Diganggu Manusia, Agar Hubungan Dengan Allah Tak Terganggu

Tidak Ridho Dengan Ilmu Allah Adalah Musibah Terparah
Jun 22, 2021
Cara Mengalahkan Syetan
Jun 22, 2021

اِنَّمَا اَجْرَى الْأَذَى عَلَى اَيْدِيْهِمْ كَيْ لَا تَكُوْنَ سَاكِنًا اِلَيْهِمْ اَرَادَ اَنْ يُزْعِجَكَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى لَا يُشْغِلُكَ عَنْهُ شَيْءٌ

Sesungguhnya Allah sengaja melimpahkan gangguan kepadamu dari tangan-tangan manusia supaya engkau tidak jinak kepada mereka. Allah hendak membuatmu jemu dari segala sesuatu agar tidak ada sesuatu yang menyibukkan engkau dari Allah.

 

GANGGUAN manusia merupakan kenikmatan yang besar bagi seorang hamba. Terutama bagi yang terbiasa diperlakukan dengan lembut, dimuliakan dan dihormati. Karena dengan gangguan itu maka ia tidak merasa tentram dan tergantung kepada manusia. Dengan begitu, ia bisa berubudiah kepada Allah dengan sesungguhnya.

Misalnya, seorang alim yang terbiasa dihormati orang. Ia hidup dalam kenyamanan. Keinginannya selalu terpenuhi. Kemudian ia mendapat musibah diganggu orang. Maka sebenarnya itu bukan musibah. Tapi kenikmatan yang besar baginya. Sebab, gangguan itu membuatnya sadar, supaya ia tidak tergantung kepada manusia, tidak merasa bahwa manusia yang memberinya keuntungan. Akhirnya ia kembali kepada Allah.

Imam Abu Al-Hasan Asy-Syadzili bercerita: “Pada suatu ketika aku diganggu seseorang. Aku merasa susah karena itu. Lalu aku tidur dan bermimpi ada yang berkata padaku, “Termasuk tanda orang yang sampai kepada derajat Shiddiqiah adalah banyak musuhnya, tapi ia tidak peduli.”

Abdu As-Salam bin Al-Masyisy, guru Imam Asy-Syadzili, berdoa: “Ya Allah, ada sekelompok orang yang memohon kepadamu agar Engkau tundukkan makhlukmu kepada mereka, maka Engkau tundukkan makhluk itu kepada mereka. Lalu mereka merasa puas dengan itu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar makhluk itu menjauh dariku sehingga tidak ada tempat berlindung bagiku kecuali kepada-Mu.”

Abu Al-Hasan Al-Warraq berkata: “Merasa senang dengan makhluk adalah kesunyian. Tentram dengan mereka adalah kedunguan. Tenang dengan mereka adalah kelemahan. Bersandar kepada mereka adalah kerendahan. Percaya kepada mereka adalah kesia-siaan. Apabila Allah berkehendak baik kepada hamba-Nya maka Dia jadikan kesenangan hamba itu dengan Allah dan berdzikir kepada-Nya, dan tawakkalnya kepada Allah, dan hatinya dijaga oleh Allah dari menoleh kepada makhluk dan bersandar kepada mereka.”

Ulama tasawuf berkata: “Orang zuhud mengeluarkan harta dari kantong mereka. Sedangkan Ahl As-shafa (orang-orang bersih) mengeluarkan makhluk dari hati mereka untuk menyatakan kehambaan mereka kepada Allah.”

Ibn Athaillah menjelaskan dalam kitab Lathaif Al-minan :

“Ketahuilah bahwa para wali Allah pada permulaannya mereka diberi oleh Allah manusia-manusia yang mengganggu mereka agar mereka bisa bersih dari sisa kotoran hati dan keistimewaan mereka menjadi sempurna. Begitupula, agar mereka tidak bersandar dan mengandalkan makhluk. Siapa saja yang mengganggumu maka ia telah memerdekakan dirimu dari perbudakan kebaikannya. Barangsiapa berbuat baik kepadamu, maka ia telah memperbudak dirimu dengan hutang budi.”

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ اَسْدَى اِلَيْكُمْ مَعْرُوْفَا فَكَافِئُوْهْ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرُوْا فَادْعُوا لَهُ

“Apabila ada orang yang memberi kalian kebaikan maka balaslah. Apabila kalian tidak mampu, maka doakanlah dia.”

Semua itu agar hati bebas dari merasa berhutang budi kepada makhluk dan hanya bergantung kepada Allah.

Syeikh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili berkata: ‘Jauhilah kebaikan manusia melebihi engkau menjauhi kejahatan mereka. Sebab, kebaikan mereka mengena pada hatimu. Sedangkan kejahatan mereka menimpa badanmu. T ertimpa musibah pada badanmu lebih baik daripada terkena musibah di hatimu. Musuh yang membuatmu sampai kepada Allah lebih baik dari kekasih yang memutusmu dari Allah. Anggaplah menghadapnya manusia kepadamu sebagai malam (kesusahan) dan berpalingnya mereka darimu sebagai siang (kebahagiaan). Tidakkah kau lihat apabila mereka datang mereka menjadi fitnah.”

Gangguan manusia kepada para wali Allah pada permulaan perjalanan mereka merupakan sunnatullah (ketetapan Allah) bagi para kekasih dan manusia pilihan Allah.”

Abul Abbas Al-Mursi berkata: “Kelembutan adalah hijab dari Allah Yang Maha lembut.” Maksud Abul Abbas Al-Mursi adalah merasa tenang, sangat senang dan berhenti pada perlakuan baik atau kelembutan dari orang lain bisa menghijab seorang hamba dari Allah.

“Seorang Sufi tidak menjadi sufi sampai tidak ada tanah yang mengangkatnya, tidak ada langit yang menaunginya, tidak diterima oleh makhluk dan semua urusannya kembali kepada Allah,” kata seorang ulama.

Ada ungkapan yang berbunyi, “Al-Faqir (seorang Sufi) adalah orang yang tidak punya keinginan dunia dan akhirat. Bila ia diserahkan kepada Malik, malaikat penjaga neraka, niscaya Malik berkata, ‘Orang ini bukan golonganku.’ Apabila dipasrahkan kepada Ridwan, penjaga surga, maka Ridwan berkata, “Aku tidak kenal orang ini. Ia bukan termasuk orang-orangku.’ Jika kau bertanya,“Siapa dia dan apa panggilannya?” maka jawabannya, “Dia tidak memiliki panggilan apapun.”

Ungkapan ini menyatakan bahwa tujuan seorang sufi itu hanya murni kepada Allah, bukan dunia atau akhirat, bahkan bukan pula ingin surga atau takut neraka. Mereka tidak peduli dengan semua itu, sebab Allah tujuannya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.