Apa yang di Hati Tampak di Luar

Cemerlang di Permulaan, Cemerlang di Penghabisan
Oct 4, 2018
Beda Jauh antara Murad dan Murid
Oct 7, 2018

 مَا اسْتُوْدِعَ فِيْ غَيْبِ السَّرَائِرِ ظَهَرَ فِيْ شَهَادَةِ الظَّوَاهِرِ

Apa yang tersimpan dan dirahasiakan dalam hati bekasnya akan tampak pada kenyataan dhahirnya.

 

SEGALA sesuatu yang tersimpan dalam hati, baik berupa kebaikan, keburukan, sifat terpuji atau tercela, maka pasti akan tampak pada dhahirnya. Dan apa yang tertutup dalam hati akan terlihat bekasnya di wajah.

Maqalah mengatakan:

الظَّاهِرُ مِرْأَةُ الْبَاطِنِ

“Yang dhahir adalah cermin batin.”

أَلْأَسِرَّةُ تَدُلُّ عَلَى السَّرِيْرَةِ

“Raut muka menunjukkan isi hati.”

Misalnya, rahmat (kasih sayang) yang ada dalam hati pasti akan terlihat di raut muka orangnya. Kasih sayang yang ada di hati orang itu terbaca di wajahnya. Sebaliknya sifat kejam di hati akan kelihatan di raut muka orang itu. Sebab, apa saja yang tersimpan di hati akan tampak dari wajah atau perbuatan seseorang.

Kita bisa mengerti hati seseorang sedang susah dari wajah orang itu. Jika ia tertunduk lesu, tampak murung maka menunjukkan hati orang itu sedang sedih. Wajah orang yang sedang bahagia berbeda dengan orang yang susah. Wajah berseri dan tersenyum, atau tertawa menunjukkan hati orang itu sedang bahagia.

Kekhusyukan dalam hati akan tampak di anggota badan seseorang. Bila hati khusyuk maka badannya juga khusyuk. Orang itu akan tampak tenang. Pernah ada seseorang shalat di samping Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dalam shalatnya ia memainkan jenggotnya. Maka Nabi bersabda:

لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ

“Andai hati orang ini khusyuk, maka tenanglah anggota badannya…”

Gerak-gerik tubuh manusia tergantung pada hatinya. Ini digambarkan dengan tepat oleh Nabi dalam haditsnya:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلُحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

“Di dalam badan manusia ada segumpal daging, apabila ia baik maka seluruh jasad akan baik. Apabila rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah itu adalah hati.”

Jadi yang dhahir tergantung batin. Kalau hatinya baik, maka yang nampak di luar akan baik. Semua anggota badan adalah pasukannya hati. Hati adalah rajanya. Apa katanya hati. Hati baik, maka semua anggota badan akan bergerak menuju kebaikan. Kalau jelek akan bergerak menuju kejelekan. Maka perlu dijaga kesehatan hati.

Kata-kata baik yang keluar dari mulut seseorang timbul dari hati yang baik. Seseorang yang hatinya kotor akan muncul kata-kata yang kotor pula dari mulutnya. Dalam syahid nahwu ada syair yang berbunyi:

إِنَّ الْكَلَامَ لَفِيْ الْفُؤَادِ وَإِنَّمَا  جُعِلَ اللِّسَانُ عَلَى الْفُؤَادِ دَلِيْلًا

Sesungguhnya kata-kata itu dalam hati

Lidah hanyalah menunjukkan apa yang ada di hati

Hati yang bersih akan bercahaya. Cahaya itu akan menembus dan kelihatan di wajahnya. Cahaya keimanan seseorang bisa muncul di wajahnya dan menjadikan orang itu bila dipandang wajahnya mengingatkan kepada Allah dan menimbulkan nikmat untuk dipandangi. Wajah para wali Allah tampak bersinar dan menyenangkan bila dipandang. Hanya dengan memandang wajahnya saja sudah mengingatkan orang yang memandang itu kepada Allah. Tetapi melihatnya harus dengan penuh keyakinan bahwa dia adalah kekasih Allah.

