Kenikmatan terbesar: Dhahir Ibadah, Batin Ridho

Bila Permintaanmu Tak Kunjung Datang, Jangan Tuntut Tuhan, Tuntut Dirimu Sendiri
Jan 25, 2020
Tidak Semua Yang Keramat Itu Sempurna
Feb 7, 2020

مَتَى جَعَلَكَ فِي الظَّاهِرِ مُمْتَثِلًا لِأَمْرِهِ وَرَزَقَكَ فِي الْبَاطِنِ الْإِسْتِسْلَامَ لِقَهْرِهِ فَقَدْ أَعْظَمَ الْمِنَّةَ عَلَيْكَ

Apabila Allah telah menjadikan badan dhahirmu mengikuti perintah-perintah-Nya (dan menjauhi larangan-larangan-Nya), dan menjadikan hatimu menyerah penuh kepada kekuasaan-Nya, maka berarti Allah telah memberikan kepadamu sebesar-besar nikmat karunia-Nya.

JIKA seseorang diberi taufik dan hidayah oleh Allah, lalu ia melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan ditambah di hatinya perasaan tawakkal, menyerah bulat dan ridho kepada Allah, maka orang tersebut telah mendapatkan sebesar-besar nikmat karunia Allah.
Arti ridho kepada Allah ialah selalu menerima apa yang ditentukan oleh Allah baik berupa nikmat atau cobaan. Seandainya Allah memberinya cobaan, ia tetap menerima dan berpasrah bulat kepada Allah. Ia tidak murka dan tidak berubah. Ia tetap melakukan amal ibadah dan perintah-perintah-Nya.
Seseorang yang bisa beristiqamah melaksanakan perintah Allah, dan berpasrah bulat kepada-Nya dianggap telah mendapat karunia Allah yang terbesar, karena ia telah sempurna mendapatkan kenikmatan dhahir dan batin dari Allah. Dhahirnya beristiqamah, batinnya bertawakkal.
Ia telah mencapai nikmat terbesar dikarenakan ia telah menyaksikan makrifah yang merupakan puncak kenikmatan. Ia telah mendapatkan kebutuhan dunia dan akhiratnya. Dhahirnya melaksanakan perintah Allah berarti orang itu sempurna syariatnya dan ia menyatakan kehambaannya (tahqiqul ubudiah). Sedangkan batin yang pasrah bulat kepada Allah menunjukkan kesempurnaan thariqat dan puncak haqiqat.
Bertolak belakang dengan orang ini adalah seseorang yang tidak bisa beristiqamah dan hatinya tidak menyerah penuh kepada Allah. Imannya lemah. Ia tidak mendapat taufik dan hidayah dari Allah sehingga ia tidak bisa sungguh-sungguh dan beristiqamah dalam ibadah. Orang ini disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai orang yang menyembah Allah di pinggiran.
Allah Ta’aJa berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (11)

“Dan sebagian manusia ada yang menyembah Allah di pinggiran. Bila ia tertimpa kebaikan maka ia merasa tenang, bila ia tertimpa cobaan ia berpaling. Ia rugi dunia dan akhirat. Itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)

Hikayat
Sayyidi Abul Hasan radhiyallahu anhu berkata: Aku berteman dengan seseorang karena Allah di sebuah lembah. Kami menyendiri beruzlah di dalam sebuah gua dengan tujuan mudah-mudahan kami menjadi wali dan mendapatkan futuh dari Allah seperti mereka. Kami diam di gua itu dalam waktu yang lama. Kami berkata, “Mungkin Jumat ini (jadi wali), mungkin bulan ini.’ Namun Allah belum membukakan pintu untuk kami. Keadaan terus seperti itu.
Pada suatu hari ada seorang tua di pintu gua. Ia meminta izin kepada kami untuk masuk. Kami memberinya izin. Ia masuk dan mengucapkan salam. Ia berdiri.
“Siapa Anda?” tanya kami kepada orang tua itu.
“Abdul Malik (hamba Maha Raja),” jawabnya. Maka kami tahu bahwa orang itu adalah termasuk wali Allah.
“Bagaimana keadaan Anda?” tanya kami selanjutnya.
“Bagaimana keadaanmu …” ucap orang tua itu berulang-ulang kali dengan nada ingkar kepada kami. Lalu ia melanjutkan perkataannya.
“Bagaimana keadaan orang yang mengatakan kepada dirinya, ‘Jumat ini aku jadi wali, bulan ini aku jadi wali.’ Tetapi ia tidak mendapatkan kewalian, tidak sukses, tidak dunia, tidak akhirat. Wahai diri, kenapa engkau tidak beribadah kepada Allah dengan tulus sebagaimana engkau diperintah? Allah berfirman, “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku.”
Kemudian orang tua itu pergi meninggalkan kami. Maka kami sadar dari kesalahan kami. Dari mana syeikh itu tahu urusan kami. Kami mengerti bahwa Allah menyayangi kami dengan diberi pelajaran. Aku kembali menyalahkan diriku.
“Wahai diri ini, siapa kamu? Apa yang terlintas di hatimu? Apa amalmu? Engkau tidak punya apa-apa,” aku cela diriku sendiri. Lalu kami bertaubat dan beristighfar kepada Allah. Maka kemudian Allah membukakan pintu kepada kami dengan kemurahan dan karunia-Nya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.