Cahaya Tak Masuk Ke Hati Yang Kotor

Cahaya Ilahi, Di Luar dan Di Dalam Hati
Feb 26, 2021
Keterlambatan Itu Darimu Bukan Dari-Nya
Mar 4, 2021

رُبَّمَا وَرَدَتْ عَلَيْكَ اْلاَنْوَارُ فَوَجَدَتِ الْقَلْبَ مَحْشُوًّا بِصُوَرِ اْلاٰثَارِ فَارْتَحَلَتْ مِنْ حَيْثُ نَزَلَتْ فَرِّغْ قَلْبَكَ مِنَ الْاَغْيَارِ يَمْلَأْهُ بِالْمَعَارِفِ وَالْاَسْرَارِ

Adakalanya cahaya itu turun kepadamu, tetapi didapatkan di hatimu penuh kotoran kebendaan dan hawa nafsu, maka cahaya itu kembali ke tempat asal ia turun. Kosongkan hatimu dari kotoran kebendaan dan hawa nafsu niscaya Allah memenuhi hatimu dengan makrifat-makrifat dan rahasia-rahasia.

 

NUR Ilahi itu terkadang datang ke hati. Tetapi, ia merasa tidak mendapatkan tempat di hati itu dikarenakan hati itu dipenuhi dengan kotoran kebendaan dan hawa nafsu. Maka Nur Ilahi itu kembali ke tempat asalnya. Sebab, Nur Ilahi itu suci dan bersih tidak bisa menempati hati yang kotor. Ini sesuai dengan kata hikmah Ibn Athaillah sebelumnya yang berbunyi,

كَيْفَ يَشْرُقُ قَلْبٌ صُوَرُ اْلاَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِى مِرْأٰتِهِ

“Bagaimana akan menjadi terang (bercahaya), hati yang gambar alam masih melekat di cermin hati itu.”

Oleh karena itu, bila engkau ingin hatimu ditempati nur ilahi dan tampak di hati itu makrifat dan rahasia, maka kosongkanlah hatimu dari aghyar dan hapuslah gambaran kebendaan dari hati tersebut.

Aghyar adalah bentuk jamak dari ghiyar atau ghair yang berarti segala sesuatu selain Allah. Mengosongkan hati dari aghyar, yaitu janganlah hati ini berkaitan dengan sesuatu selain Allah baik yang berada di alam atas (ulwi) atau di alam bawah (sufli), dunia ataupun akhirat, bendawi ataupun maknawi. Bertujuan surga atau pahala contoh dari sesuatu selain Allah yang ukhrawi dan maknawi. Semua itu harus disingkirkan dari hati sehingga yang diinginkan hanyalah Allah saja.

Apabila hati itu sudah sanggup meninggalkan dunia ini secara keseluruhan dan tidak ada yang dicintai kecuali Allah, maka hati itu akan dipenuhi oleh Allah dengan Ma’arif (makrifat-makrifat) dan Asrar (rahasia-rahasia).

Asrar lebih tinggi dari Ma’arif. Sebab, Ma’arif itu adalah cahaya Malakut. Asrar adalah cahaya Jabarut. Seorang yang berhasil membersihkan hatinya dengan meninggalkan dunia akan terbuka baginya Alam Malakut. Dengan cahaya malakut itu ia menyaksikan semua alam ini berupa cahaya. Sesampainya di Alam Malakut yang penuh dengan cahaya tersebut ia terus naik sehingga sampai ke alam yang lebih tinggi, Alam Jabarut. Dengan cahaya Alam Jabarut itu ia melupakan alam malakut dan terus meningkat sehingga ia sampai pada Syuhud Ad-Dzat (melihat Dzat Allah dengan mata hati).

Sebagai makhluk termulia manusia bisa menembus semua alam tersebut sehingga sampai ke hadirat Allah. Manusia bisa mencapai semua tingkatan tersebut asalkan ia sungguh-sungguh berjuang membersihkan hati. Allah berjanji dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَاِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menuju Kami, maka sungguh Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut : 69)

Jadi, Kuncinya adalah kesungguhan.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.