Cahaya Penyingkap Sifat Allah

Cahaya Di Hati Berasal Dari Cahaya Gaib
Jul 12, 2020
Macet Bersama Cahaya
Jul 15, 2020

نُوْرٌ يَكْشِفُ لَكَ بِهِ عَنْ اٰثَارِهِ وَنُوْرٌ يَكْشِفُ لَكَ بِهِ عَنْ اَوْصَافِهِ

Ada cahaya yang Allah berikan untuk melihat benda-benda ciptaan-Nya. Ada cahaya yang Allah berikan untuk melihat sifat-sifat-Nya.

 

DALAM kata hikmah sebelumnya Ibnu Athaillah menerangkan tentang cahaya yang ada di hati manusia, maka dalam kata hikmah ini beliau menyebut faedah dari cahaya-cahaya. Buah dari cahaya itu adalah kasyf yang berarti mengetahui hakikat sesuatu.

Ada cahaya yang timbul dari benda ciptaan Allah, seperti matahari, rembulan, lampu dan lainnya. Cahaya ini dibuat untuk melihat ciptaan-ciptaan Allah. Dengan cahaya itu manusia bisa melihat benda yang ada di langit, di bumi, ataupun di dalam lautan. Cahaya seperti ini tidak begitu penting kecuali hanya untuk menunjukkan kepada adanya penciptanya, yaitu Allah.

وَكُلُّ شَيْءٍ لَهُ أٰيَةٌ    تَدُلُّ عَلَى اَنَّهُ وَاحِدٌ

Pada setiap sesuatu ada tanda

Yang menunjukkan keesaan Allah

Kasyf yang ditimbulkan oleh cahaya ini disebut oleh ahli tahqiq dengan kasyf shuri (menyingkap gambaran ciptaan Allah).

Ada pula cahaya yang bisa menyingkap sifat-sifat dan asma Allah. Bila cahaya ini berada di hati seseorang maka ia dapat melihat dengan jelas sifat-sifat dan asma Allah. Sifat-sifat Allah itu Seperti kesempurnaan, ilmu, kekuasaan, rahmat-Nya dan sifat yang lainnya. Kasyf yang dihasilkan oleh cahaya yang kedua ini disebut oleh ahli tahqiq dengan kasyf maknawi. Inilah yang diharapkan oleh para Arifin.

Orang yang diberi cahaya kasyf maknawi ini akan bertambah yakin dan merasa bahwa semua makhluk ini kurang dan tidak sempurna di hadapan kesempurnaan sifat Allah. Ia akan menganggap semua makhluk rusak dan fana.

Sebuah kelaziman bagi orang yang di anugerahi oleh Allah dengan cahaya yang bisa menyingkap hakikat sifat-sifat Allah, akan terpancar di hatinya cahaya yang dengannya ia bisa mengetahui dzat Allah. Ia naik ke tingkatan yang lebih tinggi.

Orang yang mengetahui Allah dari jauh dengan melalui ciptaan-Nya berada di maqam Islam. Ada yang melihat Allah dari dekat dengan melalui sifat-sifat-Nya. Ini maqam Iman. Ada pula yang melihat Allah lebih dekat dan terus menyambung dengan melihat dzat-Nya. Ini maqam Ihsan.

Begitulah perbedaan antara dua cahaya itu. Dalam Lathaiful Minan, Ibnu Athailah berkata: “Dengan cahaya matahari kau bisa melihat atsar (ciptaan Allah). Dengan cahaya keyakinan kau bisa melihat muatssir (Allah Maha Pencipta).”

Penyair sufi berkata:

هٰذِهِ الشَّمْسُ قَابَلَتْنَا بِنُوْرٍ    وَلَشَمْسُ الْيَقِيْنِ أَبْهَرُ نُوْرًا

فَرَأَيْنَا بِهٰذِهِ النُّوْرَ لٰكِنْ    بِهَاتِيْكَ قَدْ رَأَيْنَا الْمُنِيْرَا

Matahari menghadap kepada kita dengan cahaya

Tetapi mentari keyakinan sinarnya lebih terang

Dengan matahari kita bisa melihat cahaya

Tetapi dengan cahaya keyakinan itu kita melihat Pencipta cahaya

Diharapkan bagi orang yang bersuluk menempuh jalan Allah agar berusaha keras meningkatkan kedudukan dirinya. Dari cahaya pertama yang untuk melihat atsar (ciptaan Allah) ke cahaya kedua yang berguna untuk melihat sifat-sifat Allah dan seterusnya naik ke Cahaya ketiga yang berfaedah untuk melihat dzat Allah. Begitu pula naik dari maqam Islam ke maqam Iman, dan naik lagi ke maqam Ihsan. Atau dengan kata lain dari Syariat ke Tariqat. Dan dari Thariqat ke Haqiqat.

Janganlah ia berhenti pada tempatnya. Sebab perjalanan masih jauh sampai ia meraih cahaya yang ketiga. Dan terus menerus sampai maqam yang tidak ada batasnya. Kalau ia berhenti di situ, maka ia terhijab dari maqam di atasnya, sebagaimana keterangan dalam kata hikmah selanjutnya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.