Rizki Yang Cukup Adalah Nikmat Yang Sempurna

Hati Susah, Karena Belum Melihat Allah
May 12, 2021
Jangan Pernah Menjabat Kalau Tidak Ingin Dipecat
May 30, 2021

مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ اَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيْكَ وَيَمْنَعَكَ مَا يُطْغِيْكَ

Termasuk dari kesempurnaan nikmat Allah kepadamu jika Allah memberimu rezeki yang cukup dan menahan darimu apa yang dapat menyesatkan kamu.

 

REZEKI yang mencukupi yang tidak lebih dan tidak kurang termasuk nikmat Allah yang sempurna terhadap hamba-Nya. Sebab, dengan rezeki yang cukup itu manusia akan mendapatkan manfaat, baik diniyah (dari sisi agama) atau duniawiyah (dari segi dunia).

Manfaat dari segi agama jelas. Rezeki yang cukup dan tidak lebih itu bisa menguntungkan agama seseorang. Sebab, rezeki yang lebih dari cukup akan menyesatkan seseorang. Ini seperti difirmankan oleh Allah Ta’ala:

كَلَّا اِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى اَنْ رَأٰهُ اسْتَغْنَى

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena ia merasakan dirinya cukup dan tidak membutuhkan.” (QS. Al-‘Alaq : 6-7)

Artinya, seseorang yang memiliki rezeki yang berlebih-lebihan akan merasa sombong. Dan itu adalah pokok dari segala kemaksiatan. Kisah Tsa’labah bin Hatib patut dijadikan pelajaran bahwa rezeki yang berlebih itu membahayakan pada agama seseorang.

 

Kisah Tsa’labah

Tsa’labah bin Hatib dulunya seorang miskin yang rajin shalat jamaah. Ia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta untuk didoakan supaya ia memiliki harta yang banyak.

“Doakan aku kepada Allah agar Allah memberiku rezeki harta yang banyak,” pinta Tsa’labah bin Hatib kepada Nabi.

“Harta sedikit tapi kau tunaikan syukurnya itu lebih baik daripada harta banyak yang tidak mampu kau tunaikan syukurnya,” jawab Nabi.

Pada kesempatan lain Nabi juga berkata kepada Tsa’labah bin Hatib:

“Tidakkah kau rela menjadi seperti Nabinya Allah. Demi Allah yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, andai aku mau maka gunung-gunung itu berjalan bersamaku menjadi emas dan perak.”

Tapi Tsa’labah bin Hatib terns memaksa. Untuk meyakinkan hati Nabi ia bersumpah.

“Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, bila Engkau mendoakan aku dan Allah memberiku harta yang banyak, maka akan aku berikan hak hartaku kepada orang yang berhak,” ucap Tsa’labah bin Hatib.

“Ya Allah berilah Tsa’labah harta yang banyak,” Rasulullah akhirnya mendoakan Tsa’labah.

Maka tak lama kemudian Tsa’labah bin Hatib benar-benar menjadi orang kaya. Kambing ternaknya berkembang biak menjadi semakin banyak memenuhi kota Madinah. Tsa’labah menepi ke pinggiran Madinah tinggal di salah satu lembah yang terdapat di sana. Ia hanya melakukan shalat jamaah Dhuhur dan Ashar. Yang lainnya tidak. Ternaknya pun semakin banyak. Sampai akhirnya ia meninggalkan semua shalat jamaah, kecuali shalat Jum’at. Ternaknya terus berkembang dan tambah banyak. Shalat jum’at pun akhirnya ia tinggalkan.

“Apa yang dilakukan Tsa’labah?” tanya Rasulullah kepada para sahabatnya pada suatu hari Jum’at. Orang-orang menceritakan apa yang terjadi kepada Rasulullah.

“Celaka Tsa’labah, celaka Tsa’labah, celaka Tsa’labah,” sabda Rasulullah.

Kemudian turun ayat dari Allah yang memerintahkan untuk memungut zakat. Rasulullah memerintahkan dua orang untuk menarik zakat dari orang-orang Islam. Yang satu dari kabilah Sulaim yang satu dari Juhainah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberi keduanya surat tentang cara memungut zakat tersebut.

“Pergilah ke Tsa’labah dan Budzlan. Ambillah zakat dari kedua orang tersebut,” perintah Rasululllah kepada kedua petugas pemungut zakat itu.

Sesampainya di tempat Tsa’labah mereka berdua meminta Tsa’labah mengeluarkan zakat hartanya. Mereka membacakan kepada Tsa’labah surat perintah dari Rasulullah.

“Ini murni jizyah (pajak). Ini murni jizyah. Aku tidak tahu ini. Kalian berdua pergi dulu ke yang lain. Nanti kalau sudah selesai, ke sini lagi,” kata Tsa’labah kepada kedua orang itu.

Mereka berdua pergi melanjutkan tugasnya. Budzlan As-Sulami mendengar tentang kedua orang itu-. Sebelum mereka datang, Budzlan sudah menyiapkan onta-ontanya yang terbaik untuk diserahkan sebagai zakatnya. Kedua petugas itu datang. As-Sulami menyambutnya dengan baik.

“Bukan onta seperti ini yang diwajibkan kepadamu. Kami tidak bermaksud mengambil onta ini darimu,” kata kedua orang itu.

“Ambil saja onta-onta itu. Sungguh hatiku rela dengan hal ini,” kata Budzlan.

Kedua orang itu mengambilnya dari Budzlan. Mereka melanjutkan tugasnya sampai selesai.

Mereka kembali ke Tsa’labah bin Hatib.

“Perlihatkan kepadaku surat kalian,” pinta Tsa’labah bin Hatib. Ia membacanya.

“Ini murni jizyah (pajak). Ini murni jizyah. Pergilah kalian sampai aku mengambil keputusanku,” ucap Tsa’labah.

Mereka berdua kembali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

“Celaka Tsa’labah,” ucap Rasulullah ketika melihat kedua orang itu sebelum Rasulullah berbicara kepada mereka. Rasulullah juga mendoakan keberkahan untuk Budzlan As-Sulami. Lalu kedua petugas itu menceritakan kepada Rasulullah apa yang dilakukan oleh Tsa’labah dan yang diperbuat oleh As-Sulami.

Maka Allah menurunkan ayat :

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dan di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah; ‘Sesungguhnya jika Allah memberi kami anugerah-Nya (berupa harta yang banyak), maka pasti kami akan bersadaqah dan benar-benar kami akanjadi orang yang saleh.”

“Ketika Allah memberi mereka anugerah-Nya, ternyata mereka kikir dengan harta itu dan mereka berpaling (dari ketaatan kepada Allah) dan mereka adalah orang-orang yang biasa berpaling.”

“Maka Allah menimbulkan di hati mereka kemunafikan sampai pada hari mereka bertemu dengan-Nya sebab mereka menyalahi Allah terhadap apa yang telah mereka janjikan kepada-Nya dan sebab mereka telah berbohong.” (QS. At-Taubah : 75-77)

Salah seorang kerabat Tsa’labah yang berada bersama Rasulullah mendengar turunnya ayat ini. Ia pergi menemui Tsa’labah.

“Celaka engkau Tsa’labah, telah turun ayat mengenai dirimu,” ucap kerabat Tsa’labah itu.

Tsa’labah bergegas menemui Rasulullah. Ia meminta Rasulullah untuk menerima zakatnya.

“Allah melarang aku menerima zakatmu,” sabda Rasulullah. Tsa’labah meletakkan debu ke kepalanya.

“Ini gara-gara perbuatanmu. Aku sudah memerintahkan dirimu, tetapi kamu tidak menaatiku,” imbuh Rasulullah.

Ketika Rasulullah tidak mau menerima zakatnya maka Tsa’labah kembali ke rumahnya. Ketika Rasulullah meninggal dan diganti oleh Khalifah Abu Bakar, ia mendatangi pengganti Rasulullah itu. Ia meminta Abu Bakar menerima zakatnya.

“Rasulullah tidak menerima zakatmu,” ucap Abu Bakar. Ia menolak zakatnya Tsa’labah.

Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq meninggal. Ia mendatangi Umar, Khalifah berikutnya.

“Bagaimana aku menerimanya sedangkan Rasulullah dan Abu Bakar tidak mau menerimanya,” ucap Khalifah Umar bin Khaththab.

Umar bin Khaththab meninggal diganti Khalifah Utsman bin Affan. Tsa’labah mendatanginya. Ia meminta kepada Utsman agar ia mau menerima zakatnya.

“Rasulullah, Abu Bakar, Umar menolaknya. Bagaimana aku menerimanya,” ujar Utsman.

Tsa’labah meninggal di masa khilafah Utsman bin Affan.

Begitulah bahaya rezeki yang berlebih. Oleh karena itu, Nabi memilih mendoakan keluarganya untuk mendapat rezeki yang cukup. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ أٰلِ مُحَمَّدٍ قُوْتًا

Dalam riwayat lain:

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْ أٰلَ مُحَمَّدٍ كَفَافًا

Artinya: “Ya Allah, berilah rezeki keluarga Muhammad kecukupan. ” (HR. Muslim)

Rasululullah memilihkan yang terbaik untuk keluarganya, yaitu rezeki yang cukup bukan kaya yang berlebih atau kefakiran yang menyebabkan terhina dan meminta-minta. Andai kekayaan atau kefakiran itu baik, maka Rasulullah akan mendoakan keluarganya dengan kedua hal tersebut. Malahan Rasulullah berlindung kepada Allah dari kefakiran yang melupakan dan kekayaan yang menyesatkan.

Sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqqash, berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِى, وَخَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيِّ

“Rezeki yang paling baik adalah rezeki yang cukup dan dzikir yang paling baik adalah zikir di hati.” (HR. Baihaqi dalam Syuabul Iman)

Dalam hadits Abi Darda’ disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Matahari tidak terbit dan terbenam kecuali di sisinya ada dua malaikat yang menyeru, sebuah seruan yang dapat didengar oleh seluruh makhluk kecuali, manusia dan jin, “Wahai manusia, silahkan kembali kepada Tuhanmu. Sesungguhnya yang sedikit dan mencukupi itu lebih baik daripada yang banyak tapi melalaikan.”

Rezeki yang cukup dan tidak kurang juga memiliki keuntungan dari sisi agama. Sebab, rezeki yang cukup itu dapat membantu untuk menjalankan ibadah dan ketaatan dengan tenang. Ini adalah sebuah kenikmatan yang besar bagi seorang hamba. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَا ءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ الْأٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Gunakanlah semua yang diberikan Allah kepadamu untuk mencapai (kebahagiaan) akhirat dan jangan lupa bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash : 77)

Artinya, jangan lupa bagianmu (di akhirat, capailah bagianmu di akhirat itu dengan apa yang diberikan Allah kepadamu) dari dunia.

Ayat di atas menunjukkan bahwa cukuplah mengambil sedikit dari dunia untuk sekedar makan dan minum agar bisa hidup dan melaksanakan ibadah, sedangkan selebihnya itu dari dunia dipergunakan untuk akhirat.

Rezeki yang cukup dan tidak kurang memiliki keuntungan dunia. Ini jelas. Sebab, orang yang rezekinya cukup akan hidup dengan tentram dan tidak membuat dirinya terhina dengan meminta-minta kepada orang lain. Keadaannya tentu berbeda bila orang itu mengalami kekurangan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ اَصْبَحَ مِنْكُمْ أٰمِنًا فِى سِرْبِهِ, مُعَافًى فِى جَسَدِهِ, عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ, فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

“Seseorang dari kalian yang memasuki pagi hari dalam keadaan aman di hatinya, sehat badannya, ia memiliki kebutuhan hari itu, maka seakan-akan dunia seisinya diberikan kepadanya.” (HR. Turmudzi)

Maka bersyukurlah orang yang diberi Allah rezeki yang cukup, sebab hal itu merupakan kenikmatan yang besar dan sempurna bagi seorang hamba Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.