Cahaya Ilmu Yang Bermanfaat Dan Meluas Di Dada

Tidak Cukup Sekedar Nasehat
May 30, 2021
Ilmu Terbaik Yang Dibarengi Rasa Takut
Jun 5, 2021

العِلْمُ النَّافِعُ هُوَ الَّذِى يَنْبَسِطُ فِى الصَّدْرِ شُعَاعُهُ وَيَنْكَشِفُ عَنِ الْقَلْبِ قِنَاعُهُ

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka dari hati penutup hati.

 

ILMU yang yang bermanfaat adalah ilmu tentang Dzat, asma dan sifat Allah, dan ilmu mengenai tatacara beribadah kepada Allah dan beradab terhadap Allah. Inilah ilmu yang sinar cahayanya meluas di dalam dada sehingga dada menjadi lapang menerima ajaran agama Islam. Ilmu yang bermanfaat ini membuka penutup hati sehingga hilanglah keraguan dan prasangka dari hati tersebut.

Nabi Dawud mengatakan, “Ilmu di dalam hati bagaikan lampu di dalam rumah.”

Muhammad bin Ali At-Turmudzi menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memancar cahayanya di dalam dada sehingga bisa membedakan perkara yang baik dan yang buruk. Kemudian yang baik dilaksanakan dan yang buruk ditinggalkan. Adapun ilmu yang engkau ketahui adalah ilmu lisan yang ada dalam kitab dan hafalan manusia sedangkan hawa nafsu yang kuat telah menguasainya dan kegelapannya menghilangkan cahayanya.

Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud :

اَنْتُمُ الْيَوْمَ فِى زَمَانٍ الْهَوَى فِيْهِ تَابِعٌ لِلْعِلْمِ وَسَيَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يَكُوْنُ الْعِلْمُ فِيْهِ تَابِعًا لِلْهَوَى

“Sekarang kalian berada di zaman di mana hawa nafsu tunduk mengikuti ilmu. Dan akan datang kepada kalian zaman yang mana ilmu tunduk mengikuti hawa nafsu.”

Abu Muhammad Abdul Aziz Al-Mahdawi berkata, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu tentang waktu, kebersihan hati, zuhud terhadap dunia, apa yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, takut kepada Allah dan berharap kepada-Nya, bahaya-bahaya nafsu dan pembersihan jiwa. Ini adalah ilmu yang disebut sebagai cahaya yang dilempar oleh Allah di hati orang yang Ia kehendaki, bukan ilmu lisan, ilmu ma’qul atau manqul.”

Imam Malik bin Anas berkata :

لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ وَاِنَّمَا هُوَ نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُلُوْبِ

“Ilmu itu bukanlah dengan banyak meriwayatkan. Tetapi ilmu itu adalah cahaya yang diturunkan Allah ke dalam hati.”

Manfaat ilmu adalah untuk mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya dan menjauhkannya dari melihat kepada dirinya. Dan ini adalah puncak kebahagiaan, harapan dan keinginannya.

Imam Junaid berkata:

الْعِلْمُ اَنْ تَعْرِفَ رَبَّكَ وَلَا تَعْدُوَ قَدْرَكَ

“Ilmu (yang bermanfaat) adalah engkau mengenal Tuhanmu dan engkau tidak melampaui kedudukan dirimu.”

Ilmu yang disebutkan oleh Imam Junaid di atas adalah maksud dari ilmu para sufi, yaitu makrifat (mengenal) Allah dan beradab dengan baik di hadapan Allah dengan menyadari bahwa dirimu adalah hamba Allah. Ilmu inilah yang harus dicari dan didalami walau menghabiskan umur yang panjang.

Abul Hasan As-Syadzili berkata :

مَنْ لَمْ يَتَغَلْغَلْ فِى هٰذِهِ الْعُلُوْمِ مَاتَ مُصِرًّا عَلَى الْكَبَائِرِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ

“Orang yang tidak mendalami ilmu-ilmu ini maka ia mati dalam keadaan terus menerus melakukan dosa-dosa besar sedangkan dia tidak menyadarinya.”

Artinya, orang itu tidak menyadari bahwa ia melakukan dosa-dosa besar, yang berupa sifat-sifat tercela di dalam hati seperti sombong, ujub dan riya’ karena dia tidak mendalami ilmu tasawuf yang mengajarkan cara membersihkan hati dari sifat-sifat itu.

Adapun ilmu-ilmu selain yang disebutkan di atas terkadang tidak dibutuhkan dan bahkan ada yang berbahaya bagi orang yang menekuninya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.