Jangan Bingung ! Bersyukur Itu Mudah

Syahwat Hati Terusir Dengan Takut Dan Rindu
Feb 24, 2021
Allah Tak Suka Amal Dan Hati Yang Tidak Murni
Feb 26, 2021

لَا تُدْهِشُكَ وَارِدَاتُ النِّعَمِ عَنِ الْقِيَامِ بِحُقُوْقِ شُكْرِكَ فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا يَحُطُّ مِنْ وُجُوْدِ قَدْرِكَ

Janganlah datangnya nikmat yang bertubi-tubi membingungkanmu untuk menunaikan kewajiban mensyukurinya. Sebab, demikian itu menjatuhkan harga dirimu sendiri.

 

NIKMAT Allah yang diberikan kepada manusia datang bertubi-tubi dan tanpa henti. Setiap detik manusia tidak luput dari nikmat tersebut. Nikmat Allah sangatlah banyak dan tak bisa dihitung. Seperti, nikmat panca indera, akal, sehat wal aflat, kecukupan, nikmat hidayah, Islam, iman, taat, ilmu dan nikmat memiliki seorang syeikh (guru pembimbing).

Begitu banyaknya nikmat yang Allah berikan janganlah membuat seseorang bingung dan menghina dirinya dengan merasa tidak sanggup dan meninggalkan bersyukur kepada-Nya. Sebab, Allah tidak menyuruh kita untuk bersyukur sesuai dengan besarnya kenikmatan itu. Bila dituntut seperti itu maka tak ada orang yang bisa melakukannya. Tapi, Allah memerintahkan bersyukur menurut kemampuan manusia.

Allah telah mengangkat derajat manusia. Allah menjadikan amal manusia yang sedikit menjadi banyak. Allah menerima walau dengan syukur sedikit. Cara mensyukuri kenikmatan ialah lisan mengucapkan: الحمد لله رب العالمين dengan hati mengakui bahwa segala kenikmatan itu semata-mata datangnya dari Allah. Ketika penduduk surga masuk surga yang merupakan tempat kenikmatan terbesar, mereka mensyukurinya dengan ucapan :

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Sahal bin Abdullah At-Tusturi mengatakan: “Tak ada satu nikmat kecuali Alhamdulillah itu lebih baik dari nikmat tersebut. Nikmat berupa diilhaminya membaca Alhamdulillah lebih utama dari nikmat yang pertama. Sebab, syukur itu membuat nikmat bertambah.”

Imam Ja’far As-Shadiq menceritakan bahwa ayahnya, Imam Muhammad Al-Baqir pernah kehilangan bagalnya. Ia berkata :

لَئِنْ رَدَّهَا اللهُ تَعَالَى عَلَيَّ لَأَحْمَدَنَّهُ مَحَامِدَ يَرْضَاهَا

“Bila Allah mengembalikannya padaku, maka aku akan memujinya dengan pujian-pujian yang diridhai-Nya.”

Tak lama kemudian bagal itu kembali lengkap dengan pelana dan tali kekangnya. Imam Al-Baqir lantas menaiki bagal itu. Ketika ia sudah berada di atas bagal itu beserta pakaiannya, Imam Al-Baqir mengangkat kepalanya ke arah langit. Ia berkata : الحَمْدُ للهِ tidak lebih dari itu.

Maka ada orang yang menanyakan kepada Al-Baqir tentang hal tersebut. Katanya ia akan memuji Allah dengan pujian-pujian yang membuat Allah ridho, kenapa cukup Alhamdulillah saja?

Imam Al-Baqir menjawab :

وَهَلْ تَرَكْتَ اَوْ أَبْقَيْتَ شَيْئًا, جَعَلْتُ الْحَمْدَ كُلَّهُ للهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Apakah aku meninggalkan atau menyisakan sesuatu? Semua pujian telah aku sampaikan untuk Allah”.

Dalam kisah Nabi Dawud diceritakan bahwa ia bermunajat kepada Allah: “Wahai Tuhanku, tak ada satu rambutpun dari anak adam kecuali di bawahnya ada nikmat dan di atasnya ada nikmat. Bagaimana ia bisa mensyukurinya?”

Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Dawud, “Wahai Dawud. Aku memberi banyak dan Aku rela dengan sedikit. Cara mensyukuri kenikmatan-kenikmatan-Ku itu ialah engkau mengakui bahwa segala nikmat yang ada padamu berasal dari Aku.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.