Tidak Cukup Sekedar Nasehat

Dibikin Susah Agar Kau Benci Dunia
May 30, 2021
Cahaya Ilmu Yang Bermanfaat Dan Meluas Di Dada
Jun 5, 2021

عَلِمَ اَنَّكَ لَا تَقْبَلُ النُّصْحَ الْمُجَرَّدَ فَذَوَّقَكَ مِنْ ذَوَاقِهَا مَا يُسَهِّلُ عَلَيْكَ وُجُوْدَ فِرَاقِهَا

Allah mengetahui bahwa engkau tidak dapat menerima nasihat yang hanya berupa kata-kata. Karena itu, Allah menimpakan kepadamu rasa kepahitan dunia supaya mudah bagimu meninggalkannya.

 

BANYAK sekali nasihat yang menganjurkan untuk zuhud terhadap dunia. Al-Qur’an telah menyebutkan. Hadits juga menerangkan. Para ulama sudah menyampaikan. Tetapi, banyak manusia walau ia alim tetap dalam kelalaian dan mabuk dengan dunia. Allah tahu bahwa nasihat yang hanya berupa kata-kata tidak cukup untuk membikin mereka sadar.

Karena itu, jika Allah memilih hamba-Nya ke hadirat-Nya maka Allah menimpakan kepadanya musibah-musibah dan bencana. Allah menimpakan kepadanya rasa pahitnya dunia supaya ia sadar dan zuhud terhadap dunia, sehingga mudah baginya untuk meninggalkan dunia fana ini. Orang ini seperti bocah kecil yang terkadang orang tuanya perlu menindaknya dengan kekerasan agar ia mau melakukan sesuatu, seperti belajar dengan giat, yang bermanfaat baginya di kemudian hari.

Betapa banyak orang yang dulunya tidak mau mendengarkan teriakan dan nasihat para ulama menjadi sadar setelah ia ditimpa berbagai cobaan dari Allah. Ia kembali kepada Allah setelah ia merasakan pahitnya dunia ini. Ketika sehat berpaling dari Allah. Ketika sakit ia kembali kepada Allah. Ketika kaya ia sombong tidak mau beribadah. Setelah kekayaannya hilang ia sadar dan bertaubat.

Itu keadaan kebanyakan manusia. Kembali kepada Allah setelah tertimpa berbagai cobaan. Allah menggiringnya masuk surga dengan rantai cobaan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُوْنَ اِلَى الْجَنَّةِ بِالسَّلَاسِلِ

“Tuhanmu kagum dengan orang-orang yang digiring ke surga dengan rantai.”

Kelompok manusia seperti ini disebut dengan orang yang berada di maqam sabar. Ibnu Athaillah juga menerangkan keadaan orang ini dalam kata hikmah sebelumnya yang berbunyi :

مَنْ لَمْ يَقْبَلْ عَلَى اللهِ بِمُلَاطَفَاتِ الْإِحْسَانِ قُيِّدَ اِلَيْهِ بِسَلَاسِلِ الْإِمْتِحَانِ

Adapula yang sadar tanpa dipaksa dengan cambukan musibah. Di saat dalam kenikmatan pun ia bersyukur dan kembali kepada Allah. Ia melaksanakan ketaatan dengan senang hati. Ia masuk surga dengan suka rela tanpa dipaksa. Imam Asy-Syadzili menyebutnya dalam doanya sebagai Abida imtinanin (hamba kenikmatan).

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah, dalam doanya menyebutkan:

اَللّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِى يَدِيْ وَلَا تَزْوِهَا عَنِّيْ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْقَائِمِيْنَ فِيْهَا بِحَقِّ النَّعْمَاءِ وَاجْعَلْنِيْ اَهْلًا لِنِعَمِكَ وَاجْعَلْهَا مُوْصِلَةً لَنَا اِلَى الْجَنَّةِ

“Ya Allah, jadikan dunia di tanganku dan jangan jauhkan dia dariku. Jadikanlah aku orang yang menunaikan hak (syukur) dari nikmat-Mu. Jadikanlah aku orang yang pantas menerima nikmat-Mu dan jadikan nikmat-Mu itu menyampaikan aku ke surgamu.”

Kelompok manusia yang kembali kepada Allah dengan sukarela ini disebut sebagai orang yang berada di maqam syukur. Semoga kita termasuk dari kelompok ini. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.