Hanya Orang Tolol Yang Meremehkan Wirid

Tidak Semua Yang Keramat Itu Sempurna
Feb 7, 2020
Madad Turun Tergantung Persiapan Hati
Feb 16, 2020

لَا يَسْتَحْقِرُ الْوِرْدَ إِلَّا جَهُوْلٌ. اَلْوَارِدُ يُوْجَدُ فِي الدَّارِ الآخِرَةِ وَالْوِرْدُ يَنْطَوِيْ بِانْطِوَاءِ هٰذِهِ الدَّارِ وَأَوْلَى مَا يُعْتَنَى بِهِ مَا لَا يَخْلُفُ وُجُوْدُهُ . اَلْوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ وَأَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ مِمَّا هُوَ مَطْلَبُكَ مِنْهُ ؟

Tidak meremehkan wirid kecuali orang yang sangat tolol. Warid kurnia Allah itu terdapat di akhirat. Sedangkan wirid akan habis dengan habisnya dunia. Dan sebaik-baik yang harus diperhatikan oleh seseorang ialah yang tak kunjung habis. Wirid itu perintah dari Allah. Adapun warid adalah hajat kebutuhanmu kepada Allah. Maka apalah artinya bila perintah dari Allah dibandingkan dengan permohonanmu kepada Allah.

 

WIRID adalah segala bentuk ibadah baik dhahir atau batin, wajib atau sunnah. Seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, mengajar ilmu, hadir pengajian, bangun malam atau amal ibadah lainnya.

Warid adalah pemberian-pemberian Allah yang ada di hati hamba-Nya berupa hidayah, taufiq, sakinah, dan cahaya-cahaya. Warid dalam bahasa Arab berarti sesuatu yang datang. Dalam istilah tasawuf, warid adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada hati para walinya dari cahaya-cahaya yang menggerakkan dia bersemangat untuk beribadah dan terkadang membikinnya tercengang. Terkadang juga membuatnya lenyap dan tidak datang kecuali mendadak dan tidak bisa tetap ada pada orang itu.

Wirid adalah yang datang dari hamba untuk Allah dari amal ibadah. Wirid itu ubudiah, suatu tanda kebaktian dan kehambaan kita kepada Allah. Sedangkan yang dilakukan Allah untuk kita adalah warid.

Warid tetap ada di akhirat. Sedangkan wirid bisa terputus dan waktunya terbatas selama kita hidup. Kalau seseorang meninggal dunia, maka waktu wirid sudah habis. Tapi kalau warid terus berlanjut sampai ke akhirat.

Oleh karena itu, maka perhatikanlah wirid. Janganlah engkau ribut dengan warid. Jalankan perintah-perintah Allah. Jangan menuntut warid dari Allah. Allah berhak menurunkan atau tidak menurunkan warid. Allah melakukan apa yang dikehendaki. Yang terpenting bagi kita adalah menjalankan kewajiban-kewajiban kita terhadap Allah dan kita tidak mewajibkan Allah untuk memberi kita warid.

Maka tidak ada yang meremehkan wirid kecuali orang yang sangat bodoh. Orang yang meremehkan wirid berarti sangat bodoh dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sebab, wirid-wirid itu diambil dari Nabi. Andaikan dia mau belajar ilmu dan mengerti sunnah Nabi pasti ia membesarkan wirid dan mengerjakannya dengan rajin.

Nabi selalu rajin melakukan ibadah, begitu pula para sahabat, ahli bait, tabiin dan para shalihin. Mereka semua istiqamah melakukan wiridnya.

Nabi selalu melakukan wirid. Walaupun kedudukan beliau sangat tinggi sebagai Sayyidul anbiya’, orang yang paling dekat kepada Allah, tapi beliau selalu memperhatikan wiridnya. Nabi selalu beribadah dengan rajin. Nabi tidak pernah berhenti beribadah.

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Apabila engkau selesai beribadah maka pindahlah ke ibadah yang lain.” (QS. Asy-Syarh: 7)

Nabi tidak pernah merasa letih dalam melakukan ibadah. Dari rajinnya bertahajjud sampai kakinya bengkak. Nabi tidak mengeluh, tetapi yang mengeluh kakinya.

Sayyidah Aisyah yang melihat hal itu berkata kepada Nabi :

كَيْفَ تَفْعَلُ هٰذَا وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟

“Bagaimana engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang dahulu dan yang akan datang?”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab:

أَفَلَا اَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Bukankah Aku harus menjadi hamba yang bersyukur.”

Bersyukur bisa menambah khidmah dan menambah nikmat. Wirid Nabi setiap hari terus bertambah karena disyukuri.

“Kalau hari ini tidak lebih baik dari kemarin, maka tidak barokah hariku ini.”

Aisyah radhiyallahu anha pernah ditanya tentang amal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Aisyah berkata:

كَانَ عَمَلُهُ دِيْمَةً

“Amal ibadahnya Nabi dilakukan secara terus menerus.”

