Ilmu Yang Menguntungkan Dan Yang Berbahaya

Ilmu Terbaik Yang Dibarengi Rasa Takut
Jun 5, 2021
Tidak Ridho Dengan Ilmu Allah Adalah Musibah Terparah
Jun 22, 2021

الْعِلْمُ اِنْ قَارَنَتْهُ الْخَشْيَةُ فَلَكَ وَاِلَّا فَعَلَيْكَ

Ilmu itu apabila disertai rasa takut kepada Allah, maka menguntungkan kamu. jika tidak, maka akan membahayakan kamu.

 

ILMU yang disertai rasa takut kepada Allah itu bermanfaat di dunia maupun akhirat. Sebab, ilmu yang disertai rasa takut itu mencegah pemiliknya dari lalai kepada Allah dan membuatnya zuhud terhadap dunia dan membuat ia gemar melakukan perbuatan yang bisa mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Maka, ilmunya itu membantu dirinya untuk sampai kepada Allah.

Sedangkan ilmu yang tidak dibarengi dengan rasa takut kepada Allah akan membahayakan pemiliknya. Sebab, ilmunya itu akan menjadi hujjah yang memberatkan dirinya. Ini dikarenakan maksiat yang disertai ilmu lebih buruk daripada melakukan maksiat dengan kebodohan.

Di dalam hadits disebutkan:

وَيْلٌ لِلْجَاهِلِ مَرَّةً وَوَيْلٌ لِلْعَالِمِ اِذَا لَمْ يَعْمَلْ عَشْرَ مَرَّاتٍ

“Celaka bagi orang yang bodoh, satu kali. Dan celaka bagi orang alim (yang tahu) bila ia tidak mengamalkan, sepuluh kali.”

Banyak sekali disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah tentang keutamaan ilmu dan ulama. Keutamaan-keutamaan itu tidak bisa didapat kecuali bagi orang yang niatnya benar. Niat yang benar dalam mencari ilmu adalah mencari keridhoan Allah, mengamalkan ilmunya agar bermanfaat, dan keluar dari gelapnya kebodohan kepada cahaya ilmu. Ini adalah niat yang benar dan terpuji akibatnya di hari kemudian dan bisa dipetik buahnya untuk taat kepada Allah dengan segera (di dunia ini).

Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

كُلّ يَوْمٍ لَا اَزْدَادُ فِيْهِ عِلْمًا يُقَرِّبُنِي اِلَى اللهِ لَا بُوْرِكَ لِي فِى طُلُوْعِ شَمْسِ ذلِكَ الْيَوْم

“Setiap hari yang pada hari itu aku tidak bertambah ilmu yang mendekatkanku kepada Allah maka tidak ada barakahnya bagiku terbitnya matahari hari itu.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Ilmu itu dipelajari agar digunakan untuk bertakwa kepada Allah. llmu itu melebihi dari yang lain hanya karena ia bisa digunakan untuk bertakwa kepada Allah.”

Apabila tujuan dalam mencari ilmu itu cacat. niatnya rusak seperti bertujuan dunia. baik harta atau kedudukan, maka pahala orang itu batal, amalnya terhapus dan ia mendapat kerugian yang besar.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barangsiapa menginginkan tanaman untuk akhirat, maka Kami tambah baginya tanamannya. Dan barangsiapa menginginkan tanaman untuk dunia. maka Kami memberinya sebagian dari dunia, sedangkan di akhirat ia tidak dapat bagian apapun.(QS Asy-Syuura : 20)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ اِلَّا لِيُصِيْبَ بِهِ غَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عُرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang belajar ilmu yang seharusnya ditujukan karena Allah, sedang ia tidak mempelajari ilmu itu kecuali agar ia dapat tujuan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”

Al-Hasan berkata: “Demi Allah, tidak seorangpun mencari ilmu ini, kecuali ia mendapatkan bagian sesuai dengan yang ia ingini.”

Al-Hasan juga berkata: “Siksaan orang alim adalah matinya hati.”

“Apakah matinya hati itu?” tanya seseorang kepada al-Hasan.

“Mencari dunia dengan amal akhirat,” jawab Al-Hasan.

Jika orang tersebut berniat dengan ilmunya agar dapat meraih kedudukan dalam pemerintahan atau ingin memperoleh harta yang haram atau syubhat, maka orang itu mendapat murka Allah dan ia menanggung dosa dirinya dan dosa para pengikutnya. Ketika itu, bodoh baginya lebih baik dan lebih terpuji akibatnya daripada ia berilmu.

Kebanyakan para pencari ilmu pada zaman sekarang memiliki sifat dan tujuan jahat seperti itu. Sebab, cinta dunia telah memperbudak mereka. Ambisi untuk menjadi pimpinan telah menguasai mereka sehingga membikin mereka tuli dan buta dari kebenaran. Tanda hal itu begitu banyak dan terang.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتِلُونَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنَ اللِّينِ، أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ السُّكَّرِ، وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَبِي يَغْتَرُّونَ، أَمْ عَلَيَّ يَجْتَرِئُونَ؟ فَبِي حَلَفْتُ لأَبْعَثَنَّ عَلَى أُولَئِكَ مِنْهُمْ فِتْنَةً تَدَعُ الحَلِيمَ مِنْهُمْ حَيْرَانًا.

“Akan keluar di akhir zaman orang-orang yang menipu dunia dengan agama. Mereka memakai untuk manusia kulit domba karena halusnya, lidah mereka lebih manis dari gula, tetapi hati mereka adalah hati serigala. Allah berfirman:, “Apakah kalian tertipu dengan Aku atau kalian berani kepada-Ku. Maka Aku bersumpah demi Diriku, akan Aku timpakan kepada mereka fitnah yang orang berakalpun akan menjadi bingung.” (HR. Turmudzi)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ، وَمِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ، مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ بِأَبْدَانِهِمْ وَقُلُوْبُهُمْ خَرْبَةٌ مِنَ الْهُدَى، عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَظِلُّ السَّمَاءُ حِيْنَئِذٍ مِنْهُمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَاِلَيْهِمْ تَعُوْدُ

“Akan datang sebuah masa, pada saat itu Islam tinggal namanya, Al-Qur’an tinggal tulisannya. Masjid mereka ramai dengan badan mereka, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Paling jeleknya orang yang bernaung di bawah langit pada saat itu adalah ulama mereka. Dari ulama itulah timbul fitnah dan kepada mereka fitnah itu kembali.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.