Semua Tergantung Pada Kehendak Allah, Kehendak Allah Tidak Tergantung Pada Sesuatu Apapun

Sirr Al-Inayah, Bukan Sebab Amal Ibadah, Tapi Itu Tandanya
Sep 27, 2020
Karena Puas Dengan Takdir Dan Tenggelam Dalam Dzikir
Sep 27, 2020

اِلَى الْمَشِيْئَةِ يَسْتَنِدُ كُلُّ شَيْءٍ وَلَا تَسْتَنِدُ اِلَى شَيْءٍ

Segala sesuatu tergantung pada kehendak Allah, dan kehendak Allah tidak tergantung pada suatu apapun.

 

APAPUN yang terjadi, apapun yang wujud semuanya bergantung kepada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Apa saja yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi. Dan mustahil ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا تَشَاءُوْنَ اِلَّا اَنْ يَشَاءَ اللهُ

“Dan kalian tidak berkehendak kecuali Allah berkehendak.” (QS. At-Takwir : 29)

وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا فَعَلُوْهُ

“Andai Allah berkehendak maka mereka tidak akan melakukannya.” (QS. Al-An’am : 137)

Sedangkan kehendak Allah tidak bergantung pada suatu apapun. Kehendak Allah tidak membutuhkan apapun seperti permintaan atau doa. Kalau Allah berkehendak memberi maka itu bukan dikarenakan seseorang berdoa atau meminta kepada-Nya. Apa saja yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terlaksana walau tanpa sebab atau tanpa diminta. Apa yang tidak dikehendaki oleh Allah pasti tidak akan terjadi. Allah mendekatkan orang yang dikehendaki-Nya bukan sebab amalnya. Allah membikin orang jauh darinya tanpa sebab apapun.

Allah Ta’ala berfirman:

لَا يُسْئَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْئَلُوْنَ

“Allah tidak bisa ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya tapi merekalah yang ditanya tentang apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-Anbiya’ : 23)

Maka pada hakekatnya, semua itu tergantung taufiq yang digariskan oleh Allah.

Abu Bakar Al-Wasithi berkata:

“Sesungguhnya Allah tidak mendekatkan seorang faqir karena kefakirannya, tidak menjauhkan orang kaya karena kekayaannya. Sama sekali sesuatu itu tidak ada artinya di sisi Allah sehingga bisa membikin sambung kepada Allah atau membuat orang terputus dari-Nya. Andai engkau kerahkan seluruh dunia dan akhiratmu maka niscaya Allah tidak akan menyampaikanmu kepada-Nya gara-gara hal itu. Andai engkau ambil seluruh dunia maka Allah tidak memutusmu dari-Nya dikarenakan hal itu. Allah mendekatkan orang yang dikehendaki tanpa sebab. Allah menjauhkan orang yang dikehendaki tanpa sebab.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ

“Barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah maka pasti dia tidak akan punya cahaya.” (An-Nur : 40)

Maka melihat pada kehendak Allah adalah hakekat. Sedangkan melihat kepada sebab adalah syariat. Atau dengan kata lain melihat kepada kehendak Allah adalah qudrot. Sedangkan melihat pada sebab adalah Hikmah. Kedua hal ini harus digabung. Hakekat adalah penentu, sedangkan syariat adalah penjelas.

Hakekat yang menghukumi syariat dalam bathin. Sedangkan syariat menghukumi hakekat dalam Dhahir. Tidaklah hukum Qudrot (Hakekat) lebih utama dari sifat hikmah (Syariat) pada tempatnya. Tidak pula sebaliknya.

Walhasil, ketika kita berdoa kita harus melakukannya karena itu adalah bentuk ubudiyah kepada Allah bukan berperasaan bahwa doa itu yang menyebabkan diberi oleh Allah. Karena bagian kita sudah ditentukan oleh Allah dalam takdirnya sejak azali sebelum kita meminta. Maka Inayah Allah lebih dahulu, Allah menentukan rahmat-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan setiap rahmat Allah menuntut adanya amal. Sedangkan wujudnya amal merupakan tanda dari rahmat-Nya yang khusus yang sudah ditentukan di azal. Dan segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah, tapi kehendak Allah tidak bergantung pada apapun.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.