Arti Sampai Kepada Allah

Bagaimanapun, Allah Maha Mulia
Apr 9, 2021
Arti Dekat Kepada Allah
Apr 9, 2021

وُصُوْلُكَ اِلَى اللهِ وُصُوْلُكَ اِلَى الْعِلْمِ بِهِ وَاِلَّا فَجَلَّ رَبُّنَا اَنْ يَتَّصِلَ بِهِ شَيْءٌ اَوْ يَتَّصِلَ هُوَ بِشَيْءٍ

Sampainya engkau kepada Allah ialah sampainya engkau kepada ilmul yaqin (kesempurnaan makrifatmu). Kalau tidak demikian, maka maha suci Allah untuk disambung oleh sesuatu atau bersambung dengan sesuatu.

 

SAMPAI kepada Allah yang diterangkan oleh ahli thariqah adalah sampai kepada ilmu hakekat atau ilmu makrifat. Atau dengan kata lain, sampai kepada Allah dengan keimanan dan keyakinan yang kuat.

Derajat sampai kepada Allah itu berbeda-beda pada setiap orang dengan berbedanya kekuatan iman pada orang tersebut. Wushulnya Abu Bakar As-Shiddiq tentu berbeda dengan para sahabat yang lain. Keimanan Abu Bakar yang sangat kuat membuatnya mengungguli yang lainnya. Bahkan dikatakan, derajat sampai kepada Allah itu tidak ada batasnya. Tidak bisa ditempuh dengan umur akhirat yang kekal, apalagi dengan umur dunia yang pendek. Oleh karena itu, kata seorang Sufi, tetap carilah Allah walau engkau sudah mendapat derajat khalil Ibrahim, mukalamah (dialog) Musa, ruhaniah Isa, ataupun rukyah-nya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Iman, yang merupakan karunia yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba-Nya, bisa menjadi semakin kuat. Tahapan pertama dari sampai kepada Allah dengan keimanan yang kuat adalah ilmul yaqin. Kemudian meningkat ke ainul yaqin. Terus naik ke Haqqul yaqin.

Sampai kepada ilmul yaqin inilah yang dimaksud dengan sampai kepada Allah. Sampai kepada Allah juga berarti seseorang dengan keimanannya yang kuat merasa bahwa ia melihat Allah dan selalu dilihat oleh Allah. Ia merasa selalu dalam pantauan Allah. Sehingga ia selalu melakukan amal taat dan menghindari maksiat. Ini yang dimaksud dengan Al-Ihsan dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Sampai kepada Allah janganlah diartikan sampai kepada Dzat Allah atau melihat Dzat-Nya. Itu mustahil dan tidak mungkin. Selagi masih di dunia, tidak mungkin manusia bisa melihat Dzat Allah. Musa meminta kepada Allah agar dapat melihat-Nya. Tapi Allah menyatakan bahwa Musa tidak akan bisa melihat kepada-Nya. Lalu Allah ber-tajalli kepada gunung. Maka gunung itu hancur. Musa kaget dan pingsan.

Allah tidak disifati dengan tempat dan zaman. Janganlah berprasangka bahwa sampai kepada Allah sebagaimana sampainya seseorang kepada sebuah tempat. Maka Maha suci Allah untuk disambung oleh sesuatu atau bersambung dengan sesuatu.

Imam Junaid berkata: “Bagaimana akan bersambung Dzat yang tidak punya keserupaan dan bandingan dengan sesuatu yang ada keserupaan dan bandingannya.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.