Tidak Semua Yang Keramat Itu Sempurna

Kenikmatan terbesar: Dhahir Ibadah, Batin Ridho
Jan 31, 2020
Hanya Orang Tolol Yang Meremehkan Wirid
Feb 11, 2020

لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثَبَتَ تَخْصِيْصُهُ كَمُلَ تَخْلِيْصُهُ

Bukan semua orang yang tampak terang keistimewaannya telah sempurna pembersihannya.

 

TIDAK semua orang yang tampak padanya keistimewaan atau kekeramatan berarti telah bersih dari hawa nafsu, godaan syetan atau perbuatan maksiat.

رُبَّمَا ظَهَرَتِ الْكَرَامَةُ لِمَنْ لَمْ تَكْمُلِ الْإِسْتِقَامَةُ

“Adakalanya nampak karamah pada seseorang yang belum sempurna istiqamahnya.”

Lalu apakah hikmah dari timbulnya karamah dari orang yang belum sempurna keistiqamahannya, kenapa tidak menunggu ia sempurna? Ada tiga hikmah dalam hal ini:

Pertama, untuk membangkitkan semangat orang tersebut guna meneruskan perjalanannya. Kadang-kadang Seseorang dalam beribadah mengalami kejemuan. Kemudian Allah menampakkan karamah dari orang tersebut sehingga ia bangkit dan bersemangat kembali. Sebab, ia melihat tanda-tanda penerimaan amalnya di sisi Allah. Tanda itu adalah karamah yang timbul darinya.

Kedua, sebagai cobaan dari Allah. Apabila ia tertarik dan merasa puas dengan karamah itu, maka ia terhijab dari Allah. Ia akan berhenti di situ. Tetapi kalau ia tidak menoleh kepada karamah itu, maka ia terus mendekat kepada Allah.

ketiga, untuk menambah keyakinan dirinya dan orang lain. Misalnya. ada seorang guru yang menampakkan karamahnya kepada seorang muridnya dengan tujuan agar si murid semakin yakin dan mengetahui bahwa gurunya ada pada jalan yang benar. Karamahnya ditampakkan untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Ada seseorang memberitahu Asy-Syibli bahwa Abu Turob pernah mengalami kelaparan di sebuah lembah. Jadilah seluruh lembah itu penuh dengan makanan. Syibli berkata: Dia (Abu Turob) adalah hamba yang ditolong oleh Allah. Coba dia sampai pada kedudukan Ahli Tahqiq (benar-benar memiliki keyakinan kuat kepada Allah), maka ia seperti Rasulullah yang berkata:

إِنِّيْ أَبِيْتُ عِنْدَ رَبِّيْ فَيُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِيْ

“Aku berada di sisi Tuhanku. Dialah yang memberiku makan dan minum.”

Artinya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendapat makanan Rohani yang melebihi dari makanan Jasmani.

Asy-Syibli bermaksud bahwa Abu Turob terlalu cepat menampakkan karamahnya. Andai dia berkedudukan tinggi, maka ia memilih jalan biasa dan tidak memakai karamah.

Karamah biasanya timbul dari ahlul bidayah (orang yang baru jadi wali) atau orang-orang majdzub. Jarang terlihat dari orang-orang yang memiliki tingkatan tinggi, kecuali yang dapat izin dari Allah.

Oleh karena itu sebagian ulama berkata:

مَا رَأَيْتُ هَذِهِ الْكَرَامَاتِ إِلَّا عَلَى أَيْدِي الْبُلْهِ مِنَ الصَّادِقِيْنَ

“Aku tidak melihat karamah-karamah ini kecuali timbul dari tangan orang-orang bodoh (Al-Buluh) dari para shadiqin.”

(أكثر اهل الجنة البله) هو جمع ابله وهو الغافل عن الشر المطبوع على الخير. وقيل هم الذين غلبت عليهم سلامة الصدور وحسن الظن بالناس لأنهم أعفلوا أمر دنياهم. وقيل أقبلوا على اخرتهم فشغلوا أنفسهم بها فاستحقوا أن يكونوا أكثر اهل الجنة. فأما البله وهو الذي لا عقل له فغير مراد

Pada suatu hari ada seorang yang berperawakan tinggi besar menghalau orang-orang yang sedang tawaf di Masjidil Haram. “Pergi, pergi, jangan tawaf. Kalian menginjak kuburan para nabi,” jeritnya sambil menangis melarang orang-orang itu tawaf. Ia berusaha menyingkirkan orang-orang itu. Lalu orang itu berlari mendatangi Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki yang sedang duduk di Babussalam Masjidil Haram bersama beberapa orang termasuk penulis.

