Syahwat Hati Terusir Dengan Takut Dan Rindu

Nafsu Meresap Di Hati, Itu Penyakit Berat !
Feb 24, 2021
Jangan Bingung ! Bersyukur Itu Mudah
Feb 24, 2021

لَا يُخْرِجُ الشَّهْوَةَ مِنَ الْقَلْبِ اِلَّا خَوْفٌ مُزْعِجٌ اَوْ شَوْقٌ مُقْلِقٌ

Tidak ada yang dapat mengusir syahwat yang ada di dalam hati kecuali takut yang menggentarkan atau rindu yang menggelisahkan.

 

SYAHWAT yang sudah mendalam dan menguasai hati tidak bisa diusir kecuali ada sesuatu yang datang dan lebih kuat yang memaksa dan menundukkan syahwat tersebut. Sesuatu yang bisa menundukkan syahwat tersebut berupa rasa takut yang menggentarkan atau rasa rindu yang menggelisahkan.

Oleh karena sulitnya pengobatan penyakit syahwat yang mendekam di hati ini, maka yang paling terhijab disebabkan penyakit ini ialah ulama, ubbad (ahli ibadah) dan orang yang zuhud. Sebab, keinginan hati adalah syahwat yang samar dikarenakan orangnya, sebagaimana diterangkan oleh ayat :

وَاَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ

(adalah orang yang disesatkan oleh Allah atas dasar kesadaran)

dan

وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا

(sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat baik).

Mereka merasa punya kemuliaan dan kebesaran dan dekat dengan Allah, padahal mereka disesatkan dari jalan yang khusus dan tetap pada jalan orang awam.

Adapun ulama dhahir, mereka punya perasaan bahwa tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan ilmu mereka, sampai-sampai dari mereka ada yang merasa dan mengaku bahwa mereka berada di maqam ihsan {ma’rifah} dan punya kelebihan dari orang lain. Sebab, mereka sudah mengamalkan dan mengajar orang Al-Qur’an dan Sunnah. Jika sudah begitu, bagaimana mungkin bisa mengobatinya karena dia tidak mau ditegur dan lebih mengikuti hawa nafsunya.

Adapun ahli ibadah, dan orang zuhud mereka merasa dekat dan dicintai Allah dan banyak melakukan ketaatan kepada Allah. Mereka semakin jauh setelah mereka melihat kekeramatan timbul dari diri mereka. Maka mereka semakin terhijab dan penyakit mereka semakin menguat di dalam hati.

Sedangkan orang awam, yang melakukan sesutu dalam keadaan bodoh dan lalai tetapi di dalam hati mereka tetap merasa jelek, mereka lebih mudah tunduk dan kembali pada Allah. Disebutkan dalam hadits :

اَكْثَرُ اَهْلِ الْجَنَّةِ الْبُلْهُ

“Kebanyakan penduduk surga adalah orang bodoh (orang yang lalai).” (HR. Bazzar, Ibn Adiy, Baihaqi dalam Syuabul Iman)

Sebuah contoh yang menunjukkan bahwa syahwat hati lebih sulit dari hawa nafsu adalah cerita Nabi Adam dan syaitan. Kalau Nabi Adam syahwatnya adalah syahwat perut, sehingga ia makan buah terlarang. Maka Nabi Adam masih diberi inayah oleh Allah.

Nabi Adam berdoa:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf : 23)

Sedangkan syaitan tidak diberi inayah karena syahwatnya adalah syahwat hati berupa kesombongan, merasa lebih mulia dari Nabi Adam. Syetan berkata :

اَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ

“Aku lebih baik daripada dia: Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf : 12)

Maka Syetan terlaknat selama-lamanya. Na’udzubillah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.