Ilmu Makrifat Dibalik Gelapnya Kesedihan

Perhatikan Nikmat Timbul Harapan, Pikirkan Dosa Muncul Ketakutan
Jul 1, 2020
Hati Adalah Tempat Terbitnya Cahaya
Jul 12, 2020

رُبَّمَا أَفَادَكَ فِى لَيْلِ الْقَبْضِ مَالَمْ تَسْتَفِدْهُ فِى اِشْرَاقِ نَهَارِ الْبَسْطِ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

Mungkin engkau mendapatkan karunia ilmu makrifat pada saat gelapnya kesedihan yang engkau tidak mendapatkan itu pada saat terangnya nikmat atau kesenangan. Kalian tidak tahu manakah yang lebih menguntungkan kalian.

SETIAP manusia itu adakalanya dalam kelapangan dan kesenangan atau dalam kesusahan dan kesempitan. Silih berganti bagai siang dan malam. Bahagia (Basth) bagaikan siang, kesedihan (Qabdh) bagaikan malam.
Dalam keadaan apapun, gembira atau susah, manusia harus menerima dan ridho terhadap apa yang ditentukan oleh Allah. Sebab, semua itu datangnya dari Allah.
Para wali menerima apa yang ditentukan oleh Allah, baik qabdh atau basth. Namun mereka lebih condong kepada qabdh karena lebih selamat dan lebih aman. Sebab, jarang sekali orang yang bisa menahan diri ketika basth.
Manusia tidak tahu, dari kedua keadaan itu, manakah yang menguntungkan dirinya. Mungkin saja kelapangan dan kenikmatan membawa kepada kebinasaan. Bisa jadi di saat gelapnya kesedihan ia mendapatkan karunia dan pemberian yang besar dari Allah yang tidak ia peroleh di saat ia berada dalam terangnya kebahagiaan.
Misalnya, seseorang bertaubat kepada Allah setelah ditimpa berbagai musibah. Akhirnya ia menjadi orang baik dan dekat kepada Allah. Terkadang pula setelah diberi berbagai ujian dan cobaan dari Allah, ia diangkat menjadi wali-Nya. Ia mendapat karunia makrifat berkat cobaan-cobaan itu.
Para Nabi juga mengalami cobaan-cobaan yang besar dari Allah. Tetapi akhirnya mereka mendapat karunia yang besar pula dari Allah. Kisah Nabi Yusuf menggambarkan hal ini. Setelah Nabi Yusuf ditimpa bermacam kesengsaraan, seperti dibuang ke dalam sumur, masuk penjara bertahun-tahun, ia diangkat oleh Allah menjadi seorang Nabi. Ia juga menjadi raja yang memberi makan satu negeri.
Begitu pula para wali, kebanyakan mereka diangkat menjadi wali setelah mengalami ujian dan cobaan yang berat dari Allah. Habib Ahmad Bafagih, seorang wali dari Jogjakarta, salah satu contohnya. Ia memperoleh kewalian setelah menjalani cobaan yang dasyat dari Allah.
Habib Ahmad Bafagih menuturkan sendiri kepada penulis asal mula kewaliannya ketika penulis berkunjung ke rumah beliau.
“Siapakah guru anda?” Tanya penulis kepadanya.
“Guruku Allah, malaikat Jibril, Rasulullah,” jawabnya yang menandakan bahwa ia adalah seorang majdzub yang mendapat kewalian tanpa bersuluk.
“Bagaimana asal muasal Habib sampai kepada Allah?” Tanya Penulis selanjutnya.
“Karena engkau yang bertanya maka saya akan menjawabnya. Kalau bukan kamu saya tidak akan bercerita. Dulunya saya orang miskin. Ayah saya wafat meninggalkan saudari-saudari perempuan saya yang banyak. Saya orang cacat yang tidak bisa bekerja.
Pada suatu hari saudari-saudari saya merasa kelaparan. Di rumah saya tidak ada makanan sama sekali. Mereka meminta kepada saya untuk mencarikan makanan. Saya berpikir dari mana saya berusaha dapat makanan. Mau usaha apa? Wong jalan saja saya harus tertatih-tatih sambil berpegangan tembok. Badan saya cacat.
Terpaksa saya keluar rumah mencari makanan. Tidak ada orang yang kasihan kepada saya. Jangankan memberi sesuatu, menjawab salam saya saja mereka enggan karena melihat diri saya yang seperti ini. Saya terus berjalan dan berjalan sampai capek. Saya istirahat duduk-duduk di Masjid Agung Jogjakarta sampai malam. Karena waktu sudah malam penjaga masjid itu menyuruh saya keluar dari masjid. Kalau tidak, ia akan mengunci saya dari luar. Saya tidak mau keluar. Akhirnya saya terkunci di dalam masjid sendirian.
Saya menangis dan menangis di dalam masjid. Saya sudah putus asa dari manusia. Ditengah larut malam saya bermunajat kepada Allah. “Tidak ada manusia yang mau kepadaku. Siapa lagi yang mau memungut diriku selain Engkau, Ya Allah. Aku mengeluh kepada-Mu. Aku berpasrah diri padamu,” doaku kepada Allah.
Di tengah saya bermunajat, saya mendengar suara salam.
“Assalamu ‘alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Kamu siapa?” tanyaku kepada seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
“Saya kakekmu, Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,” jawab orang itu.
Rasulullah berkata kepadaku:

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا

“Sesungguhnya Kami bukakan padamu pembukaan yang nyata.”
“Nanti akan datang orang yang mengajar kamu.”
Tidak lama kemudian datang Nabi Khidir memberi kabar bahwa mulai besok rezekiku akan datang ke rumah dan orang-orang akan datang ke rumahku.
Di pagi harinya saya pulang ke rumah. Saudari-saudariku masih kelaparan. Tak lama kemudian datanglah orang membawa makanan ke rumah. Khidir mengajari saya menulis azimat di sebuah kertas. “
Semenjak saat itu rumah Habib Ahmad Bafagih tidak pernah sepi dari tamu. Masyarakat umum, para pejabat sampai wali seperti As-Sayyid Maliki turut berkunjung ke sana. Namun kewalian dan kekeramatan itu beliau dapatkan setelah mengalami bermacam penderitaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.