Kenal Wali, Berarti Akan Jadi Wali

Cahaya Hati Tidak Diobral
Jul 20, 2020
Diperlihatkan Rahasia Malakut-Nya, Ditutupi Dari Rahasia Hamba-Hamba-Nya
Jul 26, 2020

سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِ الدَّلِيْلَ عَلَى اَوْلِيَائِهِ اِلَّا مِنْ حَيْثُ الدَّلِيْلُ عَلَيْهِ, وَلَمْ يُوْصِلْ اِلَيْهِمْ اِلَّا مَنْ اَرَادَ اَنْ يُوْصِلَهُ اِلَيْهِ

Maha suci Allah yang menjadikan tanda kepada para wali-Nya melainkan sekedar mengenalkan kepada-Nya, dan Allah tidak dipertemukan kepada mereka kecuali orang yang dikehendaki oleh Allah untuk sampai kepada-Nya.

PARA wali adalah orang-orang khusus yang diberi banyak keistimewaan oleh Allah. Batin para wali disucikan dari kotoran aghyar atau segala sesuatu yang selain Allah. Hati mereka dijaga oleh Allah sebab di dalamnya tersimpan cahaya-cahaya dan rahasia-rahasia ilahi. Mereka adalah simpanan Allah (di antara para hamba-Nya). Dalam sebuah isyarat Allah berfirman:

اَوْلِيَائِيْ تَحْتَ قُبَابِيْ لَا يَعْرِفُهُمْ اَحَدٌ غَيْرِيْ

“Wali-wali-Ku di bawah perlindungan-Ku, tidak ada seorangpun yang mengenal mereka selain Aku.”
Artinya, para wali itu disembunyikan oleh Allah dari mata jahil manusia. Ini dikarenakan Allah cinta dan sangat cemburu kepada para wali-Nya, sehingga mereka tidak diobral begitu saja dan dipamerkan kepada siapa saja. Mereka disamarkan di antara para hamba Allah. Bahkan kadang-kadang Allah menampakkan mereka kepada manusia dengan penampilan yang dihina oleh manusia.
Tidak ada yang bisa melihat mereka kecuali orang-orang istimewa yang mendapatkan inayah yang khusus dari Allah. tidak lain, orang yang mengenal para wali adalah orang yang mendapat petunjuk dari Allah dan dikehendaki untuk sampai kepada-Nya.
Oleh karena itu ada pepatah sufi yang mengatakan :

لَا يَعْرِفُ الْوَلِيَّ اِلَّا الْوَلِيُّ

“Tidak mengenal wali kecuali wali. ”
Arti pepatah di atas ialah tidak mengetahui wali kecuali orang yang akan dijadikan wali. Rahasia dan sifat-sifat keistimewaan para wali disingkap kepada orang tersebut. Ia mengetahui amalan atau wirid yang dilakukan wali itu. Kemudian ia melakukannya. Dan pada akhirnya ia menjadi wali juga.
Dikarenakan para wali adalah orang-orang khusus, maka yang mengetahui mereka orang-orang khusus pula. Sebagaimana batu-batu mulia, tidak semua orang mengetahuinya. Hanya orang-orang ahli yang memiliki ilmu khusus yang mengenalnya. Orang itu bisa membedakan antara permata, berlian ataukah beling (pecahan kaca). Orang awam bisa salah menilai. Permata dikira kaca. Kaca disangka permata. Orang Arab berkata:

لَا يَعْرِفُ الْجَوْهَرَ اِلَّا الْجَوْهَرِيّ

“Tidak mengetahui permata kecuali ahli permata.”
Wali tidak bisa diketahui dengan bentuk dhohirnya, seperti dari bentuk badan atau dari cara berpakaiannya. Tapi ia bisa dikenal dari batin atau maknawinya. Karena Allah hanya memandang hati bukan pakaian atau jasad seseorang.

اِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ اِلَى اَجْسَادِكُمْ وَلَا اِلَى صُوَرِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ اِلَى قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang jasad kalian dan tidak memandang bentuk kalian, tetapi Allah memandang kepada hati kalian.”
Dikatakan dalam hadits shahih :

رُبَّ اَشْعَثَ مَدْفُوْعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ اَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ

