Ibadah Bermacam-Macam Agar Tidak Jemu

Kerinduan Kepada Allah
Mar 10, 2020
Faedah-Faedah Shalat Yang Dilakukan Dengan Khusyuk
Mar 17, 2020

لما علم الحق منك وجود الملل لون لك الطاعات وعلم ما فيك من وجود الشره فحجرها عليك في بعض الأوقات ليكون همك إقامة الصلاة لا وجود الصلاة

Ketika Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, maka Allah menjadikan untuk engkau bermacam-macam cara perbuatan taat. Ketika Allah juga mengetahui bahwa engkau bersifat rakus, maka Allah melarang engkau melakukan shalat dalam beberapa waktu. Supaya semangatmu hanya tertuju kepada kesempurnaan shalat bukan sekedar shalat. Karena bukan setiap orang yang shalat, sempurna shalatnya.

Ibadah Bermacam-macam
Termasuk kemurahan Allah dan pilihan-Nya yang terbaik untuk hamba-Nya, adalah ketika hamba-Nya itu tidak bisa melihat-Nya melalui kebesaran ciptaan-Nya, dikarenakan ia belum mencapai kedudukan dapat melihat Allah melalui kebesaran ciptaan-Nya, maka Allah menjadikan hamba itu sibuk berkhidmat dan beribadah kepada-Nya.
Dan ketika Allah mengetahui bahwa orang yang berkhidmat dan beribadah itu cepat jemu, maka Allah menjadikan perbuatan-perbuatan taat (ibadah) itu bermacam-macam. Seandainya ibadah dan perbuatan taat itu hanya satu bentuk, maka manusia itu akan merasa jemu, karena tabiat manusia itu mudah jemu. Karena sifat jemu itu adalah fitnah yang dapat merusak ibadah seseorang.
Penyair mengatakan :

لَا يُصْلِحُ النَّفْسَ اِذَا كَانَتْ مُدْبِرَةً اِلَّا التَّنَقُّلُ مِنْ حَالٍ اِلَى حَالٍ

Tidak akan memperbaiki seseorang kalau sesuatu yang dilakukan hanya satu,
kecuali jika berpindah dari suatu keadaan menuju keadaan yang lain.
Misalnya, seseorang merasa malas dan jemu ketika melakukan shalat (sunnah), maka ia bisa berpindah untuk melakukan dzikir. Begitu juga seandainya ia merasa jemu ketika berdzikir, maka ia dapat berpindah untuk membaca Al-Qur’an. Begitu juga jika ia merasa jemu ketika membaca Al-Qur’an, maka ia boleh berpindah untuk mencari ilmu dengan menghadiri majelis taklim.
Berpindah dari suatu ibadah menuju ibadah yang lain dapat membuat seseorang bersemangat dalam melakukan ibadah tersebut. Ibadah yang dilakukan dengan keadaan bersemangat pahalanya lebih besar dari ibadah yang dilakukan dalam keadaan lesu dan malas, walaupun ibadah yang dilakukan dalam keadaan lesu dan malas itu banyak.
Perbuatan-perbuatan taat (ibadah) itu banyak dan bermacam-macam. Ibadah-ibadah yang bermacam-macam itu dianjurkan dan diperintahkan oleh agama untuk dilakukan. Sebab yang disebut ibadah adalah segala bentuk perbuatan yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah dan bertujuan mendapatkan keridhaan Allah dengan diniatkan karena taat kepada Allah. Meskipun perbuatan itu adalah sesuatu yang mubah, bila orang yang melakukannya berniat untuk taat kepada Allah maka perbuatan itu juga tergolong ibadah.
Contohnya, makan adalah sesuatu yang mubah. Namun bila seseorang makan dengan niat agar kuat melakukan amal taat, maka makannya orang tersebut terhitung sebuah amal ibadah.
Pengarang zubad mengatakan:

لَكِنْ اِذَا نَوَى بِأَكْلِهِ الْقُوَى  لِطَاعَةِ اللهِ لَهُ مَا قَدْ نَوَى

Tetapi jika seseorang makan dengan niat untuk mendapatkan kekuatan
di dalam melakukan taat (ibadah), maka ia mendapatkan pahala karena niatnya tersebut.

Mencari Nafkah Juga Ibadah
Memberi nafkah kepada kedua orang tua, anak dan istri, membantu orang lain yang kesusahan dan tertimpa musibah, juga termasuk ibadah.
Diceritakan di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ada seseorang keluar pagi-pagi dengan bersemangat menuju ke pasar untuk bekerja. Melihat hal itu para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ, لَوْ كَانَ هَذَا فِى سَبِيْلِ اللهِ ؟

“Wahai Rasulullah, seandainya ia bersemangat seperti ini untuk fi sabilillah (dijalan Allah )?”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab:

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يَعِفُّها فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika ia keluar bekerja untuk berbakti dengan memberi nafkah kedua orang tuanya yang sudah tua, maka ia berarti di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja untuk menjaga dirinya (dan keluarganya) dari meminta-minta, maka ia di jalan Allah .” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausath dan al-Mu’jam ash-Shoghir)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنَ الذُّنُوبِ ذَنُوبًا لَا تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَلَا الصِّيَامُ وَلَا الْحَجُّ وَلَا الْعُمْرَةُ

