Dua Macam Berpikir, Karena Iman Dan Karena Melihat Kenyataan

Berpikir Adalah Pelita Hati
Oct 24, 2021

الْفِكْرَةُ فِكْرَتَانِ فِكْرَةُ تَصْدِيْقٍ وَإِيْمَانٍ وَفِكْرَةُ شُهُوْدٍ وَعِيَانٍ فَالْأُوْلَى لِأَرْبَابِ الْإِعْتِبَارِ وَالثَّانِيَةُ لِأَرْبَابِ الشُّهُوْدِ وَالْإِسْتِبْصَارِ

Berpikir ada dua macam. Berpikir yang timbul dari kuatnya kepercayaan dan iman, dan berpikir yang timbul dari melihat kenyataan. Yang pertama, berpikirnya orang yang mengambil pelajaran. Yang kedua, berpikirnya orang yang terbuka hijab sehingga bisa melihat kenyataan dengan mata hatinya.

 

ADA dua macam berpikir :

Pertama, berpikir yang timbul dari kuatnya kepercayaan dan iman. Yaitu, perjalanan hati di medan makhluk-makhluk Allah. Ini berpikirnya para salikin. Mereka merenungkan makhluk sehingga mereka mengambil dalil bahwa adanya makhluk menunjukkan adanya Pencipta. Mereka mengenal Allah melalui ciptaan-Nya. Mereka berjalan dari bawah ke atas. Dari mengenali ciptaan Allah sehingga mengenali Allah.

Mereka ini yang disebut oleh Allah dengan:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ

“Orang-orang yang beriman dengan yang gaib.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Kedua, berpikir yang timbul dari melihat kenyataan. Yaitu, perjalanan ruh di medan cahaya. Ini berpikirnya para majdzubin. Hijab terbuka bagi mereka sehingga dengan mata hatinya mereka dapat melihat hakekat kenyataan. Mereka berdalil adanya Pencipta menunjukkan adanya makhluk yang diciptakan. Mereka turun dari atas ke bawah. Mengenal Allah, lalu mengenal kebesaran kekuasaan Allah.

Mereka adalah orang-orang yang diperlihatkan oleh Allah rahasia firman-Nya:

قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Katakan, “Lihatlah kalian apa yang di langit dan di bumi.” (QS. Yunus : 101)

Bagi mereka, benda-benda selain Allah itu berubah menjadi cahaya. Dalil menjadi madlul. Yang gaib jadi kenyataan. Mereka tidak lagi melihat ciptaan tapi melihat Penciptanya. Dari alam mulk mereka naik ke alam malakut. Mereka tidak lagi melihat kecuali cahaya Malakut tertuang dari lautan Jabarut. Mereka tenggelam dalam lautan cahaya. Terhapus dari mereka adanya benda-benda. Jika mereka dikembalikan ke dunia, maka mereka melihat benda-benda ini semuanya tegak dengan Allah, dari Allah, dan kepada Allah. Luar biasa. Alangkah agungnya kadar mereka di sisi Allah. Mudah-mudahan kita diberi Allah seperti yang diberikan kepada mereka. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.