atau melakukan akad nikah baru -meskipun istrinya telah menikah dan berhubungan intim dengan pria lain- maka statusnya kembali menjadi istri suami pertama berikut sisa talak yang dimiliki. Ini berbeda dengan pendapat Abu Hanifah dalam kasus istri yang menikah lagi dengan pria lain. Sedangkan jika suami mengajak rujuk sebelum si istri menikah dengan pria lain, dalam hal ini, para ulama telah berijma’.

Apabila suami itu menjatuhkan talak tiga kemudian akan melakukan nikah baru -setelah istrinya menikah dan berhubungan intim dengan pria lain, lalu mencerainya, dan masa ‘iddahnya sudah selesai- maka berdasarkan ijma’ ulama, wanita itu kembali pada suami pertama, berikut hak tiga talaknya. Sebab, adanya hubungan intim dengan suami kedua telah menghalalkan pernikahan dengan suami pertama. Selain itu, tidak mungkin dia berhubungan kembali dengan suami pertama dengan akad pertama. Jadi harus dilakukan akad baru berikut seluruh ketentuan hukumnya.

  1.   Seputar Talak
  2.   Jumlah Talak Suami Merdeka

Suami yang merdeka (bukan hamba sahaya) mempunyai hak tiga kali talak. Rasulullah saw pernah ditanya mengenai firman Allah SWT , “Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali,” (QS. al-Baqarah [2]: 229). Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan talak yang ketiga?” Beliau menjawab, “Atau melepaskan dengan baik,” (HR. Abu Dawud, Ibnu al-Qathan menshahihkan hadíts ini).

  1.   Menalak dalam Kondisi Sakit Parah Menjelang Kematian

Talak yang dijatuhkan orang yang sedang sakit parah menjelang wafat, baik talak ba’in maupun raj’i, tetap sah, seperti halnya dalam kondisi sehat. Keduanya (suami yang sakit dan istrinya) masih saling mewarisi dalam masa ‘iddah talak raj’i, berdasarkan ijma’, sebab ikatan pernikahan masih tersisa. Namun menurut al-madzhab, keduanya tidak bisa saling mewarisi dalam waktu ‘iddah akibat talak ba’in, mengingat sisa ikatan pernikahan telah habis.

  1.   Niat Menentukan Jumlah Talak

Jumlah talak ditentukan oleh niat saat menyatakan talak dan sebab faktor lain. Seandainya seorang suami berkata kepada istrinya, meskipun istrinya sedang tidur atau sedang tidak sadar (sakit jiwa), “Aku menalakmü,” atau “Kamu orang yang ditalak,” atau kalimat talak lainnya yang jelas, walaupun tidak menggunakan kata ganti orang kedua, seperti “wanita ini ditalak” dan meniatkan bilangan tertentu, maka jatuhlah jumlah talak yang diniatkan, baik keduanya sudah pernah melakukan hubungan intim maupun belum. Sebab, redaksi tersebut dianggap sudah memuat makna bilangan.

Begitu juga dalam kasus talak kinayah, bilangan talak yang diniatkan suami bisa jatuh. Misalnya, “Kamu orang yang ditalak ba’in” sebab makna bilangan tersebut dianggap sudah termuat dalam kalimat tersebut.

Jika suami itu berniat menjatuhkan satu talak, atau dia tidak berniat apa pun maka jatuhlah talak satu, mengingat kata-kata yang diucapkannya itu meyakinkan.

Seandainya suami itu berkata, “Kamu ditalak satu,” dan dia meniatkan beberapa bilangan (satu atau dua), jatuhlah satu talak. Sebab pernyataan tersebut mengurangi bilangan yang diniatkan, dan lafazh pernyataan itu lebih kuat. Jadi, mengacu pada kata-kata pernyataan itu lebih utama.

Apabila suami berkata, “Kamu yang pertama,” dan meniatkan bilangan, maka jatuhlah jumlah talak yang diniatkan. Hal ini diarahkan pada kesatuan kata-kata suami dengan jumlah talak yang diniatkan, sebab lebih dekat pada lafazh talak.

Jika suami mengatakan, “Kamu orang yang ditalak tiga,” lalu istrinya meninggal dunia, masuk Islam, murtad sebelum berhubungan intim dengannya, atau ada seseorang yang membungkam mulutnya sebelum selesai kalimat “orang yang ditalak” maka talaknya tidak jatuh. Sebab si istri telah keluar dari objek talak sebelum pernyataan itu sempurna. Namun, jika suami itu sudah mengucapkan kalimat “orang yang ditalak…,” sementara kata “tiga”-nya belum terucap maka jatuhlah talak tiga, karena dia telah menyengaja talak tiga saat berkata, “Kamu orang yang ditalak.” Lafazh talak juga telah sempurna dikatakan dalam detik-detik terakhir hidupnya, atau sebelum keislaman istri, atau sebelum dia murtad, atau sebelum rujuk pada masa ‘iddah.

  1.   Talak Tiga

Apabila seorang suami mengulang-ulang kalimat “kamu orang yang ditalak” berkali-kali dengan sela pemisah antara kalimat, maka jatuhlah talak tiga, bahkan meskipun tidak disela pemisah. Namun, jika dia bermaksud menegaskan kalimat pertama dengan dua kalimat berikutnya, jatuhlah satu talak, mengingat penegasan dikenal dalam bahasa apa pun dan juga digunakan oleh syara’.

Namun, jika dalam jeda antara kalimat itu suami bermaksud memulai awal kalimat baru (isti’naf) maka jatuhlah talak tiga. Sebab redaksinya sudah jelas, sedangkan penegasan mesti dibarengi niat. Demikian juga, jika dia memutlakkan kalimat tersebut, dalam arti tidak bermaksud menegaskan tetapi tidak pula memulai kalimat baru, menurut pendapat yang azhar, jatuhlah talak tiga, sesuai pesan tekstual kalimat.

Apabila kalimat yang kedua dimaksudkan sebagai penegas kalimat pertama, dan kalimat ketiga sebagai awal kalimat baru, atau sebaliknya, kalimat kedua sebagai awal kalimat baru, dan kalimat ketiga sebagai penegas kalimat kedua, maka jatuhlah dua talak, sesuai maksud yang dikehendaki.

Jika kalimat ketiga dimaksudkan sebagai penegas kalimat pertama, dan kalimat kedua sebagai awal kalimat baru, menurut pendapat yang ashah, jatuhlah talak tiga, sebab terdapat pemisah antara kalimat yang menegaskan dan kalimat yang ditegaskan. Penegasan seperti ini tidak sah.

Apabila seorang suami berkata, “Kamu orang yang ditalak, orang yang ditalak, orang yang ditalak,” maka sah menegaskan kata kedua dengan kata ketiga, sebab bentuk keduanya sama. Namun tidak boleh menegaskan kalimat pertama dengan kata kedua dengan kata penghubung, karena penghubung menuntut perbedaan.

Apabila dia mengatakan, “Kamu orang yang ditalak tiga,” dengan satu kata maka jatuhlah talak tiga. Bahkan, ketentuan ini diriwayatkan secara jelas dalam sunnah (dalam lima belas hadits) dan atsar yang dijadikan pegangan oleh empat madzhab.

Beberapa contoh kasus ini berkaitan dengan istri yang telah digauli dan bukan penuntut khulu’. Jika suami mengucapkan tiga kalimat tersebut (kamu orang yang ditalak tiga) kepada istri yang belum digauli maka jatuhlah satu talak untuk setiap kalimat, sebab ia telah ditalak ba’in dengan kalimat pertama. Jadi, kalimat sesudahnya tidak berpengaruh.

Jika suami berkata kepada istri yang belum disetubuhi, “Jika kamu masuk rumah (misalnya) maka kamu orang yang ditalak dan orang yang ditalak” lalu istrinya masuk rumah, menurut pendapat yang ashah, jatuhlah dua talak. Sebab keduanya berkaitan dengan perbuatan masuk rumah, tidak ada keruntutan antara keduanya. Keduanya terjadi secara bersamaan.

Apabila dia menggunakan kata penghubung “kemudian” atau kata penghubung lain yang menunjukkan makna berurutan maka jika istrinya masuk rumah, jatuhlah talak satu. Sebab kata penghubung “kemudian” menunjukkan makna berurutan.

  1.   Redaksi Talak dengan Kata Penghubung, Kata Depan, atau Kata Keterangan

Apabila seorang suami berkata kepada istrinya yang sudah disetubuhi (ataupun belum), “Kamu orang yang ditalak, satu talak berikut satu talak,” maka jatuhlah talak dua, sebab penerimaan objek talak.

Seandainya dia berkata, “…satu talak sebelum satu talak,” atau “…satu talak setelahnya satu talak” atau “… sebelumnya satu talak,” maka jatuhlah talak dua bagi istri yang telah digauli, sebab adanya urutan, dan talak satu bagi istri yang belum digauli, sebab dia tertalak ba’in dengan satu kata yang pertama. Jadi kata kedua sudah tidak dalam ikatan pernikahan.

Jika suami itu berkata, “…satu talak dalam satu talak,” dan dia bermaksud menggunakan kata “berikut” maka jatuhlah dua talak. Atau dia menghendaki kata keterangan, bilangan, atau memutlakkan dengan tidak menghendaki apa pun, maka jatuhlah talak satu sebagai konsekuensi kata keterangan dan bilangan tersebut. Dan itu terwujud dalam pemutlakan maksud. Apabila dia berkata, “…setengah talak dalam setengah talak,” maka jatuhlah talak satu dalam setiap kondisi. Jika dia berkata, “… satu talak dalam dua talak,” dan dia menghendaki kata “bersama” maka jatuhlah tiga talak. Namun, bila dia memasukkan kata itu sebagai keterangan, maka jatuhlah talak satu; atau bilangan (hitungan perkalían) dan mengetahuinya, jatuhlah talak dua. Demikian juga, jika dia tidak mengetahui dan hanya memaksudkan maknanya maka jatuhlah satu talak. Termasuk juga, jika dia tidak berniat apa pun maka pula jatuh talak satu.

Apabila suami berkata, “Kamu orang yang ditalak dengan sebagian talak,” berarti istrinya ditalak satu. Sebab talak tidak bisa dibagi atau dipecah-pecah.

Seandainya dia berkata, “Kamu orang yang ditalak separuh dan separuh talak,” maka jatuhlah talak satu. Sebab itu adalah talak satu, kecuali jika dia menghendaki setiap separuh sebagai talak satu maka jatuhlah dua talak sesuai maksudnya itu.

Pendapat yang ashah menyebutkan bahwa pernyataan suami “separuh dua talak dari talak satu,” “tiga separuh dari talak satu,” atau “separuh talak satu dan seperti talak satu” maka jatuhlah talak dua.

Seandainya suami mengátakan, “Separuh dari sepertiga talak,” jatuhlah talak satu, sebab tidak ada pengulangan kata talak.

  1.   Talak Terhadap Empat Istri

Apabila seorang suami berkata kepada empat istrinya, “Aku jatuhkan kepada kalian atau di antara kalian sekali talak, atau dua kali talak, atau tiga kali, atau empat kali talak,” maka jatuhlah pada setiap istrinya satu kali talak. Namun, jika dia bermaksud membagikan setiap satu talak kepada mereka, jatuhlah dua talak untuk istri kedua dan istri ketiga, sedang untuk istri keempat jatuh talak tiga. Jika dia menjelaskan bahwa maksud kalimat “di antara kalian” adalah “sebagian” maka menurut pendapat yang ashah, pernyataannya itu tidak dapat diterima secara zhahir. Sebab, secara tekstual pernyataannya tersebut merujuk pada keseluruhan istri. Namun ni’atnya tetap dijadikan acuan atas dasar agama.

Jika seorang suami menalak salah satu istrinya, lalu berkata kepada istrinya yang lain, “Aku mengikutsertakan dirimu bersamanya,” atau “Aku menjadikanmu sekutunya,” atau “Kamu juga seperti dia,” bila dia  Meniatkan pernyataan ini sebagai talak munjiz, maka jatuhlah talaknya. Namun, jika dia tidak meniatkan, istrinya tidak tertalak sebab kalimat itu memungkinkan adanya makna selain talak.

Demikian halnya jika seorang suami menalak istrinya, lalu laki-laki lain meniru ucapan talak tersebut dan ditujukan kepada istrinya sendiri, maka bila dia niat menalaknya, jatuhlah talaknya. Namun, jika dia tidak berniat, talaknya tidak jatuh, sebab hal itu sama dengan talak kinayah (talak dengan kalimat yang samar).

  1.   Pengecualian (Istitsna’) dalam Talak

Pengecualian dalam talak dapat disahkan dengan tiga syarat. Pertama, ucapan talak bersambung. Berhenti sebentar saat mengucapkan talak dengan pengecualian untuk menarik napas atau kelelahan tidak masalah. Kedua, niat mengecualikan sebelum selesai sumpah. Demikian menurut pendapat yang ashah. Ketiga, pengecualian tersebut tidak menghabiskan jumlah talak yang disebutkan dalam objek yang dikecualikan (mustatsna minhu). Pengecualian yang menghabiskan mustatsna minhu hukumnya batal berdasarkan ijma’. Jika seorang suami berkata, “Kamu orang yang ditalak tiga, kecuali tiga,” pengecualiannya tidak sah, dan jatuhlah talak tiga.

Apabila suami berkata, “Kamu orang yang ditalak tiga kecuali dua dan satu,” maka jatuhlah talak satu. Bilangan yang menghabiskan tidak berkonsekuensi hukum, yaitu “satu” yang di-athaf-kan (dihubungkan) pada “dua.” Sebab, dengan menjumlahkan dua bilangan terakhir akan menghasilkan penghabisan.

Makna pengecualian dari kalimat yang negatif berarti positif. Sebaliknya pengecualian dari kalimat yang positif berarti negatif.

Apabila seseorang berkata, “Kamu orang yang ditalak tiga, kecuali dua, kecuali talak satu,” maka jatuh talak dua, sebab pengecualian kedua merupakan pengecualian dari yang pertama. Jadi, sebenarnya pengecualiannya adalah talak satu.

Jika seorang suami berkata, “Kamu orang yang ditalak tiga kecuali tiga, kecuali dua,” maka jatuhlah talak dua. Alasannya telah disebutkan di depan.

Apabila dia berkata, “Kamu orang yang ditalak tiga kecuali separuh talak,” menurut pendapat yang shahih, jatuh talak tiga, sebab talak tidak bisa dibagi-bagi.

Jika seorang suami berkata, “Kamu orang yang ditalak, jika Allah menghendaki menalakmu,” atau “…jika Allah SWT tidak menghendaki menalakmu,” dibarengi dengan niat taklik (menggantungkan niat talak), maka talaknya tidak jatuh. Sebab ada maupun tiadanya kehendak Allah tidak bisa diketahui. Demikian juga taklik dengan kehendak ilahi bisa menghalangi keabsahan niat dalam wudhu, shalat, puasa, dan ibadah lainnya seperti sumpah, nadzar, dan seluruh bentuk transaksi.

Jika seorang pria berkata, “Hai orang yang ditalak,” menurut pendapat yang ashah, jatuh talak satu dengan mempertimbangkan bentuk panggilan yang mengisyaratkan tercapainya talak saat itu juga. Sesuatu yang telah terjadi tidak bisa ditaklik, berbeda dengan kalimat “Insya Allah kamu orang yang akan ditalak”:

Apabila seorang suami berkata, “Kamu orang yang ditalak, kecuali jika Allah SWT menghendaki,” menurut pendapat yang ashah, talaknya tidak jatuh. Sebab makna “kecuali jika Allah menghendaki” tidak mengindikasikan adanya talak. Jadi, tidak berkonsekuensi apa pun, mengingat kehendak Allah  tidak menjadi pertimbangan dalam menentukan hukum.

  1.   Keraguan dalam Talak

Keraguan dalam talak ada tiga macam, ragú terhadap inti talak (jatuhnya talak), ragú terhadap bilangan talak, dan ragú terhadap objek talak (misalnya, orang yang menalak wanita tertentu kemudian lupa).

Pertama, keraguan terhadap inti talak (jatuhnya talak) itu seperti orang yang ragú apakah dia telah menyatakan talak, atau ragu terhadap faktor yang ditaklik. Misalnya pernyataan “jika burung ini terbang maka kamu orang yang ditalak”, lalu dia ragú, apakah burung tersebut terbang atau tidak; maka tidak bisa divonis talak, sebab hukum asalnya adalah tidak adanya talak dan tetapnya pernikahan.

Kedua, keraguan terhadap bilangan talak, apakah dia telah menalak satu atau lebih. Dalam hal ini, bilangan talak terkecillah yang diambil.

Jelas, dalam dua kasus tersebut kita mesti mempertimbangkan akibat terburuk, berdasarkan hadits, “Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu menuju sesuatu yang tidak meragukanmu,” (HR. at-Tirmidzi, dia menshahihkan).

Pada kasus pertama, si suami boleh melakukan rujuk, jika dia menalak raj’i. Apabila bukan talak raj’i, dia harus memperbarui akad nikah, kalau masih mencintai istrinya. Jika tidak demikian, istrinya harus ditalak agar halal bagi pria lain secara meyakinkan. Sedangkan pada kasus kedua, suami ragu apakah dia menalak tiga atau dua, maka dia tidak boleh menikahi istrinya kembali sebelum dia dinikahi oleh pria lain.

Apabila terjadi talak yang dilakukan oleh dua pria dengan tema yang sama, misalnya mereka menaklik talak dengan dua kondisi yang bertentangan; pria pertama berkata, “Jika burung ini terbang (misalnya) maka kamu orang yang ditalak,” dan pria yang lain berkata, “Jika burung ini tidak terbang maka istriku adalah wanita yang ditalak,” sedangkan keadaan burung itu tidak diketahui, maka tidak satu pun dari keduanya bisa ditetapkan talaknya.

Namun, jika seorang pria menyatakan dua pernyataan di atas kepada kedua istrinya maka salah satunya tertalak, meski tanpa ditentukan orangnya. Dia wajib mencermati dan mengamati hingga posisi burung tersebut jelas, untuk mengetahui siapa yang tertalak. Jika burung itu terbang dan si pria tidak mengetahui kondisinya, dia tidak diharuskan mengamati dan mencermati.

Ketiga, keraguan terhadap objek talak, misalnya seorang suami menalak salah seorang istrinya tanpa menentukan orangnya. Si suami menyatakan talaknya pada salah satu istrinya atau meniatkan hal itu, dengan pernyataan “seorang dari kalian adalah wanita yang ditalak” kemudian dia tidak mengetahuinya sebab lupa atau sebab yang lain, dia wajib menghentikan keintiman dengan kedua istrinya tersebut hingga ingat siapa istrinya yang ditalak, dengan memberitahukan istri yang ditalak. Si suami tidak dituntut untuk menjelaskan siapa yang ditalak, jika kedua istrinya membenarkan ketidaktahuannya, sebab kebenaran ada pada mereka berdua. Jika keduanya berdusta pada suaminya dan salah satunya berkata, “Akulah orang yang ditalak,” maka pernyataan suami “aku lupa” atau “aku tidak tahu” tidak cukup dan dituntut untuk bersumpah bahwa dia benar-benar belum menalaknya. Jika dia menolak, istrinyalah yang disumpah, untuk kemudian diputuskan talaknya. Ketentuan ini berlaku dalam kasus talak ba’in dan talak raj’i yang telah habis masa ‘iddahnya.

Apabila seorang suami berkata kepada istrinya dan wanita lain, “Salah seorang dari kalian berdua orang yang ditalak,” dan berkata, “Aku bermaksud menalak wanita lain itu,” menurut pendapat yang ashah pernyataan dapat diterima di bawah sumpah.

Apabila dia berkata kepada istrinya, “Zainab orang yang ditalak,” kemudian berkata, “Maksudku, wanita lain yang bernama Zainab,” menurut pendapat yang shahih, pernyataan ini jelas tidak bisa diterima, sebab berlawanan dengan makna zhahir. Konsekuensinya, berlakulah ketentuan agama yang telah ditetapkan antara dia dan Allah SWT (maksudnya, jatuhlah talaknya).

Apabila seorang suami berkata kepada dua istrinya, “Salah seorang dari kalian orang yang ditalak,” dan ini ditujukan pada satu istri tertentu maka dia tertalak. Sebab, redaksi ini pantas ditujukan kepada keduanya. Pria itu wajib menjelaskan istri yang dimaksud. Jika tidak ditujukan pada orang tertentu dari keduanya, justru memutlakkan pernyataan tersebut, maka dia wajib menjelaskan -atas tuntutan kedua istrinya- siapa yang ditalak. Mereka harus dipisahkan dari si suami sampai ada kejelasan dari suami. Selain wajib untuk segera menjelaskan si suami juga wajib menafkahi mereka dalam kondisi tersebut. Talak jatuh pada istri yang dimaksud, meski secara samar. Dan seorang istri pada dasarnya dapat dicerai secara samar (kinayah) dengan kalimat yang bersumber dari suami secara meyakinkan.

Jika suami itu saat dituntut untuk menjelaskan berkata sambil berniat dan menunjuk pada salah satu istrinya, “Inilah dia wanita yang ditalak,” maka ini merupakan penjelas baginya.

Jika día berkata sambil memberi isyarat pada masing-masing istrinya “aku menghendaki yang ini dan yang ini” atau “ini tapi juga ini” maka keduanya tertalak.

Jika kedua istri itu, atau salah satunya, meninggal dunia sebelum ada penjelasan, penentuannya masih samar, dan jenis talaknya adalah talak ba’in maka si suami masih dituntut untuk memberikan penjelasan, demi masalah waris nantinya.

Apabila si suami yang meninggal dunia, menurut pendapat yang azhar, penjelasan ahli warisnya dapat diterima, bukan penentuannya. Sebab, penjelasan hanya sekadar informasi, sedangkan penentuan itu didasari oleh cinta atau syahwat. Ahli waris tidak boleh menentang orang yang mewarisi.

  1. Hukum Talak

Talak mempunyai empat jenis hukum, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Talak yang wajib ada dalam dua kasus. Kasus pertama, adanya pertengkaran hebat di antara suami istri dan masing-masing sudah mengangkat juru damai, lalu kedua juru damai itu menyarankan talak. Kasus kedua, suami bersumpah ila’ terhadap istrinya dan tidak mau kembali kepadanya.

Sedangkan talak yang sunnah ada dalam dua kasus berikut. Kasus pertama, suami memotong hak istrinya dalam berumah tangga atau hal lainnya. Allah SWT berfirman, “Maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik,” (QS. ath-Thalaq [65]: 2). Sebab dalam kasus ini, jika si suami tidak menalak istrinya, tidak bisa diprediksi apakah pernikahan itu berakhir pada perpecahan atau kekerasan nantinya.

Kasus kedua, istri tidak bisa menjaga kehormatannya, maka suami sunnah menalaknya. Pernah seorang pria menemui Nabi saw dan berkata, “Istriku tidak menolak sentuhan pria lain.” Nabi menjawab, “Talaklah día.” Alasannya, melanjutkan pernikahan dengan wanita seperti ini akan mengancam hubungan berumah tangga, bahkan tidak mustahil si suami akan memperoleh keturunan bukan dari darah dagingnya. Selain itu, suami juga sunah menalak istri yang kepribadiannya tidak lurus, misalnya berperilaku buruk.

Berikutnya talak yang haram, yaitu talak bid’ah. Talak ini terdapat dalam dua kasus.

Kasus pertama, menalak istri yang sudah digauli, dan talak itu dijatuhkan saat haid, bukan sedang hamil.

Kasus kedua, menalak istri yang mungkin sedang hamil dalam masa suci, yang disetubuhinya sebelum dia meminta penjelasan kondisi sebenarnya. Hal ini berdasarkan dalil hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa dia pernah menalak istrinya yang sedang haid. Lalu Rasulullah saw memerintahnya untuk rujuk dan menahannya hingga suci, haid sekali lagi, dan menahannya hingga suci dari haid. Jika dia hendak menalaknya, talaklah saat dia suci sebelum menyetubuhinya. Demikianlah ‘iddah yang diperintahkan Allah SWT  yang harus dijalani oleh wanita.

Jika si istri ditalak saat haid, dia akan mengalami kepayahan berupa lamanya masa ‘iddah. Jika si suami menalaknya saat suci di mana dia berhubungan intim dengannya sebelum hamil -suami belum percaya dia sedang hamil- maka dia meniadakan perpisahan istri berikut anaknya.

Adapun talak pada masa haid terhadap istri yang belum disetubuhi bukan termasuk talak bid’ah, karena tidak mengakibatkan masa ‘iddah yang lama.

Terakhir, talak makruh, yaitu talak yang tidak sesuai sunah tetapi juga tidak termasuk bid’ah, seperti menalak istri yang berkepribadian normal. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muharib bin Ditsar RA, bahwa Nabi saw bersabda, “Perbuatan halal yang paling dimurkai Allah adalah talak.

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. la tidak akan pernah bisa lurus oleh pukulan. Jika kamu merasa senang dengannya, ia pun merasa senang; dan ia selalu dalam kondisi bengkok. Jika kamu meluruskannya, kamu pasti mematahkannya. Patahnya tulang rusuk adalah dengan talak,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Talak mubah adalah talak seorang suami yang tidak bergairah lagi kepada istrinya. Día tidak menoleransi lagi harga diri istrinya, tanpa merenggut kenikmatannya.

  •   Jumlah Talak yang Dianjurkan

Ketika seorang suami hendak menalak, dianjurkan menjatuhkan talak satu. Ini memungkinkan dia menambah talak. Jika hendak menalak tiga, talaklah si istri pada setiap masa suci, agar keluar dari perselisihan para ulama, mengingat Abu Hanifah ra tidak memperbolehkan talak tiga sekaligus. Talak secara bertahap ini mencegáh penyesalan di kemudian hari. Suami boleh menalak istrinya sekaligus dalam satu masa suci berdasarkan hadits Uwaimir al-ljlani, dia berkata di hadapan Rasulullah saw saat meli’an istrinya, “Aku berdusta padanya jika aku menahannya. Dia orang yang ditalak tiga.” Nabi saw bersabda, “Tiada jalan lagi bagimu untuknya,” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Maksudnya, tidak ada cara bagimu untuk menalaknya. Dia haram bagimu sebab li’an.

Seandainya menghimpun talak tiga itu diharamkan, pasti aku mengingkarinya.

Jika seorang suami menghimpun talak tiga atau lebih dengan satu kata maka jatuhlah talak tiga. Asy-Syafi’i meriwayatkan bahwa Rukanah bin Abdu Yazid telah menalak tiga istrinya, Suhainah. Kemudian dia menemui Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah menalak tiga istriku, Suhainah. Demi Allah, tiada lain aku hanya bermaksud menjatuhkan satu talak.” Nabi saw balik bertanya, “Demi Allah, tidak lain kamu bermaksud menjatuhkan talak satu?” Rukanah menjawab, “Demi Allah, aku tidak bermaksud melainkan hanya satu talak.” Akhirnya, Rasulullah saw mengembalikan Suhainah pada Rukanah. Seandainya tidak jatuh talak tiga ketika dia menghendakinya dengan redaksi ini, tentu sangkalan Rukanah tidak berguna.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Utsman RA, “Aku menalak istriku seratus kali.” Dia menimpali, “Yang tiga mengharamkanmu dari dia, sedang yang sembilan puluh tujuh adalah permusuhan.” Yakni, kezhaliman.

Ibnu Abbas pernah ditanya perihal laki-laki yang menalak istrinya seribu kali. Dia menjawab, “Tiga diantaranya mengharamkan dia, dan sisanya menjadi dosa yang ditanggungnya.”

  1. Macam-Macam Talak

Talak bermacam-macam; yang terpopuler ada empat, yaitu: (1) talak sharih dan kinayah, (2) talak sunni dan bid’i, (3) talak munjiz dan mu’allaq, (4) serta talak raj’i dan ba’in.

  1.   Talak Sharih dan Kinayah

Penjelasan talak jenis ini telah disinggung dalam pembahasan tentang shighat dan redaksi talak di depan. Kita ketahui, talak sharih adalah perceraian yang menggunakan kata “talak”, “firaq” maupun “sirah” dan ini sah baik disertai niat maupun tidak. Adapun talak kinayah adalah perceraian yang menggunakan selain tiga kata ini, yang memuat makna talak dan sejenisnya. Contohnya “kamu dikosongkan”, “kamu bebas”, “kamu ba’in”, “kamu battah (sama sekali bebas)”, “kamu batlah (membujang)”, “kamu haram”, dst. Talak ini tidak sah kecuali disertai dengan niat talak.

  1.   Talak Sunni dan Bid’i

Talak ini mempunyai tiga macam (dua telah disebutkan di depan, sunni dan bid’i). Jenis yang ketiga adalah talak bukan sunni bukan pula bid’i. Yaitu talak terhadap istri yang masih kecil, istri yang telah menopause, istri yang mengajukan khulu’, istri yang sedang hamil atau wanita yang jelas-jelas mengandung olehnya, dan talak terhadap wanita yang belum digauli. Talak jenis ini tidak disunnahkan dan tidak pula bid’ah.

Talak sunni sendiri adalah menceraikan istri yang dalam keadaan suci dan belum disetubuhi selama masa itu, tapi dia sudah digauli sebelumnya dan tidak dalam kondisi hamil.

Adapun talak bid’i yang diharamkan adalah, kasus pertama, suami menceraikan istri yang sedang haid tanpa kompensasi untuk menebus dirinya. Talak semacam ini diharamkan sebab memperlama masa ‘iddah istri.

Apabila dia memberikan kompensasi dan si istri ridha dengan lamanya ‘iddah maka keharamannya hilang. Kasus kedua, suami menceraikan istri dalam masa suci dan selama masa itu terjadi hubungan intim, atau pada masa haid sebelumnya. Praktik talak seperti ini bisa menimbulkan penyesalan jika ternyata si istri hamil.

Ketika seorang suami melakukan talak bid’i, disunahkan baginya untuk rujuk selama dia belum menghabískan jumlah talak (talak tiga), guna meneladani hadits Ibnu Umar di depan dan firman Allah SWT, “Hendaklah kalian ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya (yang wajar),” (QS. ath-Thaláq (65): 1).

Dengan kata lain, talak sunni adalah perceraian yang tidak diharamkan; sedangkan talak bid’i sebaliknya, yakni perceraian yang diharamkan. Wanita dalam kondisi talak ada dua macam. Pertama, wanita yang talaknya dikenai hukum sunnah dan bid’ah, yaitu wanita yang sedang haid. Kedua, wanita yang talaknya tidak dikenai hukum sunah maupun hukum bid’ah. Wanita yang disebutkan terakhir ini ada empat: 1) wanita yang masih berusia dini, 2) wanita yang sudah memasuki usia menopause, 3) wanita hamil, 4) wanita yang dikhulu’ dan belum disetubuhi oleh suami.

Talak bid’i juga haram hukumnya bagi wanita yang sedang haid, di mana dia telah disetubuhi (meski secara anal), atau bagi wanita yang memasukkan sperma suaminya yang dimuliakan (sebab pernikahan). Demikian menurut ijma’ ulama. Akan tetapi, boleh mengkhulu’ wanita dalam kondisi haid atau nifas, berdasarkan makna global firman Allah SWT, “maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh isteri) untuk menebus dirinya,” (QS. al-Baqarah [2]: 229). Juga karena kebutuhan dia pada kebebasan lewat perceraian dengan memberikan harta untuk menebus dirinya. Seperti telah disinggung di depan, praktik talak seperti ini bukan termasuk talak sunni tidak pula bid’i. Menurut pendapat yang ashah, orang lain (seperti qadhi atau hakim) tidak boleh memutuskan khulu’ terhadap wanita yang sedang haid atau nifas, sebab dia tidak mengetahui adanya kebutuhan si wanita akan kebebasan melalui perceraian.

Apabila suami berkata kepada istrinya, “Kamu orang yang ditalak bersama atau pada akhir masa haidmu,” maka ini talak sunni. Sebab, dia menjalani ‘iddah pada permulaan masa suci yang mengiringi masa haid. Adapun jika dia berkata, “…berikut akhir masa suci yang kita tidak berhubungan intim di dalamnya,” maka ini termasuk talak bid’i menurut al-madzhab. Sebab, pernyataan ini menyebabkan lamanya masa ‘iddah.

Talak bid’i, kasus kedua, yakni perceraian pada masa suci dan dalam masa itu suami pernah menyetubuhi istrinya yang sedang hamil, sebab si istri bukan anak kecil atau wanita menopause, baik hubungan intim itu lewat kemaluan maupun dubur. Demikian menurut pendapat yang ashah, meskipun saat itu dia tidak hamil. Saat itu memang dia tampak tidak hamil. Sebab, kadang suami menyesal jika ternyata istri yang ditalak sedang hamil.

Apabila seorang suami menyetubuhi istrinya dalam kondisi haid, kemudian di saat suci dia menalaknya, ini juga termasuk talak bid’i. Demikian menurut pendapat yang ashah. Sebab, ini memungkinkan kehamilan. Akan tetapi, suami halal mengkhulu’ si istri agar mendapat kompensasi. Suami juga halal menalak istri yang jelas-jelas sedang hamil, sebab dengan adanya kehamilan, kemungkinan penyesalan akan sirna.

Suami yang melakukan talak bid’i disunahkan melakukan rujuk sebelum masuk masa suci. Kemudian setelah rujuk, jika mau, dia boleh menalaknya setelah sempurna masa suci. Hal ini berdasarkan hadits Shahihain di depan, bahwa Ibnu Umar menalak istrinya yang sedang haid. Kemudian kejadian itu dilaporkan kepada Nabi saw  Beliau bersabda, “Perintahkan, kepadanya untuk rujuk dengan istrinya, kemudian menalaknya dalam kondisi suci.” Artinya, jika dia tetap ingin menalaknya hendaknya itu dilakukan saat si wanita dalam keadaan suci, sebelum dia menyetubuhinya.

Seandainya suami berkata kepada istrinya yang sedang haid, “Kamu wanita yang ditalak karena bid’ah,” maka talaknya jatuh ketika itu juga; atau “karena sunnah” maka dia tertalak saat masuk masa suci. Atau suami berkata kepada istri pada masa suci yang belum disetubuhi saat itu, “Kamu orang yang ditalak karena sunnah,” maka talaknya jatuh ketika itu juga. Namun, jika istrinya pernah disetubuhi pada masa suci, talaknya jatuh pada masa suci setelah haid.

Apabila seorang suami berkata kepada istrinya pada masa suci, “Kamu orang yang ditalak karena bid’ah,” maka seketika itu juga talaknya jatuh, jika dia pernah disetubuhi pada saat suci itu, atau pada masa haid sebelumnya dan belum hamil, sebab adanya penyifatan bid’ah. Seandainya si istri belum disetubuhi pada masa suci itu, meskipun pada masa haid sebelumnya dia pernah disetubuhi, maka talaknya jatuh saat dia haid.

Jika suami berkata kepada istrinya, “Kamu orang yang ditalak dengan talak yang baik,” atau “talak yang paling baik”, “talak yang paling utama”, “talak yang paling adil”, “talak paling sempurna”, atau “talak paling indah”, dan sebagainya, hukumnya sama seperti pernyataan suami “kamu orang yang ditalak karena sunnah”. Jelasnya, jika pernyataan itu diucapkan ketika istri haid maka talaknya tidak jatuh hingga masuk masa suci; atau diucapkan saat istri suci tapi belum disetubuhi, talaknya jatuh seketika itu juga; dan jika telah disetubuhi, talaknya jatuh pada masa suci setelah haid.

Apabila suami berkata, “Kamu orang yang ditalak dengan talak yang buruk” atau “talak yang paling buruk”, atau “talak yang paling jelek”, “talak yang paling buruk”, “talak yang paling kotor”, dan lain sebagainya, maka hukumnya seperti pernyataan “kamu orang yang ditalak karena bid’ah”. Jelasnya, jika pernyataan itu diucapkan pada istri yang sedang haid atau dalam masa suci, tapi belum disetubuhi pada masa tersebut, maka talaknya jatuh seketika itu juga. Jika tidak demikian, talak jatuh pada saat dia haid.

Jika suami itu menjatuhkan talak dengan menghimpun kata sifat “terpuji” maupun “tercela”, dan dia tidak berniat apa pun, seperti ucapan, “kamu orang yang ditalak sunni dan bid’i” atau “ditalak baik dan jelek”, sedangkan si istri dalam kondisi suci, atau dengan ucapan “kamu orang yang ditalak bukan karena sunah bukan pula bid’ah” maka talaknya jatuh seketika itu juga. Dua kata sifat tersebut tidak membawa kensekuensi apa pun, sebab saling bertolak belakang.

Talak bid’i, kasus ketiga, yakni seorang pria mempunyai dua orang istri dan menggilir salah satunya, kemudian dia menalak salah satunya sebelum menginap di rumah istri yang mendapat giliran. Perceraian seperti ini juga dinamakan talak bid’i.

Apabila seseorang menikahi wanita hamil karena zina, dan dia berhubungan intim, kemudian menalaknya, terdapat beberapa pendapat. Jika sebelum haid, talak bid’i. Karena tidak disyariatkan dalam ‘iddah, kecuali setelah hubungan intim dan nifas, jika haid. Apabila dalam keadaan suci yaitu talak sunni, atau ketika haid yaitu talak bid’i.

Demikian halnya wanita yang disetubuhi secara syubhat hingga hamil kemudian ditalak dalam kondisi suci. Ini juga termasuk talak bid’i.

  •   Talak Tiga dengan Satu Kata

Apabila seorang suami berkata kepada istrinya, “Kamu orang yang ditalak tiga” atau “talak tiga sebab sunah” -maksud “tiga” dalam dua ilustrasi ini untuk memisahkan keduanya menurut masa suci- maka secara zhahir, pernyataannya tidak diterima, kecuali bagi orang yang meyakini haramnya berhubungan intim dengan istri yang diceraikan lebih dari talak satu. Menurut pendapat yang ashah, si suami telah menjalankan niatnya dengan suatu alasan agama antara dirinya dengan Allah SWT . Seperti halnya orang yang berkata, “Kamu orang yang ditalak” lalu menambah, “Maksudku, jika kamu masuk rumah” atau “Jika Zaid hendak menalakmu.”

Jika suami berkata, “Seluruh istriku orang-orang yang ditalak” atau berkata, “Setiap istriku orang yang ditalak” lalu menambah, “Maksudku, sebagian mereka” maka menurut pendapat yang Shahih pernyataan tidak bisa diterima secara zhahir,  kecuali dengan indikator (qarinah), misalnya si istri menentangnya dengan pernyataan, “Kamu harus tetap menikahiku,” dan suaminya membantah, “Setiap istriku orang yang ditalak” atau “Seluruh istriku orang yang ditalak” lalu menambahkan, “Maksudku, selain istri yang menentangku” maka dalam kasus ini, pernyataan suami diterima sebab terdapat indikator atas kebenarannya.

  1.   Talak Munjiz dan Mua’llaq

Talak munjiz adalah perceraian yang konsekuensi hukumnya langsung berlaku saat itu juga; sedangkan talak mua’llaq adalah perceraian yang disandarkan pada terjadinya sesuatu yang dipersyaratkan, baik itu berupa sebuah syarat, sifat, waktu, maupun tempat.

Talak munjiz merupakan hukum asal yang berlaku umum dalam masalah talak dan aturan lainnya. la tidak berisi permasalahan yang pelik, dan bisa langsung jatuh segera, tanpa ada penundaan. Beda halnya dengan talak mu’allaq yang membutuhkan penjelasan ihwal pernyataan talak tersebut untuk mengetahui hukum keabsahannya. Kita boleh menaklik talak dengan sejumlah persyaratan seperti sifat, waktu, serta tempat, atau dengan sifat sekaligus syarat.

Jika seorang pria menaklik talak dengan syarat tertentu dan syarat itu dipenuhi maka istrinya tertalak. Misalnya, jika dia berkata kepada istrinya, “Jika kamu haid, kamu orang yang ditalak,” maka jatuhlah talaknya hanya dengan telah terlihatnya darah haid. Jika istri berkata, “Aku sudah haid,” dan si suami tidak mempercayainya, maka pernyataan yang dimenangkan adalah pengakuan istri ditambah sumpah.

Apabila suami berkata, “Jika kamu haid maka madumu orang yang ditalak,” lalu istrinya berkata, “Aku telah haid,” namun si suami tidak mempercayainya, maka pernyataan yang dimenangkan adalah pengakuan suami. Madunya pun tidak ditalak, sebab dia tidak membenarkan hak yang lainnya.

jika suami berkata, “Jika kamu keluar tanpa seizinku maka kamu orang yang ditalak,” kemudian dia memberi izin keluar sekali, lalu istrinya keluar rumah maka tidak jatuh talak. Kemudian setelah itu istri kembali keluar tanpa seizin suami, dia juga tidak tertalak. Alasannya, kata “jika” tidak menuntut adanya pengulangan. Ketika suami memberikan izin kepada istrinya untuk pertama kali, hilanglah kekuatan sumpah untuk berikutnya.

Apabila suami berkata, “Setiap kali kamu keluar rumah tanpa seizinku, kamu orang yang ditalak,” maka setiap kali istrinya keluar rumah tanpa izin dia tertalak. Sebab kata “setiap kali” digunakan untuk arti pengulangan. Akibatnya, sumpah tidak dinafikan dengan hanya pemberian izin pertama kali.

Perlu diketahui, seluruh kata yang digunakan dalam redaksi taklik tidak menuntut pengulangan, kecuali kata “setiap kali”. Redaksi taklik juga tidak menuntut adanya pemenuhan dengan segera dalam struktur kalimat positif, kecuali kata “jika” bersama “tidak” atau “kamu menghendaki”, yang menuntut adanya pemenuhan secara segera. Seluruh kata ini dalam bentuk kalimat negatif berfungsi menyegerakan.

Apabila suami berkata, “Ketika talakku jatuh padamu, kamu orang yang ditalak tiga sebelumnya,” kemudian berkata, “Kamu orang yang ditalak,” maka talak munjiznya berlaku, sedang talak mu’allaqnya tidak. Sebab, jika talak yang kedua ini berlaku, otomatis tidak berlaku talak munjiz. Namun, ketika seorang istri telah ditalak ba’in, dia tidak bisa ditalak lagi. Ketika talak munjiz tidak diberlakukan talak, talak mu’allaq pun tidak berlaku, tentu akan meruntuhkan aturan talak. Hal ini sama dengan menentang syariat Islam. Karena itulah, para ulama’ memilih jatuhnya talak munjiz. Demikian pula jika suami berkata, “Jika aku menzhiharmu, atau mengila’ dirimu, atau meli’anmu, atau memfasakhmu sebab aib maka kamu orang yang ditalak tiga sebelumnya,” kemudian terjadilah apa yang disyaratkan, maka syaratnya sah, sedangkan taklik talaknya tidak berkonsekuensi hukum, sebab hal itu mustahil terjadi.

Apabila suami berkata, “Jika aku menggaulimu secara mubah maka kamu orang yang ditalak sebelumnya.” kemudian dia menyetubuhinya, talaknya jelas tidak jatuh. Sebab seandainya istrinya tertalak, hubungan intimnya tentu tidak boleh.

Orang yang menaklik talak dengan perbuatan sendiri seperti pernyataan, “Jika aku masuk rumah maka istriku orang yang ditalak” lalu dia melakukan sumpahnya -dia masuk rumah karena lupa atau dipaksa- talaknya tidak jatuh, sebab dia seperti tidak melakukan apa pun.

Apabila seorang suami menaklik talak dengan perbuatan orang lain, misalnya pernyataan, “Jika Zaid masuk rumah maka kamu orang yang ditalak” lalu Zaid masuk rumah -baik dia belum mengetahui perihal taklik tersebut ataupun sudah, baik ingat maupun lupa- dan suami tidak peduli dengan pelanggaran sumpah tersebut (maksudnya, dia tidak merasa sedih berpisah dengan istrinya dan sangat menginginkan terjadinya perceraian), maka dalam beberapa ilustrasi ini, si istri tertalak. Tetapi bila Zaid mengetahui taklik tersebut lalu dia masuk rumah karena lupa, dan si suami termasuk orang yang tidak peduli dengan pelanggaran sumpah tersebut maka istrinya tidak tertalak.

Jika seorang suami berkata, “Jika kamu masuk rumah maka kamu orang yang ditalak,” kemudian istrinya ditalak ba’in, baik dengan satu kali talak sebelum hubungan intim, atau setelah hubungan intim dengan membayar kompensasi, atau dengan tiga kali talak, setelah itu dia menikahinya kembali dengan akad yang baru, baru setelah itu si istri masuk rumah dalam pernikahan yang kedua tersebut maka dia tidak tertalak. Alasannya, pernikahan yang di dalamnya terdapat taklik talak telah batal dengan adanya perceraian.

  1.   Taklik (Menggantungkan) Talak dengan Waktu

Menurut pemahaman kami, ada sejumlah kasus dan bukti yang menyebutkan bahwa taklik talak dengan waktu bisa menjatuhkan talak, jika hal yang disyaratkan itu terjadi. Lebih detailnya adalah sebagai berikut.

  1.   Taklik Talak dengan Bulan

Seandainya seorang suami berkata kepada istrinya, “Kamu orang yang ditalak pada bulan ini, atau pada pertengahan bulan ini, atau permulaan bulan ini,” maka jatuhlah talak pada awal bulan, tepat di malam pertama, mengingat penyebutan taklik tersebut telah terwujud pada awal bulan.

Apabila suami berkata, “Kamu orang yang ditalak pada siang hari bulan ini, atau hari pertama bulan ini,” maka jatuhlah talak saat fajar hari tersebut terbit. Sebab secara bahasa, terbitnya fajar merupakan permulaan siang dan awal hari.

Jika suami berkata, “Kamu orang yang ditalak pada akhir bulan ini,” maka jatuhlah talak pada akhir bulan tersebut. Demikian menurut pendapat yang ashah.

  1.   Taklik Talak dengan Hari

Apabila seorang suami berkata pada malam hari, “Kamu orang yang ditalak jika hari telah berlalu,” maka istrinya tertalak begitu matahari terbenam, karena dengan demikian, berlalunya hari telah terjadi. Jika suami mengucapkan pernyataan itu pada siang hari, maka istrinya telah tertalak pada waktu yang sama esok hari nanti, mengingat hari adalah satu hakikat dalam seluruh bagiannya.

Apabila suami berkata, “Jika hari telah berlalu, kamu orang yang ditalak,” maka jika dia mengucapkan pernyataan itu pada siang hari, istrinya tertalak begitu matahari terbenam pada hari itu juga. Jika dia mengucapkannya pada malam hari, ini tidak berkonsekuensi hukum. Artinya, tidak terjadi apa pun, sebab dalam kasus ini tidak ada penaklikan dengan waktu siang, hingga waktunya disebutkan secara pasti.

Taklik dengan hari, sama halnya dengan hari, adalah bulan dan tahun. Jika seorang suami berkata pada selain akhir bulan, “Jika bulan telah berlalu maka kamu orang yang ditalak,” maka istrinya tertalak dengan berlalunya tiga puluh hari ditambah malam atau hari tangal 31 setelah pernyataan taklik talak.

  1.   Taklik Talak dengan Masa Lampau

Seandainya seorang suami berkata, “Kamu orang yang ditalak kemarin, atau bulan kemarin, atau tahun kemarin,” dengan maksud menjatuhkan talak saat itu juga maka menurut pendapat yang shahih talaknya jatuh. Sedangkan penyandaran pada waktu lampau tidak berkonsekuensi hukum apa pun, sebab itu mustahil.

Apabila suami tidak bermaksud menjatuhkan talak saat itu juga, tidak pula pada masa lampau, justru dia bermaksud menginformasikan talak, bahwa dalam perkawinan ini, dia telah menalak kemarin, dan sekarang istrinya sedang menjalani masa ‘iddah talak ba’in atau raj’i, maka pernyataan ini bisa dibenarkan dibawah sumpah, sebab disini ada indikator penyandaran pada hari kemarin. Jika dengan pernyataannya tersebut dia bermaksud “menginformasikan bahwa dia telah menalak seorang wanita pada perkawinan yang dulu, bukan perkawinannya kali ini yang telah diperbarui, maka bila si suami mengetahui pernikahan sebelumnya dan talak yang terjadi didalamnya dengan saksi atau sebagainya, maka pernyataannya ini dibenarkan dengan sumpah. Jika día tidak mengetahui apa yang dinyatakan, dia tidak dibenarkan, dan jatuhlah talaknya saat itu juga.

  •   Kalimat-Kalimat untuk Taklik Talak

Perangkat atau kalimat-kalimat yang dipakai untuk menaklik talak itu ada tujuh, yaitu: 1) man (barang siapa) misalnya, “Barang siapa dari istriku yang masuk rumah maka dia orang yang ditalak”; 2) in (jika) misalnya, “Jika kamu masuk rumah maka kamu orang yang ditalak”; dan sisanya adalah 3) idzá (ketika), 4) mata (kapan, jika), 5) mata má (kapan jika), kullamá (setiap kali), dan ayyun (kapan pun), misalnya “Kapan pun kamu masuk rumah maka kamu orang yang ditalak”.

Dalam bahasa Arab, ada sepuluh kalimat taklik lainnya yang di-idhafah-kan (digabungkan menjadi kalimat majemuk) pada tujuh perangkat di atas, yaitu 1) idzmá dan mahma yang bermakna má, 2) má syarthiyah, 3) idzá ma, 4) ayyan ma, 5) ayyana yang mempunyai makna seperti mata yang merujuk pada waktu secara umum; 6) aína dan 7) haitsumá, merujuk pada tempat secara umum; 8) kaifamá, untuk menaklik dengan kondisi; dan 9) la (jika tidak) digunakan di sejumlah negara, seperti pernyataan penduduk Baghdad “Kamu orang yang ditalak jika tidak masuk rumah”; 10) lau (jika), misalnya “Kamu orang yang ditalak jika kamu masuk rumah”.

Seluruh perangkat taklik talak ini -sebagaimana telah disinggung di depan- tidak menuntut makna segera, ketika digunakan dalam redaksi taklik yang positif selain khulu’, kecuali taklik dengan masyi’ah (kehendak atau kesengajaan); misalnya “kamu orang yang ditalak bila kamu mau”. Taklik semacam ini dianggap sebagai penyegeraan dalam masyi’ah, karena menurut pendapat yang shahih, taklik ini adalah kepemilikan. Penjelasan taklik talak dengan redaksi negatif akan dipaparkan nanti. Selain itu, seluruh perangkat taklik diatas tidak menuntut pengulangan, kecuali kullamá karena taklik dengan kullamá menuntut pengulangan dalam perkara yang disyaratkan.

  •   Taklik Talak dengan Sifat

Taklik ini jelas merupakan talak, seperti talak munjiz, dan menjatuhkan talak. Demikian menurut pendapat yang ashah. Misalnya, bila seorang suami berkata, “Jika aku menalakmu maka kamu orang yang ditalak,” kemudian dia menalaknya atau menaklik talaknya dengan sifat tertentu, misalnya “jika kamu masuk rumah maka kamu orang yang ditalak”, lalu sifat tersebut terjadi, maka jatuhlah talak dua. Talak satu sebab talak yang dilontarkan tadi munjiz, atau sebab taklik talak dengan sifat yang terjadi; dan talak satunya sebab taklik talak.

Jika seorang suami berkata, “Setiap kali jatuh talakku atasmu maka kamu orang yang ditalak setelah taklik ini” maka jatuhlah talak tiga pada istri yang telah disetubuhi dan istri yang belum disetubuhi.

  •   Taklik talak dengan Penafian.

Yakni penafian perbuatan. Menurut al-Madzhab, jika seorang suami menalak dengan kalimat in (jika), misalnya “jika kamu tidak masuk rumah maka kamu orang yang ditalak”, maka jatuhlah talak saat wanita itu dalam situasi yang tidak memungkinkannya masuk rumah, (misalnya) dia meninggal dunia atau suaminya menderita penyakit jiwa hingga meninggal. Talak tersebut jatuh menjelang kematian atau gilanya sang suami, misalnya tidak tersisa lagi waktu yang memungkinkan dia untuk menalaknya, sebab tidak adanya taklif dalam dua kondisi tersebut.

Sedang taklik talak yang menggunakan perangkat selain in (misalnya idza), talaknya tidak jatuh begitu ada waktu yang memungkinkannya melakukan perbuatan yang disyaratkan, dan dia tidak melakukannya.

Apabila suami berkata, “Kamu orang yang ditalak jika kamu masuk (anti thaliqun an dakhalti),” atau “Jika kamu tidak masuk (an lam tadkhuli),” dengan an bukan in, maka jatuhlah talak seketika itu juga. An-Nawawi ra menambahkan, “Kecuali selain struktur gramatikal maka termasuk taklik, menurut pendapat yang ashah.” Maksudnya, seorang wanita tidak tertalak dengan taklik talak sebelum sifat yang ditentukan itu ada, sebab secara zhahir sang suami memang bermaksud menalak. Jadi, dia tidak membedakan antara perangkat-perangkat taklik talak.

  •   Taklik Talak dengan Kehamilan, ‘Haid, dan Kehendak

Taklik jenis ini sering kita saksikan dalam kehidupan nyata dan terjadi akibat libido atau syahwat laki-laki atau dia membenci apa yang sudah terjadi. Contoh-contoh berikut ini memaparkan hukum syara’ seputar terjadinya talak yang ditaklik.

  1.   Taklik Talak dengan Kehamilan

Ketika seorang pria menaklik talak dengan kehamilan, dia berkata, “Jika kamu ternyata sudah hamil maka kamu orang yang ditalak,” jika ternyata istrinya benar-benar hamil, jatuhlah talak saat itu juga, sebab syarat tersebut telah terpenuhi. Tapi, jika dia belum hamil, talaknya tidak jatuh saat itu, melainkan ditunggu sampai jelas kehamilannya.

Jika si istri ternyata melahirkan dalam tenggang waktu kurang dari enam bulan sejak masa taklik, maka jatuhlah talaknya. Sedangkan jika dia melahirkan lebih dari empat tahun dari masa taklik, atau antara enam bulan sampai dengan empat tahun, dan keduanya pernah berhubungan intim setelah taklik, juga ada kemungkinan dia hamil sebab hubungan tersebut -misalnya dia melahirkan setelah enam bulan ke atas dari masa taklik— maka talaknya tidak jatuh akibat taklik tadi, karena saat taklik terjadi, diketahui wanita itu jelas-jelas tidak hamil.

Jika si istri sama sekali tidak digauli setelah taklik, maka menurut pendapat yang ashah talaknya jatuh, sebab jelas wanita itu hamil.

Jika suami berkata, “Jika kamu hamil anak laki-laki, kamu ditalak satu,” atau “…hamil anak perempuan ditalak dua,” lalu istrinya melahirkan anak kembar pasangan (laki-laki dan wanita), maka jatuhlah tiga talak, mengingat dua sifat yang dipersyaratkan tersebut telah terpenuhi. Jika dia melahirkan salah satunya, maka jatuhlah talak yang sesuai ditaklik. Jika dia melahirkan anak khuntsa (berkelamin ganda) maka jatuhlah talak satu saat itu juga, karena syarat takliknya telah terjadi, dan talak yang kedua ditangguhkan hingga si anak jelas jenis kelaminnya. Dalam seluruh kasus ini masa ‘iddah si wanita akan habis setelah melahirkan.

Apabila suami berkata, “Jika kandunganmu laki-laki maka jatuh talak satu,” atau “bayi perempuan maka jatuh talak dua,” lalu istrinya melahirkan bayi kembar pasangan, maka tidak ada konsekuensi apa pun, sebab makna pernyataan tersebut adalah kandungan laki-laki atau perempuan seluruhnya tidak terwujud.

Jika suami berkata, “Jika kamu melahirkan maka kamu orang yang ditalak,” lalu istrinya melahirkan dua kali secara berurutan maka dia ditalak begitu kelahiran pertama, sebab syarat yang ditentukan (yaitu kelahiran) telah terjadi. Sementara wanita itu ‘iddahnya habis begitu dia melahirkan bayi kedua. Sebab lamanya ‘iddah wanita hamil adalah sampai dia melahirkan bayinya.

Jika istri itu melahirkan dua bayi sekaligus, maka meskipun dia ditalak satu saat masa ‘iddahnya belum selesai akibat dua bayinya lahir bersamaan maka justru ‘iddahnya dimulai setelah dia melahirkan.

Apabila suami itu berkata, “Setiap kali kamu melahirkan bayi maka kamu orang yang ditalak,” lalu istrinya melahirkan tiga orang bayi dalam satu kehamilan secara berurutan, maka jatuhlah dua talak sekaligus saat kelahiran dua bayi yang pertama, sebab kata “setiap kali” menuntut pengulangan, dan masa ‘iddahnya habis dengan lahirnya bayi ketiga, sebab rahimnya sudah jelas kosong. Namun menurut pendapat yang shahih, talak yang ketiga tidak jatuh, sebab talak tidak bersamaan dengan kehamilan yang menghabiskan masa ‘iddah seorang wanita.

Apabila seorang suami berkata kepada empat orang istrinya yang sedang hamil, “Setiap kali salah seorang dari kalian melahirkan maka madu-madunya adalah orang yang ditalak,” lalu keempatnya melahirkan secara bersamaan, maka keempatnya tertalak. Artinya masing-masing istri terkena talak tiga. Hal ini karena masing-masing istri mempunyai tiga madu. Setiap satu orang istri melahirkan, jatuhlah talak satu bagi semua istri yang lain, tapi dirinya tidak terkena talak. ‘iddah mereka semua dihitung berdasarkan masa suci atau dengan hitungan bulan.

Jika keempat istri tersebut melahirkan secara berurutan maka istri keempat tertalak tiga, karena setiap kali tiga madunya melahirkan, dia tertalak satu; dan masa ‘iddahnya habis setelah dia melahirkan. Istri pertama juga tertalak tiga, karena setiap kali tiga madunya melahirkan, dia tertalak satu, meskipun ‘iddahnya masih ada saat istri keempat melahirkan. Masa ‘iddahnya dihitung berdasarkan masa suci atau hitungan bulan. Istri kedua tertalak satu saat istri pertama melahirkan; dan istri ketiga tertalak dua saat istri pertama dan kedua melahirkan. ‘Iddah mereka berdua selesai setelah melahirkan. Istri kedua dan ketiga ini tidak terkena talak dengan melahirkannya istri-istri berikutnya.

Jika dua orang istri melahirkan secara bersamaan, kemudian dua istri yang lain juga melahirkan secara bersamaan, maka masing-masing dua istri yang pertama tertalak tiga: satu talak sebab istri yang melahirkan bersamaan dengannya dan dua talak sebab dua istri terakhir yang melahirkan. ‘Iddah mereka dihitung berdasarkan masa suci.

Sederhananya, jatuhnya talak tiga bagi setiap istri merupakan kaidah, kecuali istri yang melahirkan setelah seorang madu saja, maka dia hanya tertalak satu, atau setelah dua orang madu saja maka dia tertalak dua.

  1.   Taklik Nikah dengan Haid

Apabila seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu haid, kamu orang yang ditalak,” maka dia tertalak sejak awal haid berikutnya, seperti telah dijelaskan di depan. Jika suami berkata, “ Jika kamu haid sekali, kamu orang yang ditalak,” maka dia tertalak dengan berakhirnya haid berikutnya, sesuai tuntutan kalimat yang diucapkan.

Di depan telah disinggung secara singkat bahwa pengakuan istri dimenangkan, jika dia bersumpah bahwa dirinya telah datang haid saat ditaklík dengan haid oleh suaminya. Namun, pengakuan telah melahirkan tidak dapat diterima ketika istri ditaklik talak dengan kelahiran oleh suami. Menurut pendapat yang ashah, pernyataan yang dibenarkan adalah perkataan istri, dan masih dimungkinkan pengajuan saksi. Ini berbeda dengan haid, dimana pengajuan saksi dalam masalah ini sulit dilakukan, meskipun darahnya terlihat, sebab mungkin saja darah tersebut darah istihadhah.

Dalam masalah taklik talak dengan haidnya wanita lain, pengakuan seorang wanita tidak bisa dibenarkan. Misalnya suami berkata, “Jika kamu haid, madumu orang yang ditalak,” lalu si istri berkata, “Aku haid,” dan suaminya menilainya dusta, maka pernyataan yang dimenangkan adalah ucapan suami yang dibarengi sumpah. Sebab, tidak ada cara untuk membenarkan pernyataan itu tanpa sumpah. Seandainya wanita tersebut bersumpah, ini tidak mengharuskan si suami menerimanya, meski dengan dukungan sumpah dari orang lain.

Jika seorang suami menaklik talak kedua istrinya dengan berkata, “Jika kalian berdua haid, kalian orang yang ditalak,” lalu mereka yakin telah haid dan suami membenarkan keduanya, maka keduanya tertalak sebab adanya sifat yang dipersyaratkan, disamping suami juga telah mengakui. Jika suami menyangkal pengakuan keduanya, dia dibenarkan jika berani bersumpah; dan talaknya tidak jatuh, sebab hukum asalnya adalah tidak adanya haid dan tetapnya pernikahan.