“Sesungguhnya ada di antara dosa yang tidak bisa dihapus oleh shalat, puasa, haji dan umrah.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausath)
Para sahabat bertanya:

فَمَا يُكَفِّرُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Apa yang dapat menghapus dosa itu, wahai Rasulullah ?”
Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab:

الْهُمُومُ فِي طَلَبِ الْمَعِيشَةِ

“Susah dalam memikirkan mencari nafkah ”

Beribadah Dengan Tanpa Sifat Rakus
Dan ketika Allah mengetahui bahwa engkau bersifat rakus (ingin banyak dan tergesa-gesa melakukan sesuatu), maka Allah melarang engkau untuk melakukan shalat dalam beberapa waktu. Misalnya setelah shalat subuh Nabi melarang melakukan shalat sampai matahari terbit. Begitu juga setelah ashar dilarang shalat sampai terbenam matahari.
Allah membatasi engkau untuk melakukan shalat dalam beberapa waktu, supaya semangatmu hanya tertuju untuk kesempurnaan menegakkan shalat bukan sekedar menunaikan shalat. Karena bukan setiap orang yang shalat, sempurna shalatnya.
Artinya tidak memperbanyak melakukan shalat tetapi menegakkan shalat dengan sempurna dengan cara menjaga syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Sebab shalat yang diterima adalah shalat yang dikerjakan dengan sempurna.
Apabila syarat-syarat dan rukun-rukun shalat sudah terpenuhi maka shalat itu akan menjadi khusyuk. Di antara yang dapat menimbulkan khusyuk adalah berwudhu’ dengan khusyuk dan dengan melaksanakan sunnah-sunnah yang ada dalam wudhu’.
Syeikh Abul Abbas al-Mursi mengatakan: “Apa yang disebut di dalam Al-Qur’an dan yang dipuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala, mengenai orang yang melakukan shalat adalah bagi orang yang menegakkan shalat (mendirikannya dengan sempurna).
Firman Allah subhanahu wa ta ‘ala:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ

“Orang-orang yang beriman dengan yang ghaib dan orang-orang yang menegakkan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 3)
Dan Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

“Jadikanlah aku dan keturunanku orang yang menegakkan shalat.” (QS. Ibrahim: 40)
Dan Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَقِمِ الصَّلَاةَ

“Tegakkanlah shalat.” (QS. Al-Isra’: 78)
Dan Firman Allah subhanahu wa ta ‘ala:

وَأَقَامَ الصَّلَاةَ

“Dan ia menegakkan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Dan Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَالْمُقِيْمِى الصَّلَاة

“Dan orang-orang yang menegakkan shalat.” (QS. Al-Hajj: 35)
Tetapi ketika Allah menyebut orang-orang yang lalai dari shalat, Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“(Celakalah bagi orang-orang yang lalai dari shalat mereka).” (QS. Al-Ma’uun: 4-5)
dan Allah tidak mengatakan: فَوَيْلٌ لِلْمُقِيْمِيْنَ الصَّلَاةَ
Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Amar bin Ash radhiyallahu anhu, ia mengatakan: Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengatakan kepadaku:

أَنْتَ الَّذِى تَقُوْلُ : وَاللهِ لَأَصُوْمَنَّ النَّهَارَ وَلَأَقُوْمَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ ؟

“Engkaukah yang mengatakan: Demi Allah aku akan berpuasa siang hari dan beribadah malam hari selama aku hidup?”
Maka aku menjawab:

قَدْ قُلْتُهُ بِأَبِيْ اَنْتَ وَأُمِّيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ

“Ya, aku yang menyatakannya wahai Rasulullah.”
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

فَإِنَّكَ لَا تَسْتَطِيْعُ ذٰلِكَ فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ

“Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melakukannya. Berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah. Berpuasalah dari sebulan selama tiga hari. Sesungguhnya satu kebaikan itu sepuluh kali lipat. Dan itu adalah seperti puasa Dahr.”

Aku katakan:

إِنِّي أُطِيْقُ أَفْضَلَ مِنْ ذٰلِكَ

“Aku mampu lebih dari itu.”
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ

“Berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari.”
Aku katakan:

إِنِّي أُطِيْقُ أَفْضَلَ مِنْ ذٰلِكَ

“Aku mampu lebih dari itu.”

فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَهُوَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ

“Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itulah puasanya Nabi Dawud alaihissalam, dan puasa yang paling utama.”

Aku katakan:

إِنِّي أُطِيْقُ أَفْضَلَ مِنْ ذٰلِكَ

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan:

لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

“Tidak ada yang lebih utama dari itu.”
Kemudian setelah Abdullah bin Amar bin Ash radhiyallahu anhu berusia tua, beliau tidak bisa melakukan ibadah itu lagi karena badannya sudah lemah. Maka Abdullah bin Amar bin Ash radhiyallahu anhu berkata:

يَا لَيْتَنِي قَبِلْتُ رُخْصَةَ رَسُوْلِ اللهِ

“Seandainya dulu aku menerima nasehat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Bukhari, Muslim. Lihat: Riyaadhush Sholihin, bab al-’Iqtihsad fil ‘Ibadah)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.