Nasihat adalah Santapan Ruhani

Berbicara Karena Tak Tahan Atau Untuk Mendidik Murid
Dec 9, 2020
Baru Mendekati Bisa Bicara Kewalian
Dec 10, 2020

الْعِبَارَاتُ قُوْتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِيْنَ وَلَيْسَ لَكَ مِنْهَا اِلَّا مَا اَنْتَ لَهُ اٰكِلٌ

Kata-kata itu sebagai makanan bagi keluarga para pendengar, dan engkau tidak mendapatkan apa-apa darinya, kecuali apa yang engkau makan.

 

KATA-kata hikmah atau nasihat itu bagaikan makanan bagi para pendengarnya. Yaitu, makanan ruhani bukan makanan jasmani. Sebagaimana manusia membutuhkan makanan jasmani untuk kehidupan badannya, ia juga membutuhkan santapan ruhani demi kehidupan hatinya.

Seorang alim yang memberi nasihat bagaikan seseorang yang menghidangkan berbagai makanan kepada para pendengarnya. Masing-masing pendengar mengambil apa yang cocok dengan kebutuhan dan seleranya. Bila seorang yang mendengarnya merasa bahwa ia tidak mendapatkan apa-apa dari ucapan orang alim itu, maka ketahuilah bahwa ucapan itu tidak sesuai dengan selera dan kebutuhan orang itu, tetapi cocok untuk pendengar lainnya. Memang, selera dan kebutuhan manusia kepada makanan tidak sama. Ada yang suka sebuah jenis masakan, namun orang lain punya selera berbeda.

Terkadang pula kata-kata yang sama dipahami oleh pendengarnya dengan pemahaman yang berbeda. Terkadang pemahaman itu tidak dimaksud oleh pembicaranya. Tetapi kata itu punya kesan di hati pendengarnya dan berguna bagi orang itu.

Diceritakan dalam kitab Lathaiful Minan bahwa di Bagdad ada seorang alim fiqih yang dikenal dengan nama Al-Jauzi. Ia mengajar dua belas ilmu. Pada suatu ketika ia keluar menuju madrasah, ia mendengar seorang menyanyikan syair,

اِذَا الْعِشْرُوْنَ مِنْ شَعْبَانَ وَلَّتْ         فَوَاصِلْ شُرْبَ لَيْلِكَ بِالنَّهَارِ

وَلَا تَشْرَبْ بِأَقْدَاحٍ صِغَارٍ     فَاِنَّ الْوَقْتَ ضَاقَ عَنِ الصِّغَارِ

Apabila dua puluh Sya’ban telah lewat

Maka sambunglah minum malammu dengan siang hari

Dan jangan minum dengan gelas-gelas kecil

Karena waktu itu sempit untuk hal-hal yang kecil

Mendengar syair itu sang faqih langsung kebingungan. Maka ia pergi ke Mekkah. Ia tinggal di sana sampai meninggal dunia.

Ada tiga orang mendengar seorang lelaki di pasar menjajakan kue sambil mengatakan, “يَا سَعْتَرْبَرِي”. Tiba-tiba ketiga orang itu pingsan. Setelah sadar mereka ditanya.

“Aku tadi mendengar اِسْعَ تَرَ بِرِّيْ ! (giatlah maka pasti engkau akan melihat karunia pemberian-Ku),” jawab orang pertama. Ia adalah seorang murid yang menempuh jalan Allah. Mendengar kata itu ia menjadi bersemangat menuju Allah.

“Aku tadi mendengar السَّاعَةَ تَرَى بِرِّي (Sekarang inilah engkau melihat karunia pemberian-Ku),” ucap orang kedua. Orang ini adalah orang wasil yang menyambung perjalanannya dan terbakar hatinya dengan rasa cinta kepada Allah. Ia sudah lama menunggu sampai kepada Allah.

“Aku tadi mendengar مَا اَوْسَعَ بِرِّي (Alangkah luasnya karunia pemberianku),” kata orang yang ketiga. Ia adalah seorang arif yang pada saat itu disingkapkan kepadanya luasnya kemurahan Allah.

Masing-masing dari ketiga orang tersebut merasa diajak bicara oleh Allah dalam hatinya. Tapi pemahaman dan tingkatan mereka berbeda.

Syeikh Muhyiddin bin Al-Arabi berkata, “Kami diundang oleh seorang teman sufi di Zuqaq Manazil, Mesir. Di sana berkumpul banyak masyayikh (guru-guru tarekat). Disuguhkanlah berbagai makanan dalam banyak wadah. Di situ ada wadah kaca yang dulunya dipakai sebagai tempat kencing. Ketika para masyayikh sedang makan tiba-tiba wadah kaca itu berbicara, ‘Sejak Allah memberi aku kehormatan dengan dipakai makan oleh para tokoh sufi ini aku tidak rela lagi, setelah hari ini, menjadi tempat kotoran.’ Kemudian wadah itu pecah menjadi dua.”

“Aku bertanya kepada para masyayikh itu, ‘Apa yang kalian dengar?’ Mereka mengatakan bahwa mereka mendengar wadah itu mengucapkan perkataan seperti tertera di atas. Aku mengatakan bahwa wadah itu mengucapkan perkataan lain. Ia berkata, ‘Begitulah hati kalian. Allah telah memuliakan hati kalian dengan iman, maka setelah itu, janganlah kalian rela ia menjadi tempat najisnya maksiat dan cinta dunia.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.