Ada riwayat lain:

كَانَ اِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَتْقَنَهُ وَأَثْبَتَهُ

“Kalau Nabi melakukan suatu amal maka dilakukan dengan sebaik-baiknya dan beristiqamah dalam melakukannya.”

Ada hadits yang masyhur:

اَحَبُّ الْأَعْمَالِ اِلَى اللهِ اَدْوَمُهَا وَاِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang dilakukan dengan rutin walaupun sedikit.”

Sayyidah Fatimah pernah ditegur oleh Nabi dan disuruh membaca wirid setiap pagi dan sore:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ اسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، ولاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Para sahabat Nabi juga rajin melakukan wiridnya. Sahabat Imron bin Hushain, salah satunya. Walau dia menderita sakit parah dan bertahun-tahun terbaring di atas ranjangnya, akan tetapi wiridnya tetap dilakukan dengan istiqamah. Lalu bagaimana dengan kita yang sehat dan masih mampu melompat?

Imam Junaid, pemimpin ahli tasawuf juga demikian. Beliau selalu istiqamah mengerjakan wiridnya sampai di saat naza’ (ajal menjemput). Kebiasaan ibadah yang setiap hari ia lakukan tidak ditinggalkannya. Pada saat itu ia sedang membaca mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu ada yang menegurnya. Imam Junaid menjawab.

وَمَنْ أَوْلَى بِهِ مِنِّي بِذٰلِكَ وَهُوَ ذَا يُطْوَى صَحِيْفَتِيْ

“Apalagi yang lebih utama yang aku lakukan selain wiridku. Sekarang lembaran hidupku mau dilipat.”

Dalam keadaan demikian apalagi ketika masih muda dan sehat.

Pernah seseorang melihat Imam Junaid memegang tasbih. “Derajatmu tinggi, tapi kenapa engkau masih pegang tasbih?”

Imam Junaid menjawab:

سَبَبٌ وَصَلْنَا بِهِ اِلَى مَا وَصَلْنَا لَا نَتْرُكْهُ اَبَدًا

“Ini adalah alat yang menyampaikan aku kepada Allah, maka tidak mungkin aku meninggalkannya selamanya.”

Imam Junaid pernah mengajak ngomong tasbihnya:

بِكَ لَا نَصِلُ وَلَا بُدَّ مِنْكَ

“Aku sampai bukan karena engkau, tetapi harus melalui engkau.”

Imam Junaid setiap hari masuk ke tokonya. Ditutuplah tabir tokonya, lalu sholat empat ratus rakaat, kemudian pulang ke rumahnya. Setelah beliau meninggal muridnya bermimpi.

“Apa yang dilakukan Allah untuk engkau?” tanya muridnya.

Imam Junaid menjawab:

طَاحَتْ تِلْكَ الْإِشَارَاتُ وَغَابَتْ تِلْكَ الْعِبَارَاتُ وَفَنِيَتْ تِلْكَ الْعُلُوْمُ وَنَفِدَتْ تِلْكَ الرُّسُوْمُ مَا نَفَعَنَا إِلَّا رُكَيْعَاتٌ كُنَّا نُصَلِّيْهِمَا فِي السَّحَرِ

“Lenyaplah isyarat-isyarat itu. Hilanglah ungkapan-ungkapan itu. Sirnalah ilmu-ilmu itu. Habislah simbol-simbol itu. Tidak memberiku manfaat, kecuali beberapa rakaat yang aku lakukan di penghujung malam.”

Ternyata beliau dapat manfaat yang khusus dari Allah berkat shalat malam. Ini menunjukkan pentingnya Wirid. Sayyid Muhammad Al-Maliki menyatakan bahwa yang dimaksud dengan manfaat adalah manfaat yang khusus. Artinya, Imam Junaid mendapatkan manfaat khusus dari Allah berkat shalat malam. Ini bukan berarti bahwa amal ibadah yang lain tidak berguna. Yang lainnya tetap berguna dan diberi pahala, tapi tidak seperti manfaat dan pahalanya bangun malam. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal ibadah seseorang.

Wirid itu perlu terus ditingkatkan dan jangan sampai berkurang.

Ada hadits yang mengatakan:

مَنِ اسْتَوَى يَوْمَاهُ فَهُوَ مَغْبُونٌ وَمَنْ كَانَ غَدُهُ شَرًّا مِنْ يَوْمِهِ فَهُوَ مَحْرُوْمٌ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ فِى الزِّيَادَةِ فَهُوَ فِي نُقْصَانٍ وَمَنْ كَانَ فِي النُّقْصَانِ فَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ

“Siapa yang hari ini sama dengan kemarin berarti ia tertipu, Siapa yang hari ini lebih jelek daripada kemarin berarti dia orang yang tidak dapat rahmat Allah. Siapa yang tidak dapat tambahan berarti ada kekurangan. Siapa yang mengalami kekurangan, maka mati lebih baik baginya.”

Oleh karena itu, teruslah beristiqamah melakukan wirid sampai akhir hayat dengan mengikuti perjalanan Rasulullah, ahli bait, sahabat, dan para shalihin. Mudah-mudahan kita terus bertambah baik, bertambah ibadah, dan bertambah iman. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.