Tanda Kesuksesan: Kembali Kepada Allah di Permulaan

Tidak Mudah Tercapai Harapan yang Mengandalkan Diri Sendiri
Sep 27, 2018
Cemerlang di Permulaan, Cemerlang di Penghabisan
Oct 4, 2018

 مِنْ عَلَامَاتِ النُّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ الرُّجُوْعُ إِلَى اللهِ فِي الْبِدَايَاتِ

Suatu Tanda suksesnya seseorang pada akhir perjuangannya dia selalu kembali (pasrah diri) kepada Allah sejak permulaan perjuangannya.

KALAU ingin tahu bahwa seseorang itu akan sukses dan berhasil atau tidak dalam perjuangannya meraih apa saja, baik dunia atau akhirat, maka tandanya bisa dilihat dari permulaannya. Kalau sejak permulaannya ia bersandar kepada Allah, maka ia akan sukses di akhirannya.

Ini harus diyakini. Ini berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits dan kisah para Nabi. Ini memang nyata. Kita lihat dalam kehidupan kita atau orang lain hal ini betul-betul terjadi. Alam ini bagaikan kitab yang bisa dipelajari; bahwa semuanya berjalan dari takdir Allah. Semuanya kembali kepada Allah.

Oleh karena itu, bila kamu ingin sukses mencapai tujuanmu, akhirnya baik dan akibatnya terpuji, maka kembalilah kepada Allah dalam permulaannya dan lepaslah dari daya upaya dan kekuatanmu. Katakanlah sebagaimana dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

إِنْ يَكُنْ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُمْضِهِ

“kalau ini datangnya dari Allah, maka akan dijalankan oleh Allah.”

Sejak semula akan mengerjakan sesuatu, bertawakallah kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah yang memilki semuanya dan ia tidak akan berhasil tanpa pertolongan Allah. Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Bila tekadmu sudah bulat (hatimu sudah mantap), maka pasrahkan dirimu kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)

Jika kamu pura-pura punya kekuasaan, maka itu berbahaya. Ada seorang ditanya, “Bagaimana anda bisa sukses seperti ini, Cak?” Ia menjawab, “Ini berkat semangat kerjaku. Inilah hasilnya. Karena anda malas, tidak bekerja, maka anda tidak sukses seperti saya.” Ucapan orang ini keliru dalam segi keimanan. Seharusnya ia mendahulukan Allah. Seharusnya ia berkata “Ini semua berkat karunia Allah. Hadza Min Fadli Rabbi. Aku bersyukur kepada Allah.”

Bersandar kepada Allah dan memohon pertolongannya adalah hal yang paling utama dalam meraih sebuah tujuan. Bukan berarti tidak berikhtiar, tetapi ikhtiar itu diletakkan di nomer dua. Tidak mengandalkan ikhtiarnya. Allahlah yang menjadi sandarannya.

Orang sekarang banyak yang lupa dan mabuk dunia. Mereka bersandar kepada manusia yang lemah. Ada yang menggantung pada pejabat. Menurut sufi, ini sungguh menjijikkan. Bukankah pejabat itu lemah? Apakah yang selama ini memberi makan, kesehatan adalah pejabat?

Karena manusia tidak bersandar kepada Allah, maka kehidupannya tidak tentram. Orang yang bersandar kepada selain Allah bagaikan orang yang tua renta minta tuntun kepada sesama orang yang sama-sama tua renta. Robohlah kedua-duanya. Yang bersandar dan yang disandari sama-sama lemah. Makanya, bersandarlah kepada Allah Yang Maha Kuat dan Maha Kaya dalam setiap langkahmu.

Salaf-salaf kita terdahulu selalu bersandar kepada Allah dan selalu meminta bantuan Allah. Kehidupan mereka senang dan tentram serta mendapatkan ketenangan hati. Kiai-kiai dahulu terus melakukan riyadhah, dan bersabar sampai mendapat fath dan pertolongan dari Allah. Mereka tetap berdoa dan mulazamah membaca auradnya walau tujuannya telah tercapai, sebab kebutuhan mereka kepada Allah tidak ada habisnya.

Tidak seperti yang dikatakan orang:

صَلَّى وَصَامَ لِأَمْرٍ يَطْلُبُهُ   لَمَا قَضَى الْأَمْرَ لَا صَلَّى وَلَا صَامَا

Salat dan puasa karena ada hajat yang dicari

Setelah selesai hajatnya, maka tidak salat dan tidak puasa lagi.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.