Dibikin Susah Agar Kau Benci Dunia

Permulaannya Menarik, Akhirannya Menjemukan
May 30, 2021
Tidak Cukup Sekedar Nasehat
May 30, 2021

اِنَّمَا جَعَلَهَا مَحَلًّا لِلْأَغْيَارِ وَمَعْدِنًا لِلْأَكْدَارِ تَزْهِيْدًا لَكَ فِيْهَا

Sesungguhnya Allah menjadikan dunia ini sebagai tempat kerusakan dan sumber keresahan agar supaya engkau benci kepada dunia.

 

DUNIA ini oleh Allah diberi tanda dengan sifat berupa ‘tempat kerusakan dan kesusahan, sumber dari keresahan dan bencana’. Itu semua, supaya manusia jemu kepada dunia, zuhud dan menjauh darinya. Dengan begitu, orang itu bisa menghadap sepenuhnya kepada Allah, dan menuju kepada Allah dengan segala cita-citanya. Dengan kata lain, agar manusia berpaling dari dunia dan ia menghadap dan menuju akhirat.

Ini semua adalah kenikmatan dan kebaikan Allah kepada hamba-Nya, walaupun dhahirnya berbentuk musibah dan malapetaka. Orang yang punya mata hati mengerti hal ini.

Seumpama dunia ini dilapangkan kepada manusia, penuh dengan kebahagiaan dan kesenangan. semua keinginannya terpenuhi, maka ia akan benci bertemu Allah. Ruhnya akan kerasan tetap berada di alam badannya. Padahal Allah menginginkan jiwa manusia ini naik ke alam yang tinggi.

Andaikan tergambar ada orang yang segala keinginannya terpenuhi di dunia ini maka juga sepantasnya, kalau ia berakal, ia benci kepada dunia. Sebab, kesenangan dunia ini bersifat sementara dan pasti akan hilang. Di samping itu, kebahagiaan dunia ini dapat menghalangi kebahagiaan akhirat yang abadi dan dekat kepada Allah. Tentu, ini adalah sebuah kerugian besar; Kebahagiaan abadi ditukar dengan kebahagiaan sementara.

Malah dunia ini tergambar sebaliknya. Dunia adalah tempat terjadinya musibah, kesusahan, keresahan. Setiap orang di dunia ini setiap waktu menjadi sasaran dari tiga anak panah. Cobaan, kesedihan dan kematian. Apabila tiga hal itu menimpanya, maka nikmat berubah menjadi bencana dan kesenangan berubah menjadi kesusahan. Begitulah keadaan dunia. Kesenangannya tidak sebanding dengan kesusahannya. Kebaikannya tidak sesuai dengan keburukannya.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu berkirim surat kepada Salman Al-Farisi yang isinya:

“Dunia ini bagaikan ular. Lembut pegangannya. Tetapi bisanya mematikan. Maka berpalinglah dari dunia dan dari apa yang mengagumkan engkau, karena sedikit yang dapat engkau bawa sebagai bekal. Tinggalkanlah pikiranmu terhadap dunia, karena engkau yakin bahwa dunia ini akan engkau tinggalkan. Jadikanlah kesenanganmu di dunia dalam kewaspadaanmu terhadap apa yang ada di dunia. Sebab, orang di dunia ini kalau ia mulai senang dan tenang terhadap dunia, maka ia akan dibawa ke jurang bahaya dan kebinasaan.”

Ahli hikmah berkata: “Dunia ini bagaikan mimpi di saat tidur. Kesenangannya bagaikan bayangan awan. Kejadian-kejadiannya seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran. Dan godaannya bagaikan ombak yang besar.”

Apabila seseorang mengetahui dengan yakin dan hatinya mantap bahwa dunia ini keadaannya seperti itu, maka pasti ia akan meninggalkan dunia dan tidak terlintas sedikitpun di hatinya rasa senang terhadap dunia ini.

Abu Hasyim Az-Zahid bertutur: “Allah memberi tanda dunia ini dengan kesusahan agar para murid itu merasa senang dengan Allah, bukan dengan dunia, dan orang-orang yang taat bisa menghadap kepada Allah dan berpaling dari dunia; Orang-orang yang bermakrifat kepada Allah merasa kesepian di dunia dan mereka rindu kepada akhirat.”

Dikatakan bahwa Allah berkata kepada dunia:

“Sempitkanlah dan yang keras terhadap para wali-Ku. Senangkan dan beri kelapangan musuh-musuh-Ku. Sempitkan para wali-Ku agar mereka tidak tertipu denganmu dan meninggalkan Aku. Luaskan kepada para musuh-Ku agar mereka sibuk denganmu dari taat kepada-Ku sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk berdzikir kepada-Ku.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.