Dalam Maksiat Atau Taat, Nafsu Selalu Ikut Ambil Bagian

Tahu Rahasia Orang, Sebuah Fitnah Dan Bencana
Aug 1, 2020
Riya’ Bisa Masuk Dalam Kesunyian
Aug 12, 2020

حَظُّ النَّفْسِ فِى الْمَعْصِيَةِ ظَاهِرٌ جَلِيٌّ وَحَظُّهَا فِى الطَّاعَةِ بَاطِنٌ خَفِيٌّ وَمُدَاوَاةُ مَا يَخْفَى صَعُبَ عِلَاجُهُ

Bagian hawa nafsu dalam perbuatan maksiat, jelas dan terang. Bagian hawa nafsu dalam perbuatan taat, halus dan samar. Dan untuk mengobati sesuatu yang samar itu sangat sukar penyembuhannya.

HAWA nafsu selalu mengambil bagiannya, baik dalam kemaksiatan ataupun ketaatan.
Bagian nafsu dalam kemaksiatan seperti kelezatan makan, minum, kawin, mendengar nyanyian dan lainnya dari sesuatu yang diharamkan oleh agama. Bagian nafsu dalam kemaksiatan ini jelas dan nyata. Semua orang mengetahuinya.
Sedangkan bagian nafsu dalam ketaatan seperti melakukan amal taat dengan tujuan mencari kehormatan, ingin mendapat pujian di sisi manusia, ingin mengetahui sesuatu yang gaib. Tujuannya dalam beribadah tidak murni karena Allah. Ibadahnya bercampur riya’. Bagian nafsu dalam ketaatan ini halus dan samar.
Untuk mengobati yang pertama, bagian nafsu dalam kemaksiatan, tidaklah terlalu sukar. Itu bisa diobati dengan ber-uzlah, menjauh dari tempat-tempat kemaksiatan, bergaul dengan orang-orang baik dan banyak melakukan amal taat dan banyak berdzikir.
Tetapi untuk yang kedua, bagian nafsu dalam ketaatan, sangatlah sukar diobati. Sebab mengobati sesuatu yang samar itu lebih sulit dari mengobati sesuatu yang nyata. Bahkan dengan semakin banyak melakukan ketaatan semakin kuatlah nafsunya menuntut bagiannya.
Penyakit ini tidak bisa disembuhkan kecuali dengan ketakutan yang merisaukan atau kerinduan yang menggelisahkan atau berguru dengan wali arif yang sebenarnya. Ia mencintai, percaya dan pasrah dengan Syaikh Tarbiyah-nya tersebut.
Disebutkan dalam Al-Qur’an;

وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ اُخْرَى

“Apabila kalian mendapatkan kesulitan, maka akan disusui oleh perempuan lain untuknya.” (QS. Ath-Thalaq : 6)
Artinya, dalam tafsir isyari, apabila kamu kesulitan dalam mendidik dirimu maka ada orang lain yang mendidikmu, yaitu seorang Syaikh Tarbiyah (guru pendidik), sampai engkau sempurna dan disapih dari sifat-sifat tercelamu. Sehingga hati menjadi bersih dari bagian nafsu.
Apabila tidak ada salah satu dari tiga langkah penyembuhan di atas maka dikhawatirkan orang itu mati dalam keadaan hati yang sakit. Padahal tidak bisa bertemu Allah, kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ. إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Di hari yang tidak berguna harta dan anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara : 88)
Dikarenakan bagian nafsu dalam ketaatan itu lembut dan samar, maka sulit untuk menghindarinya. Tidak selamat darinya kecuali orang yang berhati-hati dan orang yang mempunyai pandangan yang jauh.
Abu Muhammad Al-Murta’isy berkata: “Aku telah melakukan haji berkali-kali. Maka jelaslah bagiku bahwa amal hajiku itu tercemar. Sebab, pada suatu hari ibuku menyuruhku mengambil segelas air minum. Tapi aku merasa berat. Maka aku mengerti bahwa amal hajiku selama ini karena adanya bagian hawa nafsu dan tercemar (tidak murni karena Allah). Sebab, andai betul-betul bagian nafsuku lenyap, maka aku tidak merasa keberatan mengambilkan air untuk ibuku, karena semua itu sama-sama menjalankan kewajiban syariat.” Apa yang dikatakan Abu Muhammad Al-Murta’isy menunjukkan bahwa ia berhati-hati dan berpandangan jauh.
Oleh karena itu, dalam beramal haruslah berhati-hati dan lakukanlah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah. Tidak hanya asal beramal. Hati-hati dengan menjaga niat dalam beramal. Berniatlah murni karena Allah. Hati-hatilah dengan tipu daya hawa nafsu. Semoga kita diselamatkan darinya. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.