Yang Lalai Yang Perlu Ditegur

Karena Puas Dengan Takdir Dan Tenggelam Dalam Dzikir
Sep 27, 2020
Hari Raya Para Murid
Oct 4, 2020

إِنَّمَا يُذَكَّرُ مَنْ يَجُوْزُ عَلَيْهِ الْإِغْفَالُ, وَاِنَّمَا يُنَبَّهُ مَنْ يَجُوْزُ عَلَيْهِ الْإِهْمَالُ

Sesungguhnya yang harus diingatkan hanya orang yang mungkin lupa, dan yang harus ditegur hanya orang yang mungkin lalai.

 

SEMUA hajat kebutuhan manusia sudah ditentukan Allah semenjak azal. Allah Rabbul Alamin dengan kebijaksanaan, kekuasaan dan kesempurnaan-Nya mengurus dan merawat seluruh makhluk-Nya dengan sebaik-baiknya. Jangan dikira bahwa Allah lupa dengan kebutuhan manusia, sehingga kalau tidak diingatkan atau ditegur dengan diminta (berdoa) maka Allah tidak memenuhi kebutuhan manusia.

Yang perlu diingatkan adalah yang mungkin lupa. Yang perlu ditegur adalah orang yang mungkin teledor. Dan Mustahil bagi Allah lupa dan teledor. Allah berfirman:

وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

“Allah tidak lupa dengan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 74)

اَلَيْسَ اللهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah itu mencukupi hamba-Nya.” (QS. Az-Zumar : 36)

Kepercayaan bahwa kalau Allah tidak diminta dengan doa maka tidak memberi atau mencukupi segala kebutuhan hamba-Nya adalah tidak benar dan merupakan sebuah dosa.

Anggapan seperti itu juga bentuk ketidaksopanan terhadap Allah. Dimisalkan, ada seorang anak kecil yang menganggap bahwa ayahnya tidak akan memberi kebutuhan hidupnya kalau tidak diminta olehnya. Tentu anggapan anak ini keliru dan merupakan ketidaksopanan kepada ayahnya, sebab ia menganggap ayahnya adalah ayah yang jahat. Padahal sang ayah selalu memperhatikan segala kebutuhan anaknya, walau tanpa diminta oleh anaknya.

Maka seseorang yang memiliki keyakinan sempurna akan merasa cukup dengan ilmu Allah dan ridho dengan apa yang ditentukan oleh Allah. Ia pasrah diri kepada-Nya. Maka tidak perlu lagi baginya berdoa kepada-Nya seperti Nabi Ibrahim ketika dilempar ke api.

Imam Al-Wasithi pernah diminta untuk berdoa. Al-Wasithi menjawab, “Aku khawatir kalau berdoa nanti aku ditanya oleh Allah, “Kalau engkau meminta kepadaku hak milikmu yang ada pada Kami, maka engkau telah menuduh Kami. Apabila engkau meminta apa yang bukan hakmu maka engkau telah menyalahgunakan kewajiban memuji kepada Kami. Tetapi kalau engkau ridho, maka Kami jalankan kepadamu sesuatu yang sudah Kami tentukan sepanjang masa.’”

Abdullah bin Manazil berkata: “Selama lima puluh tahun aku tidak pernah berdoa kepada Allah, dan aku tidak ingin didoakan orang lain. Sebab semuanya berjalan sesuai apa yang telah ditentukan oleh Allah sejak dahulu.”

Semua penjelasan di atas bukan berarti menyuruh kita untuk meninggalkan berdoa. Akan tetapi, menyatakan bahwa semua pemberian Allah itu telah ditentukan oleh Allah sejak azal, bukan disebabkan oleh doa. Walau begitu, tetap dianjurkan berdoa dalam rangka menampakkan kebutuhan kita kepada Allah dan berubudiah kepada-Nya, bukan semata untuk mencapai hajat kita. Dan biasanya, doa itu merupakan tanda bahwa orang tersebut akan diberi oleh Allah. Sebab, orang yang diilhami doa oleh Allah tidak akan dihalangi dari terkabulnya doa tersebut.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *