Jangan Kau Duakan Cinta-Nya

Yang Hilang Tak Bisa Diganti, Yang Didapat Tak Ternilai Harganya
Mar 13, 2021
Perintahkan Taat Dan Larang Maksiat, Semata Untuk Keuntunganmu
Apr 9, 2021

 مَا اَحْبَبْتَ شَيْئًا اِلَّا كُنْتَ لَهُ عَبْدًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ اَنْ تَكُوْنَ لِغَيْرِهِ عَبْدًا

Engkau tidak mencintai sesuatu melainkan engkau menjadi hamba dari sesuatu yang engkau cintai itu, sedangkan Allah tidak suka engkau menjadi hamba selain-Nya.

Apabila hati mencintai sesuatu maka hati itu akan menghadap kepadanya. Ia akan tunduk kepada yang dicintainya dan taat terhadap segala perintahnya.

اِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعٌ

“Sesungguhnya orang yang mencintai itu tunduk patuh kepada yang dicintainya.”

Inilah hakekat perbudakan, tunduk dan patuh.

Hati hanya memiliki satu arah. Manusia hanya memiliki satu hati. Allah Ta’ala berfirman:

مَا جَعَلَ اللهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِى جَوْفِهِ

“Allah tidak menjadikan bagi seorang lelaki dua hati di dadanya.” (QS. Al-Ahzab : 4)

Kalau hati itu hanya punya satu arah, maka bila hati itu menghadap kepada Tuhannya ia pun berpaling dari yang lain-Nya. Hati itu menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Tapi, kalau ia menghadap kepada hawa nafsu, dengan menuruti perintahnya, berarti ia berpaling dari Allah. Ia bukan hamba Allah, tetapi hamba hawa nafsu. Sedangkan Allah tidak senang jika seorang hamba itu menjadi hamba selain-Nya. Sebab, yang pantas untuk hati hanyalah Allah.

Allah Ta’ala berfirman mencela orang yang menjadi hamba dari hawa nafsunya:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya atas dasar ilmu, dan Allah mengunci pendengaran dan hatinya, dan menjadikan penutup di matanya. Siapakah yang memberinya petunjuk selain Allah? Tidakkah kalian mengambil peringatan.” (QS. Al-Jaatsiyah : 23)

Ayat ini mencela orang yang menjadi budak hawa nafsunya dan menjadikannya sebagai tuhan. Orang itu, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas, tersesat atas dasar ilmu. Sebenarnya, ia mengetahui kebenaran. Tetapi, ia pura-pura bodoh demi mengikuti hawa nafsunya. Akhirnya, telinga dan hatinya terkunci. Matanya tertutup dari kebenaran disebabkan cintanya kepada hawa nafsu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِى وَيُصِم

“Cintamu kepada sesuatu membutakan dan membikin tuli.”

Artinya, ada cinta yang membutakan mata dan membikin tuli telinga. Orang sering menyebutnya dengan ‘cinta buta’. Membutakan dari kebenaran. Segala aib orang yang dicintai itu menjadi tidak terlihat. Cinta juga membikin telinga tuli dari segala nasihat kebenaran, tuli dari segala kejelekan kekasihnya.

Penyair berkata:

وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْ   كَمَا اَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَ

Bila sudah cinta, mata menjadi buta dari segala aib

Bila sudah benci, mata akan menyingkap segala keburukan

Memang, cinta yang mendalam bila tidak dikendalikan oleh akal sehat atau agama akan menjadikan seseorang buta dan tuli dari kebenaran. Oleh sebab itu, dalam hadits di atas bermaksud melarang mencintai sesuatu yang tidak pantas dicintai dan jangan terlalu tenggelam dalam cinta.

Rasulullah bersabda mencela orang yang menjadi hamba selain Allah:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَالزَّوْجَةِ وَعَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ وَانْتَكَسَ, وَاِذَا شِيْكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Celaka (sial) budak dinar, budak dirham, budak istri, budak permadani. Celaka dan rugi. Apabila tertusuk duri semoga tidak bisa dikeluarkan durinya.

Imam Junaid berkata: “Engkau tidak bisa mencapai hakekat ubudiyah kepada Allah selagi engkau diperbudak oleh selain Allah.”

Imam Junaid pernah ditanya tentang orang yang masih tersisa cinta dunia di hatinya sekadar hisapan biji kurma. Junaid menjawab: “Mukatab masih disebut budak selama masih ada sisa yang belum dibayar (kepada tuannya) walau satu dirham.”

Ada hikayat yang sesuai dengan masalah ini dari Abi Abdillah ArRozi yang tinggal di Nisabur. Ar-Rozi berkata: “Aku pernah diberi pakaian yang terbuat dari bulu oleh Ibnul Anbari. Kemudian Aku melihat Syibli memakai kopyah yang serasi dengan baju yang diberi oleh Ibnul Anbari kepadaku. Terlintas di hatiku ‘andai aku bisa memiliki semuanya (baju dengan songkok yang dipakai Syibli itu)’. Ketika Syibli berdiri dari duduknya ia menoleh kepadaku. Aku mengikutinya. Biasanya, bila Syibli berkeinginan agar aku membuntutinya ia menoleh dulu kepadaku. Ia masuk rumahnya. Aku ikut masuk. ‘Copot baju bulumu itu,’ perintahnya kepadaku. Aku lepas baju itu. Syibli melipatnya dan menaruh kopyahnya di atas lipatan baju tersebut. Syibli meminta api dan membakar kedua-duanya. ‘Jangan engkau sisakan di hatimu menoleh kepada selain Allah,’ nasihat Syibli kepadaku.”

Cerita seperti ini, membakar baju yang dilakukan Syibli, diingkari oleh sebagian orang yang tidak mengerti maksud dan tujuan perbuatan yang tampak secara dhahir menyalahi syariat itu. Apa yang dilakukan para sufi ini berdasarkan pada amal hati, dalam rangka membersihkan hati dari kecintaan dunia yang disepakati oleh ulama dhahir atau batin bahwa membersihkan hati dari kotoran itu wajib hukumnya. Ini sama seperti yang diperbuat oleh Nabi Sulaiman dengan memotong kaki dari kuda-kuda yang ia siapkan untuk berjihad, karena menyebabkan ia ketinggalan shalat Ashar.

Sama pula dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah yang sangat marah sehingga mendoakan jelek kepada orang-orang musyrik Quraisy dalam perang khandaq. Kala itu Rasululah disibukkan oleh orang-orang musyrik itu sehingga Rasulullah melakukan shalat Ashar di waktu shalat Maghrib. Rasulullah marah karena hubungan hatinya dengan Allah terganggu. Lantas Rasulullah berdoa:

مَلَأَ اللهُ بُيُوْتَهُمْ وَقُبُوْرَهُمْ نَارًا, شَغَلُوْنَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى حِيْنَ غَابَتِ الشَّمْسُ

“Semoga Allah memenuhi rumah dan kuburan mereka dengan api. (Sebab) mereka telah menyibukkan kami sehingga kami tidak melakukan shalat Ashar.” (HR. Bukhari-Muslim)

Akhirnya, marilah kita belajar menghilangkan dari hati kita kecintaan kepada dunia sedikit demi sedikit. Boleh saja memiliki dunia tapi letakkan dunia itu di tangan dan jangan masukkan di hati. Kalau sudah hilang kecintaan dunia itu di hati, maka pantaslah kita disebut hamba Allah yang sebenarnya. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.