Habib Abdullah Al-Haddad berkata:

وَبَقِيَةٌ فِي العَصْرِ مِنْهُمْ عُمِّرُوْا  لِتَكُونَ فِيْهِمْ مُتْعَةُ الـمُتَمَتِّعِ

Dari mereka di zaman ini ada yang dipanjangkan umurnya

Agar bisa dinikmati orang di zaman itu

Habib Ali Al-Habsyi, Kwitang, termasuk orang yang dipanjangkan umurnya untuk dinikmati orang di zaman itu. Dengan memandang wajah beliau sudah membikin air mata mengalir karena ingat kepada Allah. Kiai Ahmad Jufri, Besuk, Pasuruan setiap minggu pergi ke Kwitang demi untuk menikmati wajah Habib Ali Al-Habsyi.

Imam Ahmad Al-Badawi wajahnya sangat bercahaya sampai diberi tabir. Ada satu muridnya yang memaksa untuk melihatnya, lalu dibukalah wajah beliau, maka murid itu langsung mati. Habib Ahmad Sohibussyi’b di tubuhnya tertulis lafadz jalalah bagaikan perisai. Tulisan rabbani yang timbul dari dalam hati.

Semuanya cahaya itu lewat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau punya Nuraniyah yang besar. Bahkan Beliau adalah Nur Kulluh (semuanya berbentuk cahaya). Semua wali itu dapat dari bagian beliau. Yang membuktikan bahwa Nabi adalah cahaya adalah doa Nabi dalam riwayat, Waj’alni Nuron (jadikan aku cahaya).

Kata ulama, kadang Nuraniyah Nabi tampak keluar. Pada suatu saat, Aisyah mencari jarum di malam hari. Ia menemukan jarum itu melalui pencahayan wajah Nabi. Pada saat yang lain Nabi pernah menyentuh barang di pasar. Barang itu menjadi menyala. Cahaya Nabi merambat kepada yang lain.

Sahabat Abbad bin Bisyr bersama Usaid bin Khudhair datang kepada Nabi dan pulang kemalaman. Tongkat yang mereka bawa bercahaya dan dijadikan lampu penerangan sampai ke rumah. Memang nuraniyah Nabi sangat luar biasa. Mudah-mudahan kita juga dapat nuraniyah itu, juga anak keturunan kita sampai hari kiamat. Amin.

Begitupula kegelapan di hati seseorang bisa tampak di raut Wajahnya. Sehingga wajah orang itu tampak gelap walau putih kulitnya. Lebih-lebih lagi kalau kegelapan itu ditimbulkan dari aqidah yang rusak. Jika aqidah seseorang rusak, maka langsung macet hatinya. Aqidah itu asas atau pondasi. Kalau pondasinya rusak maka semuanya roboh.

Seperti orang Syiah. Tampak di wajah mereka kegelapan. Yang bisa melihat itu orang yang punya mata hati. Dan saya termasuk orang yang melihat itu. Mereka membikin cemar majlis. Habib Anis bin Alawi Al-Habsyi, Solo, bila mendapatkan undangan yang dihadiri oleh orang Syiah, maka undangan itu langsung dilempar.

Disebutkan oleh Syekh Yusuf Nabhani dalam Kitab Jami’u Karamatil Auliya bahwa di antara para wali ada golongan Rojabiyun. Mereka melihat orang yang beraqidah Syiah berbentuk celeng. Mereka tidak bisa ditipu. Selagi orang itu menyimpan akidah Syiahnya maka akan tampak berbentuk celeng. Kalau sudah betul-betul tobat, maka kembali berbentuk manusia.

Mudah-mudahan kita diselamatkan oleh Allah, diberi oleh Allah hati bercahaya, hati yang penuh mahabbah kepada Rasul, keluarganya, istri-istrinya dan sahabatnya dan para wali. Mudah-mudahan kita dibangkitkan bersama mereka dan masuk surga bersama mereka. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published.