Sifat-Sifat AlIah

Ilmu Tauhid berikut Dasar-dasarnya
May 23, 2016
Sifat-sifat Para Nabi dan Rasul
May 23, 2016

Sifat-Sifat AlIah

Setiap umat muslim wajib mengetahui serta meyakini ‘aqidah lima puluh (Aqa’id al Khamsin) beserta dalil-dalilnya yang global maupun yang terperinci.

Lima puluh keyakinan itu adalah sebagai berikut:
* Keimanan kepada Allah SWT:
1. Sifat wajib bagi Allah SWT = 20
2. Sifat mustahil bagi Allah SWT = 20
3. Sifat jaiz bagi Allah SWT = 1

* Keimanan kepada para rasul:
4. Sifat wajib bagi rasul = 4
5. Sifat mustahil bagi rasul = 4
6. Sifat jaiz bagi rasul = 1
Jumlah keseluruhan adalah = 50
Apa yang dimaksud dengan sifat wajib, mustahil dan jaiz?
Sifat wajib adalah sesuatu yang pasti ada atau dimiliki Allah SWT atau rasul-Nya, di mana akal tidak akan membenarkan jika sifat-sifat itu tidak ada pada Allah SWT dan rasul-Nya.
Sifat Mustahil adalah perkara yang tidak mungkin ada pada Allah SWT dan rasul-Nya. Sifat ini adalah kebalikan dari sifat wajib, yaitu akal tidak akan menerima jika sifat-sifat itu ada pada Allah SWT dan para rasul-Nya.

Sifat Jaiz adalah sifat yang tidak harus ada pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan kata lain ada dan tidak adanya sifat ini pada Allah SWT dan rasul-Nya, bisa diterima oleh akal.

Apa saja sifat-sifat wajibnya Allah SWT?
Sifat-sifat wajib Allah SWT itu berjumlah dua puluh, yaitu:
1. Wujud : artinya ada. Dalil dari sifat ini ialah wujudnya alam semesta ini, karena tidak mungkin alam yang begitu besar dan menakjubkan ini ada dengan sendirinya. Jika demikian, maka alam jagat raya ini ada yang mewujudkan / menciptakan. Dia itu adalah Allah SWT. Kebalikan dari sifat ini adalah ‘adam (ketiadaan).
Allah SWT berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14).
2. Qidam : artinya dahulu. Allah SWT sebagai Pencipta Alam Jagat Raya ini, tentu lebih dahulu dari pada segala makhluk ciptaannya.
Sebagaimana sabda Nabi:

عن عمران بن حصين, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم, كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ.

Dari Imran bin Hushain Ra, Rasulullah bersabda, “Allah SWT ada dan belum ada sesuatupun selain Dia. (HR. al-Bukhari dan al-Baihaqi).

Allah SWT berfirman :

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Hadid : 3).

Allah SWT ada tanpa ada yang mengawali dan tidak berasal dari tidak ada kemudian ada. Kebalikan dari sifat ini adalah huduts (baru). Dalilnya, adalah apabila Ia tergolong dzat yang baru, maka tentu Ia juga makhluk ciptaan. Jika demikian adanya, tentu Ia butuh terhadap pencipta. Hal itu tentulah mustahil bagi Allah SWT.
3. Baqa’ : artinya kekal. Allah SWT itu senantiasa ada. Dia tidak akan mengalami kebinasaan maupun kerusakan.
Allah SWT berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. ar-Rahman : 26-27)
Dalil dari sifat baqa’ ini adalah apabila Allah SWT tidak kekal, maka Ia tentu sama dengan makhluk. Dan itu tentu mustahil bagi akal. Kebalikan dari sifat ini adalah Fana’ (tidak kekal)
4. Mukhalafatuhu lil Hawaditsi : artinya Allah SWT itu berbeda dengan segala hal yang sifatnya baru (makhluk), beda dalam hal sifat, perbuatan dan dzat-Nya. Firman Allah SWT:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. as-Syura : 11).

Imam Ahmad berkata dalam kitab Al-Farqu Baina Firaq, hal. 20:

مَهْمَا تَصَوَّرَتْ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلاَفِ ذَالِكَ

Apapun yang terlintas di dalam benakmu (tentang Allah SWT), maka Allah SWT tidak seperti yang dibayangkan itu.

Seorang mukmin tidak diperkenankan membahas Dzat Allah SWT karena ia tidak akan mampu melakukan hal itu. Ketidak-mampuan tersebut justru dianggap sebagai bentuk pengetahuan. Sebagaimana apa yang pernah disampaikan sahabat Abu Bakar as-Shiddiq ra:

 اَلْعَجْزُ عَنْ دَرْكِ اْلإِدْرَاكِ إِدْرَاكٌ     وَالْبَحْثُ عَنْ ذَاتِهِ كُفْرٌ وَإِشْرَاكٌ

Ketidak-mampuan untuk mengetahui Allah SWT adalah sebuah pengetahuan. Sedangkan membahas Dzat-Nya adalah perbuatan kufur dan syirik.