“Adakalanya (di antara hamba-hamba Allah) yang rambut kusut tidak teratur, diusir bilamana ia mampir ke pintu-pintu (rumah orang lain). Namun andaikan ia memohon kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan permohonannya.” (HR. Muslim)
Di antara ulama ada yang mengartikan : “Seandainya ia bersumpah, pasti Allah akan membenarkan sumpahnya. ”
llmu Athaillah berkata dalam kitab Lathaiful Minan: “Para wali Allah adalah orang-orang yang disembunyikan dalam gua Allah. Maka sedikit sekali orang yang mengenal mereka.”
Abul Abbas Al-Mursi berkata: “Mengenal wali lebih sukar daripada mengenal Allah. Sebab Allah sudah dikenal dengan kesempurnaan dan keindahan-Nya. Sampai kapan kau mengenal makhluk seperti engkau? Ia makan sebagaimana kau makan, ia minum sebagaimana kau minum.”
“Tetapi bila Allah ingin mengenalkan dirimu dengan wali-Nya, maka Allah menutupi sifat basyariah wali itu dan yang diperlihatkan padamu keistimewaan-keistimewaannya.”
Memang Allah tidak membuka keistimewaan para wali kepada orang yang bukan ahlinya. Bila seseorang dikehendaki oleh Allah untuk sampai kepada-Nya, maka Allah menyingkap keistimewaan, kebagusan, kekeramatan wali-Nya kepada orang tersebut. Sifat kebiasaan manusiawi wali itu ditutup dari orang itu. Maka yang ia pandang adalah yang bagus-bagus saja. Lalu ia mencintai wali itu, meniru dan kemudian menjadi wali juga.
Pengarang kitab Anwar Alqulub mengatakan: “Allah memiliki hamba-hamba (para wali) yang ditutup dari orang umum dan ditampakkan kepada orang-orang khusus. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali orang yang sama seperti mereka atau orang yang mencintai mereka. Ada wali yang ditutup dari orang umum dan orang khusus. Ada wali yang ditampakkan kepada orang umum dan orang khusus. Ada yang ditampakkan pada permulaannya dan ditutupi pada akhirnya. Ada yang ditampakkan pada akhirnya dan ditutupi pada permulaannya.
Allah juga punya hamba-hamba yang tidak ada makhluk yang tahu. walaupun malaikat hafadhah, hakikat antara Allah dan mereka. Mereka adalah syuhada’ alam malakut yang teratas dan barisan kanan dari Arsy Allah. Mereka adalah orang-orang yang dicabut nyawanya oleh Allah sendiri. Maka badan mereka harum. Nyawa mereka tidak sampai tersentuh tanah, sehingga mereka dibangkitkan dengan memancarkan cahaya kekekalan bersama Dzat Yang Maha Kekal.”
Abu Yazid berkata: “Para wali itu bagai pengantin. Dan tidak ada yang melihat pengantin kecuali mahromnya. Selain mahromnya tidak boleh melihat mereka. Mereka (para wali) ditutupi di dalam kamar kemesraan Allah. Tidak ada yang melihat mereka di dunia dan akhirat.”
Abu Ali Al-Jurjani berkata: “Seorang wali adalah orang yang lupa pada dirinya, yang tetap dalam menyaksikan Allah Yang Maha Haq. Allah yang mengurus segala urusannya. Mereka tidak punya ikhtiar. Hatinya tidak memiliki ketetapan kepada selain Allah.”
Dalam sebuah isyarat dari Allah disebutkan, “Mereka disebut wali karena mereka dekat dengan-Ku bukan selain Aku.”

Salah Terka
Seorang ulama besar mengatakan bahwa di pasar kota Syibam, Hadramaut, ada tiga puluh wali. Seseorang ingin membuktikan perkataan orang ini. Maka pada suatu hari orang itu berangkat ke pasar kota Syibam. Ia datang pagi-pagi buta. Ia bermaksud meneliti keberadaan tiga puluh wali itu. Ia sudah menyiapkan tasbihnya untuk menghitung mereka.
Orang itu berada di depan pintu utama pasar. Satu persatu orang mulai berdatangan ke pasar itu. Orang itu melihat dengan teliti orang-orang yang masuk ke pasar itu. Bila ada orang yang dianggapnya masuk dalam tiga puluh orang yang ia cari, maka ia memutar satu biji tasbih yang ia pegang.
Ada seorang tua bersurban masuk. “Ini wali,” ungkapnya. Ia putar tasbihnya. Begitulah seterusnya, setiap kali ada orang yang menurutnya berpenampilan wali, maka ia masukkan orang itu ke daftar orang yang ia cari. Bila tidak, maka ia tidak memutar tasbihnya. Matanya terus melihat dengan seksama. Lalu masuklah seseorang yang badannya bercelemotan sumba pewarna pakaian. Rupanya ia tukang celup. “Ah, ini tak masuk hitungan. Masak ada wali seperti ini,” ungkap pencari wali itu dalam hati. Tukang celup itu mulai melewati pintu pasar itu. Sekonyong-konyong ia menghentikan langkahnya dan mundur.
“Hitunglah aku. Aku termasuk memka,” ucap tukang celup itu dengan suara lantang kepada sang pencari wali itu. Orang itu kaget. Ternyata tukang celup itu tahu apa yang ia lakukan. Maka ia berhenti menghitung dan pulang dengan rasa percaya akan keberadaan ‘Tiga Puluh Wali’ di pasar Syibam. Tukang celupnya saja wali. Apalagi yang lain.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.