Tahu Rahasia Orang, Sebuah Fitnah Dan Bencana

Diperlihatkan Rahasia Malakut-Nya, Ditutupi Dari Rahasia Hamba-Hamba-Nya
Jul 26, 2020
Dalam Maksiat Atau Taat, Nafsu Selalu Ikut Ambil Bagian
Aug 5, 2020

مَنِ اطَّلَعَ عَلَى اَسْرَارِ الْعِبَادِ وَلَمْ يَتَخَلَّقْ بِالرَّحْمَةِ الْإِلٰهِيَّةِ كَانَ فِتْنَةً عَلَيْهِ وَسَبَبًا لِجَرِّ الْوَبَالِ اِلَيْهِ

Siapa yang mengetahui rahasia-rahasia hamba-Nya lalu dia tidak berakhlak dengan rahmat Allah, maka pengetahuannya itu menjadi fitnah baginya dan menyebabkan datangnya sebuah bencana kepada dirinya.

KASYF bisa mengetahui rahasia-rahasia hamba Allah, seperti aib, dosa dan kejelekannya, merupakan ujian yang berat dari Allah. Bahkan hal ini akan menjadi fitnah dan bencana kepada orang yang diberi kasyf tersebut, bila ia tidak berakhlak dengan rahmat Allah.
Berakhlak dengan rahmat Allah itu seperti punya rasa kasihan kepada orang yang berdosa, sabar kepada orang yang dhalim, memaafkan orang yang bodoh, berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat, dan punya belas kasih kepada semua hamba Allah. Allah Maha tahu dengan perbuatan dosa hamba-Nya. Setiap detik semua kejelekan dan kedurhakaan yang dilakukan makhluk-Nya tidak luput dari pandangan Allah. Tapi Allah tidak langsung menyiksa mereka. Allah Maha penyabar (AI-Halim). Allah memberi kesempatan dan menunggu taubat para pendurhaka itu.
Kasyf yang tidak disertai rahmat Allah ini menjadi fitnah karena bisa menyebabkan orangnya merasa besar diri, ujub dengan amalnya dan sombong kepada orang lain. Bisa jadi timbul dalam dirinya bahwa dialah yang wali dan yang lain tidak, Kesombongan adalah fitnah terbesar yang ditimbulkan. Bisa jadi dengan kesombongan itu amal si wali dihapus dan kewaliannya dicabut kembali oleh Allah. Sebab, ia tidak mensyukuri nikmat Allah dan tidak pantas menerima keistimewaan itu.
Berbeda dengan wali yang makrifat kepada Allah, ia mengetahui alam malakut dan diberi kasyf melihat rahasia hamba-hamba Allah, akan tetapi ia berakhlak dengan rahmat Allah, maka kasyfnya bukanlah sebuah fitnah dan bencana pada dirinya. Wali itu dalam posisi aman dari ujub, kesombongan dan tercabutnya kewaliannya. Ini semua disebabkan ia berakhlak dengan rahmat Allah.
Misalnya, ada seorang pendosa datang kepada wali itu. Wali itu tahu kejahatan yang dilakukan orang itu. Wali itu menahan diri tidak mengungkap kejelekan orang tersebut. Malah ia mendoakannya agar bertaubat kepada Allah. Akhirnya orang itu pulang menjadi orang baik berkat doa wali tersebut. Ini adalah kekeramatan yang sebenarnya, yaitu merubah akhlak yang jahat menjadi akhlak yang baik dengan sekali pandang. .
Ibnu Bintil Mailaq berkata:

وَنَظْرَةٌ مِنْهُ اِنْ صَحَّتْ اِلَيْهِ عَلَى  سَبِيْلِ وُدٍّ بِـإِذْنِ اللهِ تُغْنِيْهِ

Satu kali pandangan dari seorang wali bila benar-benar timbul dari rasa cinta kasih,
Maka dengan izin Allah itu cukup (untuk menghantarkannya sampai kepada Allah).
Mengenai rahmat Allah ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا نُزِعَتِ الرَّحْمَةُ اِلَّا مِنْ قَلْبٍ شَقِيٍّ

“Rahmat tidak dicabut kecuali dari hati orang yang celaka”
Sebuah hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash menyatakan bahwa Rasulullah bersabda:

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang punya belas kasih dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Kasihilah penduduk bumi maka kalian akan dikasihi oleh ahli langit.”
Dalam sebuah isyarat Allah berfirman : “Hamba-Ku, apabila aku menjadikanmu khalifah (seorang wali) maka Aku beri engkau pecahan dari rahmat-Ku. Maka engkau menjadi orang yang paling kasih sayang kepada orang lain daripada kepada dirimu sendiri.”
Nabi Ibrahim pernah dididik oleh Allah agar berakhlak dengan rahmat Allah ketika mengetahui rahasia orang lain. Pada suatu malam Allah memperlihatkan kebesaran Allah di langit dan di bumi kepada Ibrahim. Ia melihat orang yang bermaksiat.
Ibrahim berkata : “Ya Allah, binasakan orang itu, ia makan rizki-Mu, berjalan di bumi-Mu, tapi ia menentang perintah-Mu.” Maka matilah orang itu. Lalu Ibrahim melihat orang lain melakukan kemaksiatan. Ia berdoa seperti sebelumnya. Orang kedua itu langsung binasa seperti yang pertama. Begitulah dengan orang ketiga.
Maka Allah berkata: “Cukup wahai Ibrahim. Engkau adalah orang yang mustajab doanya. Maka janganlah kau buat doamu itu untuk membinasakan hamba-hamba-Ku. Aku sudah lama melihat mereka bermaksiat. Aku tunggu barangkali mereka bertaubat, maka Aku terima taubatnya. Atau orang yang bermaksiat itu punya anak yang bertasbih pada-Ku. Atau Aku bangkitkan mereka di hari kiamat, Aku maafkan atau Aku siksa, terserah Aku.”
Setelah Ibrahim turun ke bumi ia menerima perintah lewat mimpi untuk menyembelih anaknya. Maka dilaksanakanlah perintah itu. Ibrahim sudah menyiapkan pisaunya. Ia berkata: “Ya Allah, ini anakku, buah hatiku dan orang yang paling aku cintai.”
Kemudian ia mendengar suara yang berkata: “Tidakkah kau ingat kejadian malam itu yang engkau memohon kepada-Ku untuk membinasakan hamba-hamba-Ku. Tidakkah kau tahu bahwa Aku sayang kepada hamba-Ku sebagaimana engkau menyayangi anakmu. Bila engkau meminta kepada-Ku untuk membinasakan hamba-Ku, maka Aku meminta kepadamu untuk menyembelih anakmu. Satu lawan satu. Tetapi yang memulai itu lebih kejam.”
Begitulah Ibrahim diberi pelajaran untuk selalu punya belas kasih dengan hamba-hamba Allah terutama mereka yang berdosa. Semoga kita memiliki rahmat itu. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.