Tanda Orang Yang Benar-Benar Tawadhu’

Merasa Tawadhu’ Berarti Sombong
Jun 28, 2021
Timbulnya Tawadhu’ Hakiki
Jul 11, 2021

لَيْسَ الْمُتَوَاضِعُ الَّذِى اِذَا تَوَاضَعَ رَأَى اَنَّهُ فَوْقَ مَا صَنَعَ وَلكِنَّ الْمُتَوَاضِعَ الَّذِى اِذَا تَوَاضَعَ رَأَى اَنَّهُ دُوْنَ مَا صَنَعَ

Orang yang mutawadhi’ bukan orang yang merasa telah merendahkan dirinya. Tetapi, apabila ia berbuat sesuatu ia merasa belum pantas mendapatkan kedudukan itu.

 

SEORANG mutawadhi’ yang sebenarnya ialah orang ‘yang tidak menganggap dirinya sebagai mutawadhi’. Sebab, ia memandang dirinya rendah dan hina. Ini adalah tawadhu’ yang hakiki, tawadhu’ asli yang tidak dibuat-buat.

Ada orang yang pura-pura menampakkan perilaku tawadhu’ di depan orang lain. Misalnya, tampak ia duduk di belakang majlis, ia mencium tangan orang lain, tetapi itu semua ia lakukan dengan keterpaksaan. Hatinya tidak terima dengan hal itu. Ia merasa bahwa ia pantas untuk dihormati. Ini adalah sebuah bentuk tawadhu’ yang palsu. Sebenarnya, ia orang yang sombong.

Pengakuan orang-orang Sufi dan perbuatan mereka berikut ini menunjukkan bahwa hati mereka bersih dan penuh dengan ketawadhu’an yang asli.

Asy-Syibli. berkata: “Kehinaan diriku mengalahkan kehinaan orang Yahudi.” Asy-Syibli merasa bahwa dirinya sangat hina. Ia sampai pada puncak kehinaan melebihi orang Yahudi Yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai umat yang hina.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Seorang hamba tidak bisa tawadhu’ (merendahkan diri) kepada Allah sehingga ia mengenal dirinya.”

Abu Yazid Al-Busthami berkata: “Selagi seorang hamba itu melihat masih ada makhluk yang lebih jelek dari dirinya maka ia adalah orang yang sombong.”

“Kapan ia menjadi mutawadhi’?” tanya seseorang kepada Abu Yazid Al-Busthami.

“Kalau ia tidak merasa bahwa dirinya mempunyai kedudukan atau kemuliaan. Setiap orang itu tawadhu’nya menurut kadar makrifatnya kepada Allah dan pengetahuannya tentang dirinya” jawab Abu Yazid.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Kalau makhluk ini berkumpul untuk menempatkan aku seperti aku menempatkan diriku, maka mereka tidak mampu.”

Setelah keluar dari Arafah, Abu Yunus bin Ubaidillah berkata: “Aku tidak ragu bahwa rahmat pasti turun andai aku tidak ada bersama mereka.” Artinya, Abu Yunus menganggap bahwa dirinyalah yang paling jelek dari orang-orang yang di Arafah itu. Sehingga kalau tidak turun rahmat, itu gara-gara dirinya.

Ketika ada seseorang memohon kepada Muhammad bin Muqatil untuk mendoakannya, ia malah menangis dan berkata: “Semoga bukan saya yang menyebabkan kalian binasa.” Muhammad bin Muqatil menganggap dirinyalah orang yang paling jelek, penyebab dari kebinasaan dan bencana. Menurut perasaannya, orang seperti dia tidak pantas dimintai doa.

Diceritakan bahwa Abul Husain bin Al-Karnabi, guru Imam Junaid, diundang makan oleh seseorang. Sesampainya di rumah orang itu ia diusir. Orang itu kemudian mengundangnya kembali. Ia diusir lagi. Ini sampai ketiga kali. Baru pada keempat kalinya ia diterima dan dimasukkan rumahnya. Si tuan rumah takjub dan bertanya kepadanya kenapa ia tetap mau datang, padahal telah diusir berkali-kali.

“Aku telah melatih kehinaan pada diriku selama dua puluh tahun sehingga berkedudukan seperti anjing. Kalau diusir, ia pergi. Dipanggil lagi, ia kembali. Dilempari tulang, ia mau kembali. Andai engkau mengusirku lima puluh kali, kemudian kamu mengundangku kembali setelah itu maka aku pasti memenuhi undanganmu itu,” jawab Abul Husain Al-Karnabi kepada tuan rumah itu.

