Shalat, Sedikit Bilangan Banyak Ganjaran

Faedah-Faedah Shalat Yang Dilakukan Dengan Khusyuk
Mar 17, 2020
Menuntut Balasan Dituntut Keikhlasan, Mampu ?
Mar 27, 2020

عَلِمَ وُجُوْدَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلَّلَ أَعْدَادَهَا, وَعَلِمَ احْتِيَاجَكَ إِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ إِمْدَادَهَا

Setelah Allah mengetahui kelemahan yang ada pada dirimu, maka Allah mengurangi bilangan shalat itu. Dan setelah Allah mengetahui bahwa engkau membutuhkan karunia-Nya, maka Allah memperbanyak pahala (balasan) shalat itu.

Bilangan Shalat Sedikit Namun Banyak Ganjarannya

Termasuk rahmat Allah dan belas kasih-Nya terhadap hamba-Nya dan pilihan-Nya yang tepat untuk manusia (umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam) ialah bahwa Allah mengurangi bilangan shalat. Asalnya lima puluh waktu kemudian dikurangi menjadi lima waktu.
Namun walaupun shalat itu hanya berjumlah lima waktu, tetapi pahalanya dilipat gandakan. Pahalanya sama seperti pahala shalat lima puluh waktu. Allah menjanjikan pahala setiap shalat dilipat menjadi sepuluh kali lipat. Dan inilah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa melakukan satu kebaikan, maka ia akan mendapatkan sepuluh kali lipat. ” (QS. Al-An’am: 160)
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا اِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ

“Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus lipat.” (HR. Bukhari)
Dan apabila shalat itu engkau lakukan dengan berjamaah, maka shalat itu dilipat gandakan menjadi dua puluh lima derajat sebagaimana tersebut dalam hadits:

بِخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ جُزْءًا

“Dua puluh lima bagian (derajat).” (HR. Bukhari Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah itu lebih baik dari shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari Muslim)
Dua hadits ini tidak bertentangan sebab dengan kemurahan-Nya, Allah menambahkan pahala shalat yang asalnya dua puluh lima menjadi dua puluh tujuh.
Oleh karena itu orang yang melakukan shalat berjamaah satu kali ia akan mendapatkan dua puluh lima derajat. Dan setiap derajat dilipat ganda sepuluh, Sehingga jumlah pahala satu kali shalat berjamaah menjadi dua ratus lima puluh derajat.
Penjumlahan seperti ini bukan merupakan sesuatu hal yang mengherankan, sebab hal ini adalah kesimpulan yang diambil dari orang-orang sufi yang mempunyai pemahaman yang lebih unggul dalam ilmu syariat. Oleh karena itu banyak di antara mereka yang ‘sampai’ kepada Allah dikarenakan mereka sangat mengerti tentang syariat dengan berkat keshalehan, kebersihan hati dan keikhlasan mereka.

وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

“Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 105)
Dan jumlah seperti ini masih ada kemungkinan ada tambahan hingga mencapai jumlah yang tidak bisa dihitung, karena di dalam hadits disebutkan:

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

“Siapa yang berkeinginan melakukan satu kebaikan kemudian ia tidak melakukannya, maka Allah menulis untuknya (pahala) satu kebaikan yang sempurna. Dan siapa yang berkeinginan melakukan satu kebaikan kemudian ia melakukannya, maka Allah menulis untuknya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat ganda sampai berlipat-lipat ganda.” (H R. Bukhari)
Dan ini semua menurut keadaan shalat yang dilakukan oleh orang tersebut. Bilamana lebih sempurna dengan menegakkan sunnah-sunnah yang ada dalam shalat, dikerjakan dengan lebih khusyuk dan lebih ikhlas maka bertambah banyaklah jumlah pahalanya.
Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui balasan apa yang akan diberikan Allah kepada hamba-Nya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta ‘ala berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يعملون)

“Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang Aku sembunyikan dari kegembiraan sebagai balasan dari apa yang mereka lakukan.” (QS. As-Sajadah: 17)
Sebagian ulama mengatakan: “Yang dimaksud dengan apa yang disembunyikan Allah adalah:

مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbayangkan oleh hati manusia.”
Jika shalat berjamaah itu dilakukan di Masjidil Haram, maka pahalanya dilipat gandakan menjadi seratus ribu. Dan jika dilakukan di Masjid Nabawi, maka pahalanya dilipat gandakan menjadi seribu.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

صَلاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنَ ألفِ صَلاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ, وَصَلَاةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِى مَسْجِدِي بِمِائَةِ صَلَاةٍ

“Shalat di Masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu shalat di masjid selainnya kecuali Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama dengan seratus kali shalat di Masjidku ini.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dan ia menilainya shahih)
Juga apabila shalat berjamaah itu dilakukan di belakang imam yang khusyuk, maka ia akan mendapatkan pengampunan. Sebab apabila salah satu dari orang yang shalat berjamaah tersebut diterima maka diterimalah shalat yang lain dengan semata-mata rahmat dan karunia Allah.
Dan dengan shalat orang akan dapat bertemu dengan Allah.

الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ

“Shalat itu adalah mi’rajnya orang mukmin.”

Tidak Pantas Menuntut Balasan
Walaupun balasan dan ganjaran yang diberikan oleh Allah kepada hambanya begitu besar. Tetapi seorang murid yang merasa faqir (merasa butuh rahmat Allah) tidak pantas untuk menghitung-hitung amal yang ia lakukan dan menoleh serta mengandalkan kepada amal-amal tersebut. Tetapi hendaknya bersandar kepada rahmat dan karunia Allah. Dan ia mengetahui bahwa semua pahala dan ganjaran yang Allah berikan adalah semata-mata karunia-Nya.
Apabila engkau menuntut ganti dan meminta upah (pahala) atas amal perbuatan yang engkau lakukan, maka engkau akan dituntut oleh Allah mengenai kesempurnaan dan keikhlasan serta kekuranganmu dalam amalmu itu.
Dan cukup bagi orang yang merasa kurang sempurna amal taatnya, bahwa ia selamat dari tuntutan Allah subhanahu wa ta ‘ala dengan tanpa mengharap-harap ganjaran.
Orang yang beramal karena mengharap ganjaran, maka amalnya tersebut telah tercemar dan merupakan amal yang cacat. Orang yang beramal seperti ini, amalnya dapat membatalkan pahalanya. Karena jika ia menuntut dari Tuhan suatu balasan dan imbalan, maka Tuhan juga menuntut darinya kesungguhan (kesempurnaan dan keikhlasan) dalam ibadahnya. Sedangkan kesungguhan (kesempurnaan dan keikhlasan) dalam ibadah adalah melaksanakan hak ibadah itu. Dan bagaimana mungkin ia dapat melaksanakan hal tersebut.
Oleh karena itu janganlah engkau menghitung-hitung amal dengan merasa bahwa engkau yang melakukan amal itu.
Dan hendaknya kita yakini walaupun ibadah kita penuh kekurangan tetapi Allah dengan rahmat-Nya dan kemurahan-Nya tetap akan menerima dan menutupi kekurangan ibadah hamba-hamba-Nya. Dan Allah berjanji tidak menyia-nyiakan amal orang yang berbuat kebajikan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَإِنَّ اللهَ لَا يُضِيْعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Sesunguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 115)
Karena Allah Maha Mengetahui bahwa hamba-hamba-Nya semua sangat lemah dan tidak berdaya apa-apa.
Imam Khairun Nassaj radhiyallahu anhu mengatakan: “Ukuran (balasan) amalmu sesuai dengan perbuatanmu. Maka carilah mizan (balasan) karunia-Nya. Karena hal itu lebih sempurna dan lebih baik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka hendaknya mereka bergembira.”Dan itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Artinya balasan amalmu itu tidak sesuai dengan amalmu yang penuh kekurangan. Jika amal itu banyak kekurangan maka balasannya juga banyak kekurangan. Janganlah engkau menuntut balasan karena amalmu penuh kekurangan. Oleh karena itu carilah kemurahan karunia dan rahmat Allah, sebab hal itulah yang lebih baik dan lebih sempurna. Dan segala kekurangan itu akan ditutup dengan karunia dan rahmat Allah.
Imam Al-Wasithi radhiyallahu anhu mengatakan: “Ibadah untuk mendapatkan maaf dari Allah itu lebih dekat daripada ibadah yang dilakukan untuk minta ganti.” Artinya orang yang beribadah tetapi dirinya merasa kurang sempurna dan ia meminta maaf kepada Allah atas kekurangannya dalam menjalankan ibadah adalah lebih dekat dari pada ibadah yang dilakukan karena ingin mendapat balasan dan pahala.
Dan seperti inilah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, padahal amal ibadah beliau begitu banyak, namun beliau terus merasa kekurangan dalam amal ibadah beliau dan beliau merasa kurang bersyukur kepada Allah sehingga dalam doanya beliau mengatakan:

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Dan aku berlindung dengan Engkau dari (adzab)-Mu. Aku tidak bisa memuji-Mu dengan (sungguh-sungguh) sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” (HR. Muslim)
Dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Dan mereka tidak akan mampu untuk mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya.” (QS. Az-Zumar: 67).

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.