Bagaimanapun, Allah Maha Mulia

Perintahkan Taat Dan Larang Maksiat, Semata Untuk Keuntunganmu
Apr 9, 2021
Arti Sampai Kepada Allah
Apr 9, 2021

لَا يَزِيْدُ عَنْ عِزِّهِ اِقْبَالُ مَنْ اَقْبَلَ عَلَيْهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ قَدْرِهِ اِدْبَارُ مَنْ اَدْبَرَ عَنْهُ

Tidak menambah dari kemuliaan Allah orang yang menghadap kepada-Nya. Dan tidak mengurangi kemuliaan Allah orang yang menjauh dari-Nya.

 

ALLAH itu Maha Mulia. Sifat kemuliaan Allah itu adalah sifat azaliah yang qadimah. Kemuliaan itu tidak berubah sejak sebelum penciptaan alam raya sampai setelah penciptaan makhluk ini. Tidak bertambah mulia karena kepatuhan dan ketaatan seseorang kepada-Nya. Juga tidak berkurang kalau ada orang yang menjauh dari-Nya. Sebab, Allah itu tidak butuh kepada seluruh alam raya ini. Tetapi merekalah yang membutuhkan Allah, Tuhan pencipta dan perawat alam ini, Allah Rabbul Alamin.

Di dalam hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah bersabda:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ، يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا، فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ، فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, andai orang pertama kalian sampai akhir kalian, manusia dan jin kalian, semuanya menjadi satu hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, maka hal itu tidak menambah kekuasaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-hamba-Ku, andai orang pertama kalian sampai akhir kalian, manusia dan jin kalian, semuanya menjadi satu hati orang yang paling jahat di antara kalian, maka hal itu tidak mengurangi kekuasaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-hamba-Ku, andai orang pertama kalian sampai akhir kalian, manusia dan jin kalian berdiri di sebuah tanah lapang dan masing-masing memohon permintaannya kepada-Ku. Lalu setiap orang Aku beri permintaaannya maka hal itu tidak akan mengurangi apa yang Aku miliki kecuali seperti kurangnya air laut bila diambil dengan ujung jarum. Wahai hamba-hamba-Ku, Aku ambil amalmu untuk Aku hitung, kemudian Aku kembalikan dengan balasan-balasannya. Siapa mendapatkan kebaikan maka pujilah Allah. Dan barangsiapa mendapatkan selain itu maka jangan mencela kecuali dirinya .” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kemuliaan Allah. Oleh karena itu, tidak ada seorangpun yang dapat menyucikan Allah dari segala kesempurnaan yang tidak sesuai dengan Dzat Allah. Sebab inilah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bermunajat kepada Allah:

لَا اُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Aku tidak mampu memuji Engkau sebagaimana Engkau memuji Dirimu.”

Nabi mengakui bahwa ia tidak bisa menyucikan Allah dari kesempurnaan yang tidak sesuai dengan Allah. Pujian setinggi apapun tidak ada yang cocok dengan keagungan Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.