Kebalikannya adalah Mumatsalatuhu Iil Hawaditsi (kesamaan Allah SWT dengan makhluk-Nya).
Dalilnya; apabila Allah SWT sama dengan makhluknya, maka tentu ia akan membutuhkan pencipta. Dan hal itu tentu saja mustahil bagi Allah.
5. Qiyamuhu Binafsihi : artinya Allah SWT itu berdiri sendiri. Berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang tentu membutuhkan sesuatu yang lain di luar dirinya, yaitu Allah SWT. Sedangkan Allah SWT tidak butuh terhadap sesuatu apapun. Dia tidak membutuhkan tempat dan dzat yang menciptakan-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah SWT benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. al Ankabut : 6).
Kebalikan dari sifat ini adalah ihtiyajuhu ila ghairihi (butuh terhadap sesuatu lain di luar diri-Nya). Dalilnya: Apabila Ia butuh terhadap sesuatu lain selain diri-Nya, maka tentu Ia tergolong hal yang baru, hal mana itu mustahil bagi Allah SWT.
6. Wahdaniyat : artinya Esa (satu). Allah SWT adalah dzat yang esa dalam sifat, perbuatan serta dzat-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ.

“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah SWT, yang tidak ada Tuhan selain Dia.” Qs. Thaha:98

Satu dalam dzat berarti dzat Allah SWT adalah satu. Dia tidak tersusun dari beberapa unsur sebagaimana yang terdapat pada makhluk.
Satu dalam sifat, artinya Ia tidak terdiri dari dua sifat yang sama.
Satu dalam perbuatan berarti hanya Dialah yang memiliki perbuatan.
Dan ketiga hal tersebut tidak akan sama dengan apa yang ada pada makhluk ciptaan-Nya.
Kebalikannya adalah ta’addud (berbilangan). Dalilnya sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah SWT, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha suci Allah SWT yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” Qs. Al-Anbiya’: 22.
7. Qudrat : artinya kuasa. Allah SWT memiliki kekuasaan tanpa batas. Sebagaimana ayat 6 surat al-Hasyr:

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Sesungguhnya Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Qs. An-Nuur: 45
Dalilnya: Apabila Allah SWT tidak kuasa, maka tentu Ia tidak akan mampu menciptakan alam jagat raya ini. Dengan demikian, tentu sebuah kemustahilan apabila Ia tidak kuasa, karena faktanya alam ini tercipta dengan sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun semuanya terjadi secara seimbang. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang (cacat). Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?.” Kebalikan dari sifat ini adalah ‘ajz (lemah).
8. Iradah : artinya berkehendak. Allah SWT adalah dzat yang Maha Menentukan Segala Hal yang Mungkin, apakah mewujudkan maupun meniadakan, membuat kaya seseorang maupun membuat miskin dan lain sebagainya. Sifat ini berbeda dengan ‘perintah’ dan ‘ridha’. Terkadang Dia berkehendak, memerintah dan juga meridhai sesuatu, seperti iman sahabat Abu Bakar Ra. Kadang Ia Tidak berkehendak, tidak memerintah serta tidak meridhai, seperti kekafiran sahabat Abu Bakar. Dan terkadang Ia berkehendak tapi tidak memerintah serta tidak meridhai, seperti kekufuran fir’aun. Dan kadang Ia memerintah tapi tidak menghendaki, seperti keimanan fir’aun.
Akan tetapi wajib bagi kaum ahlus sunnah mengedepankan adab (tata krama) dengan tidak menyandarkan hal-hal yang buruk terhadap Allah SWT kecuali di majlis-majlis ta’lim, karena dibalik semua itu terdapat hikmah yang hanya Dia yang Maha Mengetahui. Begitulah menurut pendapat Ahlus Sunnah. Kebalikan dari sifat ini adalah karahah (terpaksa). Dalilnya: Apabila Allah SWT di bawah paksaan, maka tentu Ia dzat yang lemah yang berarti sama dengan makhluk-Nya. Hal itu tentu mustahil. Allah SWT berfirman:

قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Katakanlah : “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. sebenarnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” QS. Al Fath: 11
9. Ilmu : artinya Ia adalah dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang samar.

إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى

“Sesungguhnya Ia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” Qs. Al-‘Ala: 7

Kebalikannya adalah jahl (bodoh). Dalilnya; Apabila Allah SWT bodoh, maka tentu Ia tidak dapat berkehendak untuk menentukan sesuatu. Jika Ia tidak punya kehendak, maka tidak mungkin ada alam jagat raya ini. Dan ini mustahil karena nyatanya dunia ini ada.
10. Hayat : artinya hidup. Allah adalah dzat yang Maha Hidup dengan kehidupan abadi yang tak mengenal mati. Kebalikannya adalah maut (mati). Dalilnya; Jika Ia mati, maka tak akan wujud alam ini. Akan tetapi alam ini terbukti ada. Dengan demikian mustahil Allah SWT itu mati. Allah SWT berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” QS. Al Furqan: 58
11. Sama’ : artinya Allah SWT itu Maha Mendengar segala sesuatu tanpa dibatasi ruang dan waktu, dan tidak juga terbatas pada suara, namun sifat ini dapat juga menembus benda dan warna, seperti sifat bashar (melihat). Akan tetapi apa yang dihasilkan dari sifat sama’ bukanlah sesuatu yang dihasilkan oleh sifat bashar. Kebalikan dari sifat ini adalah shamam (Tuli). Dalilnya: Jika Allah SWT tuli, maka tidak mungkin Ia dapat mengatur alam ini dengan sempurna. Akan tetapi nyatanya alam berjalan dengan sangat sempurna. Allah SWT berfirman:

إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Ad-Dukhan: 6
12. Bashar : artinya Maha Melihat segala sesuatu yang nampak maupun yang tidak nampak. Sama halnya dengan sifat Sama’, penglihatan Allah SWT tidak terbatas pada benda dan warna saja, akan tetapi sifat ini dapat juga melihat suara, dengan cara-cara yang hanya Ia yang mengatahui hal itu. Kebalikannya adalah ‘ama (buta). Allah SWT tidak mungkin buta, karena jika Ia buta, tentu Ia tidak mungkin dapat mengatur alam ini dengan baik. Akan tetapi buktinya alam ini berjalan dengan baik. Ia berfirman:

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” QS. As Syuuraa: 11
13. Kalam : artinya Allah SWT itu berfirman. Namun firman Allah SWT tidak berbentuk suara dan tidak terbentuk dari susunan kata-kata. Kebalikannya adalah bakam (bisu). Dan hal ini tentu sebagaimana yang lain, adalah sesuatu yang mustahil. Allah SWT berfirman:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung” QS. An Nisa’: 164.

Semua sifat-sifat di atas adalah sifat Allah SWT yang tidak akan pernah ada yang dapat menyamainya. Sempurna dan tidak terdapat kekurangan sedikitpun.
14. Qadiran : artinya Allah yang Maha Kuasa. Kebalikannya adalah ajizan (yang lemah)
15. Muridan : artinya Allah yang Maha Berkehendak. Kebalikannya karihan (yang terpaksa)
16. Aliman : artinya Allah yang Maha Mengetahui. Kebalikannya jahilan (yang bodoh)
17. Hayyan : artinya Allah yang Maha Hidup. Kebalikannya mayyitan (yang mati)
18. Sami’an : artinya Allah yang Maha Mendengar. Kebalikannya asham (yang tuli)
19. Bashiran : artinya Allah yang Maha Melihat. Kebalikannya a’ma (yang buta)
20. Mutakalliman : artinya Allah yang Maha Berbicara. Kebalikannya abkam (yang tuli)

Kedua puluh sifat-sifat Allah SWT di atas dibagi menjadi empat:

1. Sifat Nafsiyyah : adalah sifat Allah SWT untuk menegaskan adanya Dia, di mana Ia itu menjadi tidak ada tanpa adanya sifat tersebut. Yang tergolong sifat ini hanya satu, yaitu sifat wujud.
2. Sifat salbiyyah : yaitu sifat yang digunakan untuk meniadakan sesuatu yang tidak pantas bagi Allah SWT. Sifat Salbiyah ini ada lima, yaitu sifat qidam, baqa’, mukhalafatuhu lil hawadits, qiyamuhu binafsi, dan wahdaniyat.
3. Sifat ma’ani : adalah sifat yang pasti ada pada Dzat Allah SWT. Terdiri dari tujuh sifat, yaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar, kalam.
4. Sifat ma’nawiyyah : adalah sifat yang merupakan kelaziman dari sifat ma’ani,yaitu qadiran, muridan, aliman, hayyan, sami’an, bashiran, mutakalliman.

Berapa Sifat Jaiz yang Dimiliki Allah SWT?

Sifat jaiz Allah SWT hanya satu yaitu mengerjakan atau meninggalkan sesuatu yang tergolong mungkin. Dengan kata lain Allah SWT punya hak penuh untuk melakukan atau meninggalkan suatu yang tergolong mungkin tersebut.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya Perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, Maka jadilah ia.” QS. An Nahl: 40

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *