Yang Hilang Tak Bisa Diganti, Yang Didapat Tak Ternilai Harganya

Kewajiban Waktu Dan Kewajiban Dalam Waktu, Apa Bedanya ?
Mar 4, 2021
Jangan Kau Duakan Cinta-Nya
Mar 27, 2021

مَا فَاتَ مِنْ عُمْرِكَ لَا عِوَضَ لَهُ وَمَا حَصَلَ لَكَ مِنْهُ لَا قِيْمَةَ لَهُ

Apa yang telah hilang dari umurmu maka tidak dapat diganti, dan apa yang telah berhasil bagimu dari umurmu itu, maka tidak ternilai harganya.

 

WAKTU itu sangat berharga. Pepatah Arab mengatakan: Waktu itu lebih berharga daripada emas. “Setiap tarikan nafasmu adalah permata yang tak ternilai harganya,” kata Imam Ghazali.

Karena waktu itu sangat berharga maka gunakanlah untuk sesuatu yang berharga. Gunakan waktu itu untuk kejayaan, dan kebahagiaan dunia serta akhiratmu. Kejayaan itu bisa didapat dengan usaha keras. Tanpa usaha tidak akan didapat. Allah berfirman:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعَى

“Manusia tidak akan mendapatkan, kecuali apa yang ia usahakan.” (QS. An-Najm : 39)

Setiap bagian dari umur bila terbuang, tidak diisi dengan amal saleh, maka akan hilang kebahagiaan menurut kadar waktu yang kosong tersebut. Waktu yang lowong itu tidak tergantikan, ia lewat dan tak akan kembali lagi selamanya.

Imam Junaid berkata: “Waktu bila sudah hilang, maka tidak bisa dikejar. Tidak ada sesuatu lebih mulia dari waktu.”

Dan setiap bagian dari umur yang terisi dengan amal saleh, maka bisa menghantarkan ke kerajaan yang abadi (surga). Sungguh tidak ternilai harga waktu yang bisa membawa kita ke surga tersebut.

Demikian berharganya waktu, sehingga andai sesaat dari waktu itu dengan emas sepenuh bumi, maka itu masih sedikit. Sebab, bila sesaat itu digunakan untuk berdzikir kepada Allah, maka kita bisa mendapatkan kerajaan yang besar dan kenikmatan abadi. Andaikata dunia seisinya dijual maka nilai dunia ini tidak mencapai sepersepuluh dari sepersepuluhnya.

Oleh karena itu, para salaf saleh sangat memperhatikan waktu-waktu itu. Mereka selalu berusaha dengan sekuat tenaga memanfaatkan waktu untuk amal kebaikan. Tidak ada waktu yang hilang dengan sia-sia. Mereka tidak puas dengan diri mereka kecuali waktunya terisi dengan ketaatan. Tidak ada waktu untuk bersantai dan menganggur.

Dalam hadits Rasul disebutkan bahwa tidak lewat suatu waktu kepada seorang hamba yang tidak dibuat untuk berdzikir kepada Allah, melainkan menjadikan penyesalan besok di hari kiamat.

Juga diriwayatkan bahwa nanti pada hari kiamat akan diperlihatkan kepada hamba saat-saatnya dalam sehari semalam. Hamba itu melihat saat-saat ia di dunia itu menjadi dua puluh empat lemari yang berjajar. Kalau saatnya di dunia terisi dengan amal kebaikan maka ia akan mendapatkan di lemarinya itu terisi kenikmatan, kelezatan, pemberian dan balasan dari Allah. Maka orang itu senang. Namun bila terlewat satu saat di dunia yang tidak ia gunakan berdzikir kepada Allah, maka ia dapati salah satu lemarinya itu kosong. Tidak ada pemberian dan balasan dari Allah di lemari itu. Maka ia menyesal, sebab ia tidak menyimpan sesuatu (amal saleh) dalam lemari itu. Tetapi, kemudian ia ridha kepada Allah.

Dari keterangan hadits di atas bisa kita bayangkan betapa menyesalnya diri kita nanti pada hari kiamat. Sebab, tak terhitung banyaknya waktu kita yang terbuang sia-sia, lowong dari amal saleh dan berdzikir kepada Allah.

Dari sebab itu, selagi masih ada kesempatan, maka isilah waktu itu dengan amal ibadah yang beragam bentuknya, seperti menghadiri taklim, salat, berdzikir, mencari nafkah atau amal ibadah lainnya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.