Sangat terhina, waktu kosong tapi tidak beribadah
Oct 21, 2021
Berpikir Adalah Pelita Hati
Oct 24, 2021

الْفِكْرَةُ سَيْرُ الْقَلْبِ فِى مَيَادِيْنِ الْأَغْيَارِ

Berpikir itu ialah perjalanan perasaan hati di dalam medan para makhluk (ciptaan Allah).

 

BERPIKIR yang dianjurkan oleh Allah kepada seorang hamba adalah berpikir tentang makhluk dan ciptaan Allah. Dengan memikirkan ciptaan Allah maka kita bisa mengetahui kebesaran Allah. Maka timbullah perasaan mengagungkan (ta’dhim) yang mendalam kepada Allah. Tafakkur seperti ini berpahala besar dan dianjurkan oleh agama.

Disebutkan dalam hadits:

تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ

“Berfikir sesaat lebih baik dari ibadah setahun.”

Adapun berpikir tentang Dzat Allah, maka tidak ada jalan untuk diperbolehkan. Boleh bertafakkur tentang tanda-tanda kebesaran Allah. Tapi, tidak boleh memikirkan hakikat Dzat Allah. Sebab, manusia tidak akan mampu menjangkau hakikat Dzat Allah Yang Maha Besar.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat ada suatu golongan manusia sedang berpikir.

“Sedang apa kalian?” tanya Nabi kepada sekelompok orang itu.

“Kami sedang memikirkan Al-Khaliq (Tuhan Pencipta),” jawab mereka.

Maka Nabi bersabda :

تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِهِ وَلَا تَفَكَّرُوْا فِى الْخَالِقِ فَإِنَّكُمْ لَا تَقْدِرُوْنَ قَدْرَهُ

“Berpikirlah tentang makhluk-Nya. Janganlah kalian memikirkan Allah Sang Pencipta, karena kalian tidak bisa menjangkau-Nya. ” (HR. Abu As-syeikh Al-Asbihani).

Ibnu Umar menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membaca di atas mimbar ayat ini:

وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. ” (QS. Az-Zumar: 67)

Rasulullah berkata sambil menggerakkan tangannya ke depan dan ke belakang, “Tuhan mengagungkan diri-Nya ‘Akulah Al-Jabbar (Maha Perkasa), Akulah Al-Mutakabbir (Maha Sombong), Akulah Al-Malik (Maha Raja), Akulah Al-Karim (Maha Mulia).,”

Maka guncanglah mimbar sehingga para sahabat berkata, ““Rasulullah akan jatuh dari mimbar.” (HR. Ahmad)

Memaksa diri untuk memikirkan Dzat Allah akan membahayakan kepada orang yang berpikir tersebut. Sayyidina Ali karramallahu wajhahu bersabda: _

مَنْ تَفَكَّرَ فِى أَلَاءِ اللهِ وَحَدَ وَمَنْ تَفَكَّرَ فِى ذَاتِ اللهِ اَلْحَدَ

“Barangsiapa berpikir mengenai kenikmatan-kenikmatan Allah, maka ia akan ber-tauhid (mengesakan Allah). Siapa yang berpikir mengenai Dzat Allah maka ia menjadi mulhid (tidak mempercayai keberadaan Tuhan).”

 

Berpikir Tentang Apa?

Orang-orang yang zuhud memikirkan tentang rusaknya dunia dan ketidak sempurnaannya, maka dengan berpikir seperti itu mereka semakin bertambah zuhud terhadap dunia. Orang-orang ahli ibadah berpikir tentang indahnya pahala ibadah, maka mereka bertambah semangat untuk melakukan ibadah. Sedangkan para Arifin berpikir tentang kenikmatan-kenikmatan Allah, maka mereka semakin bertambah cinta kepada Allah Tuhan Pencipta.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.