Kisah yang lebih menakjubkan lagi diceritakan oleh Abul Hasan Al-Qurthubi, pengarang kitab Bughyah at-Thalib Wa munyah Ar-raghib.

Abul Hasan Al-Qurthubi melihat Syeikh Abu Muhammad bin Abdillah, salah seorang ulama ahli fiqih, pada suatu hari ketika musim dingin ia berjalan di jalanan yang berlumpur. Di tengah jalan ia berpapasan dengan seekor anjing. Ia menepi dan menempel ke tembok samping jalan dan berhenti memberi kesempatan anjing itu untuk lewat. Ketika anjing itu semakin dekat kepadanya ia tinggalkan tempatnya berdiri. Ia malah turun ke tempat yang lebih rendah dan membiarkan anjing itu berjalan di atasnya.

Ketika anjing itu telah lewat Abul Hasan Al-Qurthubi menghampirinya. Syeikh Abu Muhammad tampak bersedih.

“Tuanku, aku telah melihat engkau melakukan hal yang aku anggap aneh. Bagaimana engkau melemparkan dirimu ke lumpur dan kau biarkan anjing itu lewat di tempat yang bersih?” tanya Abul Hasan Al-Qurthubi.

“Setelah aku memberi jalan kepada anjing itu di bawahku maka aku berpikir, bahwa aku merasa lebih tinggi dan lebih mulia dari anjing itu. Tidak. Bahkan dia lebih tinggi dan lebih mulia dariku. Sebab, aku bermaksiat kepada Allah dan dosaku banyak, sedangkan anjing itu tidak punya dosa sama sekali. Itulah sebabnya aku turun dari tempatku semula dan aku biarkan ia lewat di situ. Sekarang aku takut murka Allah, kecuali Allah memaafkan aku, karena aku tadi merasa lebih tinggi dari makhluk yang lebih baik dariku,” ucap Syeikh Abu Muhammad kepada Al-Qurthubi.

 

Tanda Tawadhu’ Yang Hakiki

Tanda bahwa seseorang benar-benar berakhlak tawadhu’ ialah ia tidak marah kalau dicela atau dijelekkan. Ia tidak benci kalau dituduh melakukan dosa besar. Sebab, ia merasa dirinya rendah. Bahkan, ia merasa semua makhluk ini lebih baik dari dirinya. Tentu saja ia tidak marah kalau dijelekkan karena memang pantas untuk dijelekkan.

Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi berkata: “Tasawwuf itu akhlak. Bila akhlakmu bertambah, maka bertambah pula tasawwufmu. Kalau engkau dimaki atau diganggu orang lain, maka teladanilah salafmu terdahulu. Termasuk salafmu yang pertama adalah Imam Ali Zainal Abidin. Pernah ia dicaci oleh seseorang dengan segala cacian. Imam Ali Zainal Abidin malah berkata kepada orang yang mencacinya itu, “Kalau sifat itu ada pada diri saya maka mudah-mudahan aku diampuni Allah. Bila tidak ada, maka mudah-mudahan kamu diampuni Allah.’ Begitu pula bila ada orang yang mengatakan kepada kita ‘Hai Munaiik’ maka koreksilah dirinya. Apakah ada salah satu sifat nifak yang tiga itu pada dirinya. Bila ada, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri dan mohonlah ampun kepada Allah.”

Di antara tanda orang yang betul bertawadhu’ adalah ia tidak ingin punya kedudukan dan pengaruh di hati orang lain. Ia tidak ingin sama sekali dihormati oleh orang lain. Ia senang khumul (menutup diri). Sebab, seperti kata Ibrahim bin Adham, tidak benar-benar menuju Allah orang yang senang kemasyhuran. Seorang Sufi mengatakan: “Tarekat kami ini tidak layak, kecuali bagi orang yang menyapu sampah dengan ruh mereka.” Mengenai khumul ini Ibn Athaillah telah menerangkannya dalam kata hikmah Ibnu Athaillah yang berbunyi:

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِى اَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ

“Tanamlah dirimu di tanah kehinaan. Sebab, sesuatu yang tumbuh tetapi tanpa ditanam, tidak sempurna hasilnya.”

Selanjutnya, tawadhu’ itu ada yang dengan mujahadah (memerangi nafsu) dan dibuat-buat. Ini adalah mujahadahnya Ahlil Yamin (orang yang amal baiknya mengalahkan amal buruknya).

Ada pula tawadhu’ yang ikhtiari (dengan suka hati) dan hakiki. Ini tawdhu’nya para Arifin. Sebab, tawadhu’ ini timbul dari menyaksikan kebesaran Allah. Ini dijelaskan pada kata hikmah selanjutnya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.