“Ya Sayyid, engkau orang alim. Bagaimana kau biarkan mereka tawaf menginjaki kuburan para nabi yang berada di bawah tempat tawaf. Aku tadi tawaf dan melihat jasad-jasad para nabi dan langsung aku loncat. Ayo larang mereka, Sayyid.”

Sayyid Al-Maliki menempeleng orang tersebut dan memarahinya.

“Taaddab bissyari’ah, yang sopan dengan syariat. Siapa yang menyuruh tawaf? Mengapa kau berani melarang orang tawaf sedangkan yang menyuruh Rasulullah. Andai tawaf ini tidak boleh maka tidak disuruh oleh Rasul. Jangan kau melarang mereka. Itu membuat fitnah,” ucap Sayyid Al-Maliki menasehati.

“Tetapi aku melihat kuburan para nabi di tempat tawaf itu,” kata orang yang dikenal kewaliannya itu.

“Kalau engkau betul-betul melihat kuburan para nabi di tempat tawaf itu maka ketika itu kamu saja jangan tawaf. Jangan menyuruh orang lain,” ucap Sayyid Al-Maliki.

“Terimakasih. Engkau benar-benar orang alim,” ujar orang itu berterima kasih. Ia mencium Sayyid Al-Maliki dan pergi.

Orang yang punya kedudukan tinggi di sisi Allah tidak tertarik dengan karamah-karamah hissiyah seperti merubah pisang satu menjadi dua. Tetapi mereka lebih menaruh perhatian kepada karamah maknawiyah seperti bisa melawan hawa nafsu dan merubah perilaku dan akhlak jelek menjadi Akhlak yang baik. Orang yang berdosa menjadi bertaubat kepada Allah. Ini adalah karamah yang sebenarnya.

Seorang Ulama berkata: ”Janganlah engkau kagum dengan orang yang memasukkan tangannya ke kantongnya lalu keluarlah apa yang ia inginkan. Tetapi kagumlah dengan orang yang memasukkan tangannya ke kantongnya dan ia tidak mendapatkan apa-apa, tetapi imannya tidak berubah.”

Muhammad Al-Murtaisy diberitahu bahwa ada seseorang yang bisa berjalan di atas air. Muhammad Al-Murtaisy berkata: “Menurutku orang yang diberi kekuatan oleh Allah bisa melawan hawa nafsunya lebih hebat dari orang yang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara.”

Seseorang yang belajar kepada Sahal bin Adullah berkata kepadanya pada suatu hari, “Terkadang ketika saya wudhu untuk sholat, tiba-tiba air yang mengalir di tanganku itu berubah menjadi lantakan emas dan perak.” Sahal berkata kepadanya, “Apakah kamu tahu bahwa anak kecil kalau menangis, diberi boneka, maka ia diam.”

Artinya janganlah merasa senang dengan karamah seperti anak kecil yang terhibur dengan boneka. Sebab, karamah itu mainan anak kecil. Orang-orang besar tidak memperdulikan itu.

اللّهُمَّ اجْعَلْ سَيِّئَاتِنَا سَيِّئَاتِ مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَا تَجْعَلْ حَسَنَاتِنَا حَسَنَاتِ مَنْ أَبْغَضْتَ. فَالْإِحْسَانُ لَا يَنْفَعُ مَعَ الْبُغْضِ مِنْكَ وَالْإِسَاءَةُ لَا تَضُرُّ مَعَ الْمَحَبَّةِ مِنْكَ.

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْبُوْبِيْنَ عَنْكَ

اللّهُمَّ نَزِّهْ قُلُوْبَنَا عَنِ التَّعَلُّقِ بِمَنْ دُوْنَكَ وَاجْعَلْنَا مِنْ قَوْمٍ تُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَكَ

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.