Apabila salah seorang istrinya berbohong, maka hanya istri pembohonglah yang ditalak. Istri yang jujur tidak ditalak, sebab haid madunya tidak dibenarkan kecuali dengan sumpah. Sedangkan sumpah tidak memengaruhi hak orang yang tidak bersumpah, seperti telah dijelaskan di depan.

  1.   Taklik Talak dengan Kehendak

Seandainya seorang suami menaklik talak dengan kehendak istrinya secara langsung, misalnya si suami bérkata, “Kamu orang yang ditalak, kalau kamu mau,” atau “…jika kamu mau,” jika si istri menyatakan kehendaknya secara verbal dan segera, maka dia tertalak, sebab dia memperkenankan talak tersebut atas dirinya sendiri. Kasus ini sama dengan pernyataan suami “talaklah dirimu sendiri”.

Adapun bila suami menaklik talak dengan kehendaknya secara tidak langsung, misalnya “istriku orang yang tertalak,jika dia mau”, atau menaklik talak dengan kehendak orang lain secara langsung, seperti ucapannya kepada pria lain, “Kalau kau mau, istriku orang yang ditalak,” maka menurut pendapat yang ashah, jatuhnya talak tidak disyaratkan harus disegerakan, sebab jauhnya pemilikan dalam contoh kalimat pertama, dan tidak adanya pemilikan pada contoh kedua.

Seandainya istri atau pria lain yang ditaklik dengan kehendaknya berkata, “Aku mau sambil mengingkari dalam hatiku,” maka jatuhlah talak secara zhahir maupun batin. Hal itu karena di dalam pernyataan tersebut terdapat faktor yang ditakliki, yaitu redaksi yang menunjukkan adanya kehendak.

Sedangkan talak yang ditaklik dengan kehendak anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan, meski keduanya telah tamyiz, adalah tidak sah. Sebab, kehendak anak kecil tidak dipertimbangkan dalam tindakan hukum.

Apabila seorang suami berkata, “Kamu orang yang ditalak tiga, kecuali jika Zaid berkehendak talak satu,” lalu dia berkehendak talak satu atau lebih, maka istrinya tidak tertalak. Sebab, arti pernyataan tersebut “kecuali dia menghendakinya”, maka dia tidak tertalak sama sekali. Ini seperti halnya jika suami berkata, “Kecuali Zaid masuk rumah,” lalu dia masuk rumah.

Apabila suami menaklik talak dengan perbuatannya (seperti masuk rumah), lalu dia melakukan apa yang ditakliki karena lupa atau dipaksa, menurut pendapat yang azhar, istrinya tidak tertalak. Ini sesuai dengan hadits riwayat Ibnu Majah dan lainnya “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas kesalahan, lupa, dan sesuatu yang dipaksakan.” Maksudnya, Allah tidak menghukumi mereka akibat tiga hal tersebut. Konsekuensi hadits ini adalah tidak berlakunya hukum. Ketentuan ini berlaku pada semua hukum, selain hukum yang dikecualikan dengan dalil, seperti menilai harga barang yang rusak.

Jika suami menaklik talak dengan perbuatan orang lain yang peduli dengannya (misalnya kerabat) maka dia tidak boleh menentangnya. Karena dengan adanya hubungan kerabat, perkawinan, atau persahabatan, orang lain itu tentu berkeinginan kuat dalam kebaikan. Bisa jadi dia malu untuk memperbaiki sumpahnya untuk mencégah atau memotivasinya, dan orang lain itu mengetahui perihal taklik talak tersebut. Demikian pula, menurut pendapat yang azhar, talaknya tidak jatuh jika orang tersebut melakukan perbuatan yang dipersyaratkan karena lupa, dipaksa, atau tidak tahu. Jika orang itu tidak peduli dengan taklik talak tersebut (misalnya pemerintah), atau peduli tapi dia tidak mengetahuinya, maka pasti talaknya jatuh akibat perbuatan yang dia lakukan, meskipun lupa, sebab tujuannya ketika itu adalah semata taklik perbuatan, tanpa tujuan untuk mencegah atau memotivasi.

Semua kasus diatas adalah jika suami bersumpah dengan perbuatan yang akan datang.

Adapun jika dia bersumpah dengan menafikan sesuatu maka talaknya jatuh, baik tidak tahu maupun lupa. Misalnya, si suami bersumpah bahwa Zaid tidak ada di rumah, padahal dia ada di sana, dan dia tidak mengetahuinya atau mengetahui lalu lupa, maka dia tidak melanggar sumpah ini, sebab dia bersumpah atas dasar dugaan.

  •   Isyarat Talak dengan Jari Tangan dan Hal Lain

Apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Kamu orang yang ditalak,” dan memberi isyarat dengan dua atau tiga jarinya, dan tidak mengatakan “demikian”, maka bilangan talak tersebut tidak jatuh kecuali disertai niat saat mengucapkan kalimat tersebut. Sebab, talak pada dasarnya tidak berbilang, kecuali disertai dengan ucapan dan niat, padahal dalam kasus ini tidak ditemukan salah satunya.

Jika día berkata “demikian” saat berisyarat maka istrinya tertalak. Yakni, talak satu jika isyaratnya dengan satu jari, talak dua jika isyaratnya dengan dua jari, dan talak tiga jika isyaratnya dengan tiga jari; meskipun dia tidak berniat. Sebab, isyarat dengan jemari dalam bilangan talak sama kedudukannya dengan niat.

Apabila suami berkata, “Maksudku memberi isyarat tiga adalah dua jari yang putus,” maka pernyataan ini dibenarkan dibawah sumpah, dan talaknya tidak jatuh lebih dari dua talak. Sebab, isyarat tersebut memungkinkan diarahkan pada pengertian talak dua.

Jika dia berkata, “Maksudku salah satunya,” maka pengakuan ini tidak bisa dibenarkan, sebab dalam masalah bilangan talak isyarat merupakan bentuk talak sharih, sebagaimana telah dijelaskan, sehingga sangkalan itu tidak bisa diterima.

Seandainya seorang suami memanggil salah seorang istrinya, “Hafshah” misalnya, lalu istrinya yang lain, Aisyah, menjawab, “lya,” kemudian suami berkata, “Kamu orang yang ditalak,” dan mengira Aisyah adalah istri yang dipanggilnya, maka istri yang dipanggil (Hafshah) tidak tertalak, sedang istri yang menjawab panggilan (Aisyah) tertalak, menurut pendapat yang ashah, sebab dia menjadi objek talak.

Apabila suami menaklik talak istrinya dengan memakan buah delima, misalnya berkata, “Jika kamu memakan delima, kamu orang yang ditalak,” kemudian dia menakliknya untuk yang kedua kali dengan memakan separuhnya, “Jika kamu memakan separuh delima, kamu orang yang ditalak,” maka jatuhlah talak dua, sebab dua sifat tersebut telah ada, karena bisa saja istrinya memakan setengah delima dan memakan seluruhnya. Apabila taklik tersebut menggunakan kata kullama (setiap kali) maka jatuhlah talak tiga. Sebab, dia memakan satu buah delima dihitung sekali, dan setengah delima dihitung dua kali. Apabila suami menaklik talaknya dengan memakan buah delima, lalu istrinya memakan dua delima masing-masing setengah, maka dia tidak melanggar sumpah.

  •   Makna Ungkapan “Al-Halfu bi ath-Thalaq tsumma at-Ta’liq bi Thalaqin Akharin” (Bersumpah dengan Talak kemudian Menaklikkannya dengan Talak Lain)

Maksud ungkapan tersebut ialah talak yang ditaklikkan dengan dorongan untuk melakukan talak atau mencegahnya (baik untuk dirinya ataupun orang lain); atau mengkonfirmasikan suatu berita (baik dari orang yang bersumpah ataupun pihak lain, agar objek yang terkait dengan sumpah tersebut menjadi jelas).

Contoh taklik dengan sumpah ialah, seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika aku bersumpah talak padamu maka kamu orang yang ditalak,” kemudian setelah itu dia menyebutkan isi sumpahnya dengan dorongan melakukan atau mencegah sesuatu; atau menyebutkan keterangan.

Contoh sumpah berupa dorongan melakukan sesuatu ialah, seperti pernyataan suami, “Jika kamu tidak keluar maka kamu orang yang ditalak.” Sedang contoh sumpah dengan mencegah sesuatu ialah, seperti ucapan suami, “Jika kamu keluar maka kamu orang yang ditalak.” Sementara contoh taklik dengan keterangan ialah, seperti perkataan suami, “Jika kenyataannya tidak seperti yang kamu katakan, kamu orang yang ditalak.”

Jika seorang suami mengatakan pernyataan diatas, jatuhlah talak yang dipersyaratkan dengan sumpah tersebut seketika itu juga. Talak yang lain nanti juga jatuh, jika ditemukan sifat yang ditentukan, dan ‘iddahnya tetap.

Ketentuan diatas berlaku bagi istri yang telah disetubuhi. Sedangkan bagi istri yang belum disetubuhi, talak tersebut baru jatuh setelah sesuatu yang ditaklikkan dalam sumpah benar-benar terjadi.

Apabila setelah menyatakan taklik dengan sumpah suami berkata, “Ketika matahari terbit,” atau “Jamaah haji datang,” atau “Jika masuk awal bulan, kamu orang yang ditalak,” maka yang ditalak tidak terjadi dengan sumpah, sebab didalamnya tidak ada unsur anjuran, larangan, tidak pula menetapkan keterangan, melainkan murni taklik dengan sifat tertentu. Jika sifat tersebut ditemukan, maka jatuhlah talak yang ditaklik itu.

  •   Konfirmasi Talak

Seandainya suami ditanya, “Apakah kamu menalaknya (yakni istrimu)?” Lalu dia menjawab, “Ya,” atau jawaban yang semakna, itu merupakan pengakuan yang sharih tentang adanya talak. Sebab arti jawaban tersebut ialah, “ya, aku telah menalaknya”. Tetapi jika suami kemudian menambahkan, “Maksudku, talak yang telah lewat terdahulu, dan aku kini telah rujuk kembali,” maka pernyataan ini dibenarkan jika dia bersumpah.

Jika seseorang bertanya, “Apakah kamu telah menalak istrimu?” sebagai permintaan untuk menyatakan talak, lalu suami berkata, “Ya,” atau jawaban yang semakna, ini juga termasuk pengakuan yang sharih dalam hal talak. Sebab, kata “ya” dan sejenisnya berarti “aku telah menalaknya”.

