Kewajiban Waktu Dan Kewajiban Dalam Waktu, Apa Bedanya ?

Keterlambatan Itu Darimu Bukan Dari-Nya
Mar 4, 2021
Yang Hilang Tak Bisa Diganti, Yang Didapat Tak Ternilai Harganya
Mar 13, 2021

حُقُوْقٌ فِى الْأَوْقَاتِ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا وَحُقُوْقُ الْأَوْقَاتِ لَا يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا, اِذْ مَا مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ اِلَّا وَلِلّٰهِ عَلَيْكَ فِيْهِ حَقٌّ جَدِيْدٌ وَاَمْرٌ اَكِيْدٌ, فَكَيْفَ تَقْضِيْ فِيْهِ حَقَّ غَيْرِهِ وَاَنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللهِ فِيْهِ

Kewajiban-kewajiban yang ada di dalam waktu dapat dilaksanakan, tetapi kewajiban-kewajiban waktu yang disediakan oleh Allah tidak dapat dilaksanakan. Sebab, tiada satu waktu yang datang melainkan ada hak kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan. Bagaimana engkau dapat menyelesaikan hak yang lain, sedangkan engkau belum bisa menyelesaikan hak Allah di dalam waktu itu.

 

DI dalam kata hikmah ini Ibn Athaillah menyebutkan bahwa ada dua macam kewajiban.

Pertama, kewajiban-kewajiban yang ada di dalam waktu. Ini seperti shalat lima waktu, puasa, zakat dan yang lainnya. Kewajiban ini harus dilaksanakan pada waktu yang ditentukan. Tetapi, apabila kewajiban ini tidak dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan, maka bisa dilakukan atau diganti pada waktu yang lain, walaupun pelakunya dianggap sebagai orang yang lalai dalam melaksanakan kewajiban tersebut.

Kedua, hak kewajiban waktu. Yang dimaksud dengan hak waktu adalah di setiap waktu ada keadaan yang turun kepada seorang hamba dan setiap waktu itu memiliki hak kewajiban (berupa ibadah) yang harus dipenuhi oleh hamba tersebut. Pada setiap detiknya seorang hamba harus muraqabah (mengawasi hatinya) untuk selalu ingat kepada Allah.

Syeikh Abul Abbas Al-Mursi berkata: “Waktu seorang hamba itu ada dalam salah satu dari empat keadaan, tidak ada yang kelima. Nikmat, cobaan, taat atau maksiat. Setiap waktu dari empat keadaan itu memiliki hak kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba tersebut. Ketika dalam kenikmatan harus bersyukur. Ketika mendapat cobaan harus ridho dan bersabar. Ketika dalam ketaatan harus merasa bahwa amal taat itu adalah suatu pertolongan yang datang dari Allah. Ketika dalam maksiat, maka harus beristighfar kepada-Nya.”

Mengenai hal ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنْ اُعْطِيَ فَشَكَرَ وَابْتُلِيَ فَصَبَرَ وَظُلِمَ فَغَفَرَ وَاَذْنَبَ فَاسْتَغْفَرَ

“Barangsiapa diberi lalu bersyukur, diuji lalu bersabar, didhalimi lalu memaafkan, bedosa lalu beristighfar…

Kemudian Rasulullah terdiam. Maka para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang ia dapatkan, Ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab:

اُولٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

“Mereka mendapatkan kesejahteraan (di akhirat) dan mereka mendapat petunjuk (di dunia). ”

Ketahuilah, untuk menegakkan yang kedua (hak kewajiban waktu) dengan sempurna hampir-hampir tidak bisa dilakukan oleh manusia. Allah Ta’ala beriirman:

وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Mereka tidak bisa beribadah yang sesungguhnya kepada Allah (mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya).” (QS. Al-An’am : 91)

Oleh karena itu, hak kewajiban waktu ini tidak bisa dilaksanakan. Sebab, setiap saat harus mengawasi hatinya. Ini sangat sulit. Tidak semua orang bisa melakukannya. Malahan orang-orang besar itu tidak mampu menjaga hatinya di waktu shalat. Bagaimana bisa menjaga dan menghadirkan Allah di dalam hati pada setiap waktu?

Namun ada orang tertentu yang mendapat rahmat yang besar dari Allah yang bisa melakukan itu. Orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapat rahmat-Nya yang khusus.

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ

“Allah memberikan rahmat-Nya yang khusus kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ali Imran : 74)

Ada seorang Sufi mengatakan: “ Selama dua puluh tahun tak terlintas di hatiku kecuali Allah.”

Syeikh Abul Hasan berkata: “ Orang yang cinta kepada Allah tidak mau memakai anggota badannya kecuali pada yang disukai kekasihnya. Pada setiap nafasnya terisi dengan ketaatan. Andaikan ia dihalangi dari ibadah, maka ia akan meninggalkan dunia (mati) seketika. Sebab, ketaatan sudah menjadi makanan ruhnya. Kalau ia terpisah dari taat, maka ia akan mati.”

Kesimpulannya, kalau tidak bisa melakukan yang kedua (hak kewajiban waktu), karena memang itu adalah sulit dan maqam yang tinggi, maka cukup melaksanakan yang pertama, yaitu kewajiban yang ada dalam waktu. Niscaya, dengan melakukan kewajiban-kewajiban dalam waktu, maka seseorang itu beruntung dan masuk surga, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini.

Ada seorang Arab Baduwi datang kepada Nabi. Suaranya keras. Rambutnya awut-awutan. Ia bertanya kepada Nabi tentang Islam. Nabi bersabda: “Mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari semalam.”

“Apakah saya wajib mengerjakan shalat yang lain?” tanya Baduwi itu.

“Tidak, kecuali kau melakukan ibadah sunnah,” jawab Nabi.

“Dan puasa Ramadhan,” Nabi meneruskan.

“Apakah saya wajib mengerjakan yang lain?” tanya Baduwi itu.

“Tidak, kecuali kau melakukan ibadah sunnah,” jawab Nabi.

“Dan membayar zakat,” lanjut Nabi.

“Apakah saya wajib mengerjakan yang lain?” tanya Baduwi itu.

“Tidak, kecuali kau melakukan ibadah sunnah,” jawab Nabi.

“Dan haji ke Baitullah bila mampu,” Nabi melanjutkan.

“Apakah saya wajib mengerjakan yang lain?” tanya Baduwi itu.

“Tidak, kecuali kau melakukan ibadah sunnah,” jawab Nabi.

Kemudian si Baduwi itu berbalik dan berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan lebih dan kurang dari (kewajiban) ini.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَفْلَحَ اِنْ صَدَقَ, (اَوْ) دَخَلَ الْجَنَّةَ اِنْ صَدَقَ

“Ia beruntung kalau ia berkata benar,” atau “Ia masuk surga kalau ia berkata benar.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.