Baru Mendekati Bisa Bicara Kewalian

Nasihat adalah Santapan Ruhani
Dec 9, 2020
Obral Rahasia Hati, Bisa Tak Dapat Lagi
Dec 10, 2020

رُبَّمَا عَبَّرَ عَنِ الْمَقَامِ مَنِ اسْتَشْرَفَ عَلَيْهِ وَرُبَّمَا عَبَّرَ عَنْهُ مَنْ وَصَلَ اِلَيْهِ وَذٰلِكَ مُلْتَبِسٌ اِلَّا عَلَى صَاحِبِ بَصِيْرَةٍ

Adakalanya orang yang menerangkan suatu tingkatan derajat kewalian adalah seseorang yang ingin sampai kepadanya dan baru mendekati. Adakalanya orang yang menerangkan itu orang yang sudah sampai kepadanya. Demikian ini masih samar, kecuali bagi orang yang punya mata hati yang tajam.

 

TINGKATAN-tingkatan kewalian itu bisa diterangkan oleh dua jenis orang. Adakalanya yang menerangkan tingkatan kewalian itu memang orang yang sudah sampai pada tingkatan itu. Adakalanya orang itu baru mendekati dan punya keinginan bisa sampai pada tingkatan itu.

Misalnya, orang yang belum wali sudah bicara soal kewalian. Tetapi orang ini mengetahui sifat-sifat dan rahasia wali, sebab ia pernah menemani seorang wali. Orang ini baru mendekati tingkatan kewalian itu. Ia masih belum masuk pada tingkatan itu. Lama-lama orang yang mendekati itu akan masuk juga.

Kedua jenis orang ini, orang yang benar-benar sampai atau hanya mengintai, sulit untuk dibedakan oleh para pendengarnya. Bisa terjadi salah terka. Yang baru mendekati dikira sudah sampai, atau sebaliknya. Hanya orang yang bermata hati tajam yang bisa membedakan kedua orang tersebut.

Apabila thariqat atau tingkatan kewalian itu diterangkan oleh selain dari kedua jenis orang di atas, maka keterangan orang tersebut bisa menyesatkan pendengarnya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.