  •   Jenis Taklik Talak Lainnya

Berikut ini paparan beberapa contoh taklik talak yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

  1.   Taklik Talak dengan Makan.

Jika seorang laki-laki menaklik talak istrinya dengan memakan sepotong roti atau sebuah delima, setelah dimakan ternyata masih tersisa secuil dari potongan roti maka talaknya tidak jatuh; atau masih tersisa satu biji delima, talaknya juga tidak jatuh. Sebab, dia membenarkan bahwa istrinya tidak memakan sepotong penuh roti atau satu buah delima.

Apabila suami istri memakan kurma, misalnya, dan bijinya bercampur, lalu suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu tidak memisahkan biji kurmamu dari biji kurmaku maka kamu orang yang ditalak.” Istrinya memisahkan biji-biji kurma itu dan tidak mencampurkannya dengan yang lain, maka talaknya tidak jatuh. Sebab dengan demikian suami membedakan biji kurma yang satu dengan yang lain, kecuali jika dia berniat menentukan biji kurma istrinya dari biji kurmanya. Dengan begitu jatuhlah talak.

Seandainya seorang istri sedang mengunyah kurma, lalu suaminya menaklik talak dengan berkata, “Jika kamu menelan kurma itu, kamu orang yang ditalak; jika kamu mengeluarkannya dari mulutmu, kamu juga ditalak; dan jika kamu tetap mengunyahnya, kamu juga ditalak.” Begitu suaminya selesai menaklik, si istri langsung menelan setengah buah kurma itu dan meludahkan setengahnya maka talaknya tidak jatuh. Sebab, menelan sebagian dan melepeh sebagian sisanya berbeda dengan tiga hal yang disebutkan dalam taklik suaminya.

  1.   Tuduhan Pencurian dan Tuntutan untuk Menjelaskan Biji Delima

Kedua ilustrasi ini hukumnya adalah sebagai berikut.

1)         Seandainya seorang pria menuduh istrinya mencuri dan berkata, “Jika kamu tidak mengakui pencurian ini maka kamu orang yang ditalak,” lalu istrinya mengatakan dua kalimat, “Aku telah mencuri,” dan “Aku tidak mencuri,” maka dia tertalak. Sebab salah satu pernyataan istrinya ini pasti benar.

2)         Seandainya suami berkata, “Jika kamu tidak memberitahuku berapa jumlah biji delima ini sebelum dibelah…,” maka lebih tepat jika suami menyebutkan angka perkiraan yang diyakininya tidak bakal meleset, seperti seratus biji, kemudian menambah satu per satu, hingga sampai angka dimana dia yakin jumlah biji delima tidak akan lebih dari itu. Dengan demikian dia telah memberi tahu jumlah biji delima tersebut.

Dua ilustrasi tersebut ditujukan bagi orang yang tidak bertujuan memberikan definisi atau batasan. Jika dia memaksudkan hal tersebut maka talak pun jatuh.

  1.   Tuntutan Menjelaskan Jumlah Rakaat Shalat Fardhu

Seandainya seorang pria berkata kepada tiga istrinya, “Siapa di antara kalían yang tidak memberitahuku jumlah rakaat shalat fardhu sehari semalam, dia orang yang ditalak,” lalu salah seorang istrinya berkata, “Jumlahnya adalah 17 rakaat. Ini yang asli.” Istri yang lain berkata, “15 rakaat (pada hari Jum’at)” dan istri yang ketiga berkata, “11 rakaat (bagi musafir,” maka talaknya tidak jatuh bagi seorang pun dari mereka, sebab semuanya benar. Jika si suami menghendaki salah satu dari hari-hari ini secara pasti, maka dia mesti disumpah atas kehendak tersebut.

  1.   Menggantungkan Talak dengan Waktu

Jika seorang pria berkata kepada istrinya, “Kamu orang yang ditalak sampai saat tertentu,” atau “…waktu tertentu,” atau “…setelah saat tertentu,” maka día tertalak dengan berlalunya waktu sesaat. Sebab, pembatasan waktu seperti itu bisa terjadi pada waktu yang panjang maupun pendek.

  1.   Taklik Talak dengan Melihat, Menyentuh, atau Menuduh Zina

Seandainya seorang pria menaklik talak dengan melihat Zaid, misalnya dia berkata, “Jika aku melihatnya (Zaid) maka kamu orang yang ditalak;” atau dengan menyentuhnya atau menuduh zina, dengan berkata, “Jika aku menyentuh atau menuduhnya, maka kamu orang yang ditalak,” taklik ini tetap berlaku, baik Zaid masih hidup maupun sudah mati. Si suami dianggap melanggar sumpah bila melihat jenazah Zaid, menyentuh kulitnya atau menuduhnya. Sebab, penyebutan nama tetap berlaku bagi orang mati dan hidup. Karena itu, orang yang menuduh mayit berzina tetap dikenai hadd. Hal ini berbeda dengan taklik talak dengan memukul Zaid. Misalnya seorang suami berkata, “Jika aku memukul Zaid maka kamu orang yang ditalak,” lalu dia memukulnya, padahal Zaid telah menjadi mayit, maka talaknya tidak jatuh, sebab si mayit tidak merasakan sakit. Adapun jika dia memukul Zaid yang masih hidup, si istri tertalak, baik suaminya memukul Zaid dengan cemeti, tongkat, atau sebagainya, asal orang yang dipukul merasa sakit, meskipun ada penghalang. Berbeda halnya jika dia tidak merasakan sakit; atau dia malah menggigitnya, memotong rambutnya, atau sebagainya, sebab ini tidak dinamakan “pukulan”.

  1.   Taklik Talak dengan Panggilan yang Tidak Disukai

Seandainya seorang wanita memanggil suaminya dengan seruan yang tidak disukai, seperti “hai bodoh”, “hai orang hina” lalu suaminya berkata, “Jika aku menjadi bodoh atau orang hina maka kamu orang yang ditalak,” dan si suami memaksudkan pernyataan itu sebagai balasan atas sebutan yang tidak disukainya (yakni, membuat istrinya marah dengan talak) sebagaimana istrinya telah membuatnya marah, maka istrinya tertalak seketika itu juga. Ketentuan ini berlaku umum.

Jika suaminya tidak bodoh atau bukan orang hina, atau dia menghendaki taklik, sifat itu masih diperhitungkan. Apabila sifat tersebut tidak terbukti ada maka istrinya tidak tertalak, seperti halnya jika suami memutlakkan ucapannya (tidak meniatkan apa pun).

Sifat bodoh (safah) yang ditaklik di sini adalah sifat boros yang bisa menghapus kemampuan memanfaatkan harta. Al-Adzra’i berpendapat, “Kebiasaan pada masa kita menyatakan safah adalah orang yang berkata kotor, padahal kebanyakan orang menganggap itu sesuatu yang memalukan.”

Sedangkan orang hina (khasis) adalah orang yang menjual agamanya dengan dunia, atau orang yang berlaku tidak pantas karena bodoh, bukan karena rendah hati.

  1.   Talak Raj’i dan Ba’in

Talak raj’i yaitu talak yang memberikan kesempatan pada suami untuk mengajak kembali istri yang tertalak dalam sebuah ikatan pernikahan, tanpa menggunakan akad yang baru, selama dia masih dalam masa ‘iddah. Ini sah, meskipun istri tidak ridha. Menurut ulama Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah, semua jenis talak selain yang dilakukan sebelum berhubungan intim atau talak yang diiringi kompensasi harta seperti dalam kasus khulu’, atau talak tiga atau yang menyempurnakan talak tiga, baik talak sharih maupun kinayah, maka semua itu termasuk talak raj’i.

An-Nawawi ra menuturkan, “Raj’ah dikhususkan bagi istri yang telah berhubungan intim yang ditalak tanpa kompensasi, yang bilangan talaknya belum habis dan masih dalam masa ‘iddah. Rujuk merupakan sarana untuk menghalalkan kembali (yakni, memberikan kehalalan bagi suami yang merujuk). Orang kafir tidak sah merujuk istrinya yang masuk Islam. Orang Islam juga tidak sah merujuk istri yang murtad. Sebab, tujuan rujuk adalah menghalalkan, sedangkan kemurtadan menafikan kehalalan itu. Demikian halnya jika suaminya murtad atau dua-duanya murtad.”

Adapun talak ba’in adalah talak yang tidak memberikan kesempatan pada suamí untuk mengajak kembali istri yang ditalaknya pada ikatan pernikahan, kecuali dengan akad perkawinan yang baru, jika dia melakukan talak ba’in shughra (kecil), atau setelah wanita itu menikah dengan pria lain, jika suami pertama menjatuhkan talak ba’in kubra, akibat dia menjatuhkan tiga talak.

Talak ba’in shughra ialah talak satu atau dua ketika masa ‘iddah si wanita telah habis, atau sebelum terjadi hubungan intim, atau dengan kompensasi seperti khulu’, atau setelah istri yang murtad kembali masuk Islam.

Demikian penjelasan tentang yang Macam-Macam Talak Dan Hukum Talak Kami kutip dari Buku al-Fiqhu asy-Syafi’iy al-Muyassar, karya Prof. Dr. Wahbah Zuhaili.

Bagikan :

Artikel Lainnya

Dua Macam Berpikir, Karena Iman ...
الْفِكْرَةُ فِكْرَتَانِ فِكْرَةُ تَصْدِيْقٍ وَإِيْمَانٍ وَفِكْ...
Berpikir Adalah Pelita Hati
الْفِكْرَةُ سِرَاجُ الْقَلْبِ فَإِذَا ذَهَبَتْ فَلَا إِضَاءَةَ...
Pikirkan Makhluk-Nya
الْفِكْرَةُ سَيْرُ الْقَلْبِ فِى مَيَادِيْنِ الْأَغْيَارِ Berp...
Sangat terhina, waktu kosong tap...
الْخِذْلَانُ كُلَّ الْخِذْلَانِ اَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّوَا...
Orang Yang Diberkati Umurnya
مَنْ بُوْرِكَ لَهُ فِى عُمْرِهِ اَدْرَكَ فِى يَسِيْرٍ مِنَ الز...
Ada kalanya, Umur Panjang Tapi K...
رُبَّ عُمْرٍ اِتَّسَعَتْ امَادُهُ وَقَلَّتْ اَمْدَادُهُ وَرُبّ...

Anggota DINULQOYIM