Hati Adalah Tempat Terbitnya Cahaya

Ilmu Makrifat Dibalik Gelapnya Kesedihan
Jul 7, 2020
Cahaya Di Hati Berasal Dari Cahaya Gaib
Jul 12, 2020

مَطَالِعُ الْأَنْوَارِ الْقُلُوْبُ وَالْأَسْرَارُ

Tempat terbitnya berbagai cahaya adalah hati dan rahasia-rahasia.

BINTANG-bintang ilmu, bulan-bulan makrifat dan matahari-matahari tauhid semuanya terbit berasal dari hati orang-orang yang arif dan rahasia-rahasia mereka. Inilah cahaya-cahaya yang sebenarnya yang terbit dari sumbernya yang bersifat ruhaniyah. Bukan cahaya-cahaya yang hissi (bersifat bendawi) yaitu cahaya-cahaya buatan yang berasal dari makhluk Allah seperti cahaya matahari, cahaya bulan.
Ibnu ‘Athaillah mengatakan dalam Lathaiful minan: “Ketahuilah bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala jika akan mengangkat seseorang menjadi kekasih (wali)-Nya, maka Allah akan memelihara hatinya dari apa-apa yang selain-Nya (segala tujuannya hanya untuk Allah) dan menjaganya dengan selalu diisi dengan cahaya-cahaya (yang berasal dari-Nya). Sehingga ada seorang yang arif mengatakan: Jika Allah telah menjaga langit dengan bintang-bintang dan awan-awan agar berita-berita langit tidak dicuri (oleh syaitan), maka hati orang yang beriman lebih utama untuk dijaga. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:

لَمْ تَسَعْنِيْ سَمَائِيْ وَلَا أَرْضِيْ وَوَسِعَنِيْ قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ

“Langit-Ku dan bumi-Ku tidak cukup untuk-Ku. Yang cukup Untuk-Ku adalah hati hamba-Ku yang beriman.”
Perhatikanlah -mudah-mudahan Allah memberimu rahmat- akan suatu perkara yang agung ini, yang diberikan kepada hati yang SePerti ini (yang pantas untuk menerima ini), sehingga hati itu pantas untuk martabat ini.
Oleh sebab itulah, asy-Syeikh Abul Hasan mengatakan: “Seandainya dibuka cahaya hati orang yang beriman yang maksiat, niscaya cahaya itu akan memenuhi langit dan bumi.” Bagaimanakah dengan cahaya hati orang yang beriman ?
Asy-Syeikh Abul Abbas al-Mursi berkata: “Seandainya hakikat seorang wali dibuka oleh Allah, maka akan disembahlah wali itu. Sebab sifat-sifat wali itu adalah sebagian dari sifat-sifat Allah.”
Diceritakan bahwa ada seorang murid sholat di belakang gurunya. Di saat itu ia melihat sesuatu hal yang membuat ia tercengang. Ia melihat sang guru penuh diliputi dengan cahaya, sehingga membuat ia tidak bisa untuk melihat sang guru tersebut.
Seandainya Allah membuka cahaya-cahaya hati para kekasih-Nya, niscaya akan lenyaplah cahaya matahari dan cahaya bulan disebabkan pancaran cahaya mereka. Dimanakah persamaan cahaya matahari dan bulan dengan cahaya-cahaya mereka ?
Cahaya matahari dapat dihapus oleh gerhana dan bisa tenggelam, sedangkan cahaya-cahaya hati kekasih-kekasih Allah tidak pernah mengalami gerhana dan tidak akan bisa tenggelam.
Penyair mengatakan:

اِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ بِاللَّيْـ  ـلِ وَشَمْسَ الْقُلُوْبِ لَيْسَتْ تَغِيْبُ

Sungguh mentari siang terbenam di waktu malam hari.

Tetapi matahari hati tidak pernah terbenam.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.