Berbicara Karena Tak Tahan Atau Untuk Mendidik Murid

Hakikat Muncul Dengan Cahaya Suram
Dec 9, 2020
Nasihat adalah Santapan Ruhani
Dec 9, 2020

عِبَارَتُهُمْ إِمَّا لِفَيْضَانِ وُجْدٍ اَوْ لِقَصْدِ هِدَايَةِ مُرِيْدٍ فَالْأَوَّلُ حَالُ السَّالِكِيْنَ وَالثَّانِيْ حَالُ اَرْبَابِ الْمُكْنَةِ وَالْمُحَقِّقِيْنَ

Kata-kata mereka adakalanya timbul dari luapan perasaan yang memenuhi hati yang tidak dapat ditahan, atau karena bertujuan memberi petunjuk kepada murid. Yang pertama adalah keadaan orang yang bersuluk. Yang kedua adalah keadaan orang yang benar-benar memahami hakikat.

 

Karena Tak Tahan

Kata-kata yang keluar dari mulut mereka, adakalanya timbul dari luapan perasaan yang memenuhi hati mereka yang tidak bisa ditahan. Keadaan seperti ini terjadi pada Salikin (orang yang berjalan menuju hakikat) yang juga disebut dengan Ahli Bidayah.

Semestinya, mereka menahan perasaan itu sehingga tidak didengar orang lain, yang mungkin tidak mengerti ucapan itu atau bahkan akan menimbulkan fitnah. Tetapi, dalam keadaan perasaan yang meluap di hati dan tidak bisa ditahan lagi ini, mereka dimaafkan. Sebab, mereka dikalahkan dengan luapan perasaan tersebut. Betapa sulitnya membendung perasaan yang meluap di dalam dada.

Di dalam Kitab Lathaiful Minan, Ibn Athaillah mencontohkan orang yang dalam hal ini dengan Samnun Al-Muhibb, seorang yang dimabuk cinta kepada Allah. Pada suatu hari Samnun tidak bisa menahan perasaannya dan berkata:

وَلَيْسَ لِيْ فِى سِوَاكَ حَظٌّ       فَكَيْفَمَا شِئْتَ فَاخْتَبِرْنِيْ

Aku tidak ingin apa-apa selain Engkau

Maka ujilah aku sesuka-Mu

Samnun menantang Allah untuk mengujinya. Maka Allah menguji Samnun dengan penyakit tidak bisa kencing. Setelah itu Samnun berkeliling ke pintu-pintu madrasah dan berkata kepada anak-anak kecil, “Doakanlah paman kalian yang pembohong ini.”

Ibn Athaillah menyatakan bahwa ucapan Samnun itu sampai kepada gurunya, Syeikh Abul Abbas Al-Mursi dan beliau berkata: “Semoga Allah merahmati Samnun. Kenapa ia tidak berkata begini,

وَلَيْسَ لِيْ فِى سِوَاكَ حَظٌّ       فَكَيْفَمَا شِئْتَ فَاعْفُ عَنِّيْ

Aku tidak ingin apa-apa selain Engkau

Maka maafkanlah aku sesuka-Mu

Kalau ada orang mengeluarkan kata-kata hakikat, tetapi bukan karena dikalahkan oleh meluapnya perasaan yang tak tertahankan maka itu merupakan pengakuan bohong belaka.

 

Untuk Mendidik Murid

Adakalanya ucapan mereka, yang berupa rahasia-rahasia gaib, dikeluarkan dengan tujuan untuk memberi petunjuk kepada murid. Dengan ditampakkannya rahasia-rahasia itu hati murid akan menjadi mantap, dan keyakinannya bertambah kuat, sehingga ia terus bersemangat dalam melakukan perjalanan menuju Allah. Ini adalah keadaan orang yang benar-benar mantap dalam hakikat dari para arifin.

Namun, jika ucapan itu ditampakkan bukan dengan tujuan memberi petunjuk kepada murid maka hal itu termasuk membocorkan rahasia Allah yang seharusnya disimpan dan tidak diizinkan untuk disebarluaskan. Semestinya, sebagai kesopanan atau adab orang yang duduk di hadirat Allah ia harus tetap diam, sebagaimana Allah berfirman:

وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمٰنِ فَلَا تَسْمَعُ اِلَّا هَمْسًا

“semua suara itu tunduk kepada Allah yang maha pengasih. Maka kamu tidak mendengar, kecuali bisikan saja” (QS. Thaha : 108)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.