Jangan Pernah Menjabat Kalau Tidak Ingin Dipecat

Rizki Yang Cukup Adalah Nikmat Yang Sempurna
May 12, 2021
Permulaannya Menarik, Akhirannya Menjemukan
May 30, 2021

اِنْ اَرَدْتَ اَنْ لَا تُعْزَلَ فَلَا تَتَوَلَّ وِلَايَةً لَا تَدُوْمُ لَكَ

Apabila engkau tidak ingin dipecat, maka janganlah memangku jabatan yang tidak kekal bagimu.

 

JABATAN yang tidak kekal adalah jabatan-jabatan duniawi, seperti menjadi presiden, bupati dan pejabat pemerintah. Semua itu tidak ada yang langgeng. Kedudukan-kedudukan duniawi yang dijabat oleh seseorang pasti pada suatu saat akan hilang darinya dan digantikan oleh orang lain. Ketika seseorang menjabat jabatan itu maka ia merasa mulia dan ketika ia gagal atau dicopot dari jabatan itu maka kehinaan yang ia rasakan.

Imam Zarruq menyatakan bahwa keadaan seseorang yang memangku jabatan duniawi tidak luput dari salah satu dari tiga hal. Pertama, orang itu dicopot dari jabatannya di masa hidupnya dan ini adalah musibah terbesar. Ini sangat hina dan menyakitkan. Kedua, ia pasti lepas dari jabatan itu dengan kematian. Dan maut adalah suatu yang pasti terjadi. Ketiga, jabatan itu ternyata tidak seperti yang ia harapkan. Jabatan itu malah membuat hidup seseorang tersiksa.

Oleh karena itu, agar tidak merasakan kepedihan, kesedihan dan dan kehinaan ketika dicopot dari sebuah jabatan maka pecatlah dirimu sebelum dipecat. Maksudnya, janganlah mau menerima jabatan-jabatan tersebut dan jangan pernah berambisi untuk meraihnya.

Tapi sebaliknya, terimalah jabatan yang kekal bagimu. Yaitu jabatan (wilayah) yang datang dari Allah subhanhu wa ta’ala. Jarang sekali orang yang mendapatkan kedudukan ini dicabut dari jabatannya. Ini sebuah kedudukan yang merupakan ‘izzud daarain (kemulian di dunia dan akherat).

Apakah jabatan yang kekal itu?

Jabatan itu adalah (AI-‘Izzu Billah) merasa mulia dengan Allah, (Al-Gina Billah) merasa kaya dengan Allah, makrifat kepada Allah dan sirna dari selain Allah. Tidak diragukan lagi ini adalah kedudukan yang tidak akan terputus, kemuliaan yang tidak akan habis dan kejayaan yang tidak akan sirna.

Tidakkah kita lihat kekuasaan dan kedudukan ahli dunia habis bersama kematian mereka, tapi kedudukan dan kemuliaan para wali Allah tetap langgeng walaupun mereka sudah meninggal dunia.

Diceritakan bahwa Abdullah bin Mubarak, seorang ulama amilin dari tabii tabiin, datang kepada Raja Harun Arrasyid. Ketika Abdullah bin Mubarak masuk ke tempat Harun maka pasukan-pasukan kerajaan berjejal ingin berziarah ke ulama yang dikenal kezuhudannya itu. Suasananya ramai sekali, terjadilah desak-desakkan sehingga banyak sandal yang putus dan debu membumbung ke udara dari banyaknya orang yang datang kepada Abdullah bin Mubarak.

Seorang selir Harun Arrasyid yang melihat berjubelnya manusia itu bertanya, “Ada apa ini?”

“Ini orang Alim Khurasan (Abdullah bin Mubarak),” jawab mereka.

“Demi Allah. Inilah kerajaan dan kemuliaan yang sesungguhnya. Bukan kerajaan Harun yang bisa mengumpulkan manusia dengan cambuk dan tongkat,” ucap selir itu.

Begitu pula, kekuasaan yang kekal (kewalian) ini bisa menjalar kepada keturunannya dan kekal kepada mereka sesuai dengan kadar kedudukannya dan besarnya kewaliannya di sisi Allah. Maka setiap orang yang besar kewaliannya maka itu akan langgeng pada keturunannya dan para pengikutnya sesuai besarnya kewalian orang tersebut.

Kisah Nabi Khidir dan harta anak yatim yang dijaga oleh Allah berkat kesalehan ayah kedua anak itu sebagai bukti kekalnya wilayah (kekusaan) yang datang dari Allah. Allah berfirman menukil perkataan Nabi Khidir:

وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا

“Dan ayah kedua anak itu adalah orang shaleh.” (QS. Al-Kahfi : 82)

Disebutkan dalam tafsir bahwa itu adalah kakek ke tujuh dari kedua anak yatim itu. Jadi Allah menjaga harta kedua anak itu berkat kesalehan sang kakek.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.