Walau Tidak Khusyuk, Jangan Putus Asa

Allah Itu Jelas
Apr 23, 2021
Jangan Bangga Kalau Belum Tahu Hasilnya
May 2, 2021

لَا تَيْأَسْ مِنْ قَبُوْلِ عَمَلٍ لَمْ تَجِدْ فِيْهِ وُجُوْدَ الْحُضُوْرِ فَرُبَّمَا قُبِلَ مِنَ الْعَمَلِ مَا لَمْ تُدْرَكْ ثَمْرَتُهُ عَاجِلًا

Janganlah berputus asa dari terkabulnya amal karena tidak adanya kehadiran hati (khusyuk), sebab masih ada kemungkinan terkabulnya amal, meskipun belum engkau rasakan hasilnya dengan segera.

 

APABILA seseorang dalam ibadahnya tidak ada kehadiran hati atau belum bisa merasakan khusyuk janganlah terburu-buru putus harapan dan kecil hati. Jangan remehkan amal ibadah itu. Amal ibadah itu sudah cukup baik walau hanya dengan niat bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan dengan perasaan bahwa pekerjaan ibadah itu adalah karunia Allah kepada orang tersebut.

Contohnya, seseorang yang melakukan ibadah shalat. Lama ia melakukan shalat, tetapi hatinya tidak pernah hadir. Ia tidak merasakan kekhusyukan dalam shalatnya. Janganlah ia berputus asa, lalu berkata dalam hatinya ‘Percuma aku shalat, sebab shalatku tidak khusyuk’.

Asalkan ia melakukan shalat dengan tujuan taqarrub kepada Allah dan ia merasakan bahwa pekerjaan shalatnya berkat hidayah dan taufiq dari Allah maka itu sudah cukup baik. Bagi seorang hamba, cukup ia menegakkan shalat dengan melaksanakan syarat, rukun, dan adab shalat yang dhahir. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي اُصَلِّى

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. ”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh kita meniru gerakan-gerakan dhahir Rasulullah. Itu yang bisa dilakukan oleh umatnya. Tetapi untuk meniru kekhusyuan batin Rasul tentu tidak ada yang mampu menirunya.

Khusyuk dan merasakan manisnya ibadah itu berasal dari Allah. Khusyuk adalah urusan Allah karena khusyuk merupakan pemberian Allah kepada seorang hamba. Sedangkan pekerjaan shalat adalah bentuk tugas hamba kepada Tuhannya. Khusyuk tidak bisa dipaksakan. Kalau dipaksakan akan menjadikan orang yang shalat itu menjadi was-was.

Jangan putus asa dalam melakukan ibadah, walaupun belum bisa merasakan buah dan manisnya ibadah secara langsung seperti yang dirasakan oleh para Arifin. Tetap lakukanlah ibadah itu dengan mudawamah (terus menerus). Sebab, amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang dilakukan terus menerus secara istiqamah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اِنَّ اَحَبَّ الْأَعْمَالِ اِلَى اللهِ اَدْوَمَهُ وَاِنْ قَلَّ

“Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit.”

Dengan melakukan amal ibadah secara terus menerus maka Allah akan mengaruniai orang tersebut kekhusyukan dan lezatnya beribadah. Bukankah orang yang terus menerus mengetuk pintu pasti akan dibukakan pintu. Memang perlu waktu dan kesabaran.

Kisah kesabaran seorang ahli ibadah ini perlu ditiru. Ada seseorang berada di Mekah selama empat puluh tahun. Setiap kali ia menunaikan haji dan menyerukan ‘labbaik allahumma labbaik’ selalu terdengar suara jawaban ‘La labbaik wala sa’daik wahajiuka mardud’ (tidak ada labbaik dan tidak ada sa’daik dan hajimu ditolak). Tapi orang itu terus menerus melakukan ibadah haji bertahun-tahun.

Pada suatu hari ada seseorang mengunjungi orang yang ahli ibadah ini. Seperti biasa, orang yang ahli ibadah itu berseru, “Labbaik.” Terdengar jawaban tanpa rupa berkata, “La labbaik.” Orang yang berkunjung itu pergi menyingkir dari orang yang ahli ibadah tersebut. Ia berkata di dalam hati, “Orang ini orang yang terusir.”

Lalu orang yang ahli ibadah itu memanggil orang tersebut. “Ada apa (kau pergi)?“ katanya.

“Tuanku, kau berkata ‘Iabbaik’ dan ada jawaban, la labbaik,” ucap orang yang berkunjung itu.

“Wahai kamu, sudah empat puluh tahun aku mendengar jawaban itu. Apakah ada pintu lain yang bisa aku datangi selain pintu-Nya. Andai aku diusir seribu kali maka aku akan tetap berada di pintu.-Nya,” kata orang yang ahli ibadah tersebut.

Maka Allah menerima amal orang tersebut. Ketika orang itu berkata, “labbaik,” terdengarlah jawaban, ”labbaik wa sa’daik (Aku dengar panggilanmu dan engkau bahagia).”

Bukan berarti amal ibadah yang tidak disertai kekhusyukan, kelezatan dalam melakukannya itu tidak diterima di sisi Allah. Khusyu’, kehadiran hati, kelezatan dalam ibadah bukan syarat diterimanya amal. Itu cuma tanda diterimanya amal. Bisa jadi amal ibadah itu diterima di sisi Allah, walaupun buahnya tidak dirasakan secara langsung. Asalkan syarat-syarat ibadah itu dilaksanakan dengan baik dan disertai dengan keikhlasan serta timbul dari ketakwaan hati, maka ibadah itu diterima di sisi Allah, insya’ AlIah, baik waktu melakukanya merasakan manisnya amal ibadah itu ataupun tidak.

Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

“Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah : 27)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْ مُسَمِّعٍ وَلَا مُرَاءٍ

“Allah tidak menerima amal dari orang yang sum’ah (amalnya ingin di dengar orang) dan orang yang riya’ (amalnya ingin dilihat orang).”

Semoga Allah berkenan menerima amal kita. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.