Sudah Dapat Perhatian Sebelum Tercipta

Hukum Allah Tidak Tergantung Pada Sebab
Sep 21, 2020
Sirr Al-Inayah, Bukan Sebab Amal Ibadah, Tapi Itu Tandanya
Sep 27, 2020

عِنَايَتُهُ فِيْكَ لَا لِشَيْءٍ مِنْكَ, وَاَيْنَ كُنْتَ حِيْنَ وَاجَهَتْكَ عِنَايَتُهُ وَقَابَلَتْكَ رِعَايَتُهُ, لَمْ يَكُنْ فِى أَزَلِهِ اِخْلَاصُ اَعْمَالٍ وَلَا وُجُوْدُ اَحْوَالٍ, بَلْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ اِلَّا مَحْضُ الْإِفْضَالِ وَعَظِيْمِ النَّوَالِ

Perhatian Allah kepadamu bukan karena sesuatu yang timbul darimu.

Di mana engkau ketika Allah menetapkan karunia-Nya padamu dan di mana engkau ketika Allah menentukan pemeliharaan-Nya kepadamu? Di saat itu belum ada keikhlasan amal dan tidak ada hal-hal lain. Bahkan tidak ada apapun di sana, melainkan karunia dan kebesaran pemberian-Nya.

 

TELAH mutawatir (banyak) terdapat penjelasan dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan disepakati oleh dalil naqli dan aqli, bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.

Kehendak Allah ini qadim (sudah dahulu). Kehendak Allah itu kemauan Allah sendiri dan menurut ilmu Allah yang qadim. Jadi, apapun yang timbul di alam ini semuanya dari takdir Allah di alam gaib. Tinta pena sudah kering dan kertas sudah dilipat.

Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

“Tidak ada musibah di bumi atau pada diri kalian kecuali tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid : 22)

Tidak ada kebahagian dan kesengsaraan kecuali telah ditentukan oleh takdir dan qadha Allah. Orang yang bahagia adalah orang yang bahagia di dalam perut ibunya. Orang yang sengsara adalah orang yang sengsara dalam perut ibunya. ‘Tak ada satu napas yang terlepas darimu kecuali ada takdir yang berlaku padanya,’ seperti kata hikmah Ibnu Athaillah sebelumnya.

Maka perhatian Allah kepada makhluk-Nya sudah ditetapkan sebelum makhluk itu ada, tidak dikarenakan permintaannya atau amal yang dilakukan olehnya. Semua semata dari karunia dan kebesaran pemberian Allah Rabbul Alamin (yang merawat dengan cermat seluruh alam ciptaan-Nya), Al-Hayy Al-Qayyum (yang hidup kekal dan yang mengurus dengan tuntas ciptaan-Nya.)

Allah memberi inayah (perhatian) kepada manusia sejak ia masih dalam bentuk mani, janin dalam perut ibunya. Allah sudah mengatur rizkinya. Kemudian ia dilahirkan. Bayi itu diperhatikan oleh Allah dengan menggerakkan orang-orang di sekitarnya, ayah dan ibunya, untuk melayani segala kebutuhan bayi itu, tanpa sang bayi meminta kepada Allah. Perhatian dan perawatan Allah terus berlanjut sampai orang itu mati. Begitupula perhatian Allah kepada makhluk yang lain. Tak ada satupun dari mereka yang luput dari perhatian dan perawatan Allah. Ini sebuah bukti bahwa Inayah Allah itu bukan disebabkan diminta atau usaha tapi semata-mata karena karunia-Nya.

Al-Wasithi berkata: “Bagian-bagian yang sudah dibagi, hukum-hukum yang sudah berlaku, bagaimana bisa didatangkan dengan gerakan-gerakan dan diperoleh dengan usaha.”

Penyair Sufi berkata:

فَلَا عَمَلٌ مِنِّيْ اِلَيْهِ اِكْتَسَبْتُهُ سِوَى مَحْضِ فَضْلٍ لَا بِشَيْءٍ يُعَلَّلُ

Tidak ada amal dariku yang aku lakukan untuk-Nya

Hanya murni karunia Allah yang tidak digantungkan pada sesuatu

Inayah Khassah atau perhatian yang khusus dari Allah, sehingga seseorang menjadi kekasih Allah (wali) atau ulama yang mengamalkan ilmunya, juga tidak didapat dengan usaha dan tidak dicapai dengan mencari. Tetapi orang yang sudah didahului oleh takdir ‘dapat perhatian khusus dari Allah’, maka Allah memudahkannya terhadap apa yang dikehendaki-Nya. Walau ia berbuat apapun, kalau Allah menakdirkannya menjadi wali, maka pasti ia menjadi wali. Jika tidak ditakdirkan, walau dengan usaha apapun ia tidak akan mencapainya.

Dzun Nun ditanya, “Dengan apa kamu bisa makrifat (mengenal) Tuhanmu?”

Ia menjawab:

عَرَفْتُ رَبِّيْ بِرَبِّيْ وَلَوْلَا رَبِّيْ مَا عَرَفْتُ رَبِّيْ

“Aku mengenal Tuhanku dengan sebab Tuhanku. Andai bukan karena Tuhanku, aku tidak akan mengenal Tuhanku.”

Syeikh Abu Bakar bin Salim, wali besar dari Ba Alawi, ketika ditanya, “Dari mana kau dapatkan semua ini?” Ia berkata:

مِنْ بَحْرِ الْجُوْدِ لَا بِبَذْلِ الْمَجْهُوْدِ

“Dari Lautan anugerah Allah bukan disebabkan usaha yang keras.”

Walhasil, semua yang didapat dan diraih oleh manusia itu murni anugerah Allah dan berjalan sesuai dengan takdir-Nya. Inilah tauhid yang harus diyakini dalam hati.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.