Di Dunia Memikirkan Ciptaan-Nya, Di Akhirat Melihat Dzat-Nya

Kerisauan Hati Ahli Ibadah Dan Orang Yang Zuhud
Feb 27, 2020
Kerinduan Kepada Allah
Mar 10, 2020

أَمَرَكَ فِي هٰذَا الدَّارِ بِالنَّظَرِ فِي مُكَوَّنَاتِهِ وَسَيَكْشِفُ لَكَ فِي تِلْكَ الدَّا عَنْ كَمَالِ ذَاتِهِ.

Allah menyuruh engkau di masa hidup di dunia ini untuk melihat dan memikirkan alam ciptaan-Nya. Dan kelak di akhirat nanti engkau akan diperlihatkan kesempurnaan Dzat-Nya.

PENGLIHATAN hamba-hamba Allah kepada Sang Tuhan menurut apa yang dibukakan Allah kepada mereka. Di dunia, mereka ‘melihat’ Allah dengan melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Mereka melihat Allah di dalam ciptaan-ciptaan-Nya itu dengan mata hati mereka. Sebab setiap ciptaan Allah itu menunjukkan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, mereka disuruh di dunia ini untuk melihat dan memikirkan ciptaan-ciptaan-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِى السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Katakanlah: “Perhatikanlah kebesaran-kebesaran yang Allah ciptakan di langit dan di bumi. ” (QS. Yunus: 101)
Sedangkan di akhirat mereka akan diperlihatkan Dzat Allah yang sempurna dengan terang-terangan tanpa ada hijab.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Qiyamah: 23)
Dalam sebuah hadits diceritakan, suatu ketika di malam hari, Nabi Muhammad shallaIlahu alaihi wasallam pernah duduk bersama para sahabatnya melihat bulan. Ketika itu beliau teringat dengan kekasihnya Allah dan merasa rindu kepada Dzat Allah yang sempurna. Kemudian beliau berkata kepada para sahabat yang berada di belakang beliau:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا كَمَا تَرَوْنَ هٰذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُوْنَ فِى رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Allah dengan jelas, sebagaimana kalian melihat bulan ini. Dan kalian tidak usah berdesakan untuk melihat Allah.” (HR. Bukhari Muslim)
Semua orang mukmin yang masuk surga pasti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka. Tetapi tingkatan mereka dalam melihat Allah berbeda-beda. Ada yang setiap saat melihat Allah. Ada orang yang hanya sekali dalam sehari semalam. Ada yang hanya sekali seminggu. Ada yang hanya setahun sekali. Semua itu tergantung menurut banyak ingatnya kepada Allah sewaktu ia dunia.

فَإِنَّهُ يَمُوْتُ الْمَرْءُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ

“Seseorang itu mati menurut kebiasaan hidupnya yang ia lakukan.”
Orang yang setiap saat melihat Allah di akhirat nanti ialah orang-orang yang ‘arif (mengenal Allah) yang selalu ‘melihat’ (mengingat) Allah di dunia ini.
Sebagaimana mereka di dunia tidak terpengaruh oleh dunia dan pikirannya hanya tertuju kepada Allah maka di surgapun seperti itu. Ketika mereka melihat kenikmatan-kenikmatan yang ada di surga, mereka pun tidak terpengaruh dengan semua itu. Bukan berarti mereka tidak menikmati kenikmatan-kenikmatan di surga, akan tetapi bagi mereka kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak terpikirkan dalam hati mereka. Karena ada kenikmatan yang melebihi semua itu, yaitu memandang Dzat Allah yang sempurna.
Al-lmam Ghazali mengatakan:

وَهٰذِهِ هِيَ غَايَةُ الْحُسْنَى وَنِهَايَةُ النُّعْمَى

“Bertemu dan melihat Allah itu adalah puncak kebaikan dan puncak kenikmatan surga dan puncak segala kenikmatan.”
Semua kenikmatan di surga akan terlupakan setelah melihat Allah. Karena itu seyogyanya semangat dan keinginan seorang hamba itu untuk masuk surga ingin bertemu dengan Allah dan Rasul shallallahu alaihi wasallam.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.