Wali Selalu Membutuhkan Allah

Bila Lidah Berdoa Pasti Akan Diberi
Dec 10, 2019
Cahaya Hati Tidak Akan Pernah Padam
Dec 26, 2019

الْعَارِفُ لَا يَزُوْلُ اضْطِرَارُهُ وَلَا يَكُوْنُ مَعَ غَيْرِ اللهِ قَرَارُهُ

Orang Arif (WaIi) itu tidak kunjung hilang kebutuhannya kepada Allah, dan tidak pernah merasa tenang dengan selain Allah.

 

SIFAT orang Arif ialah selalu merasa butuh dan berhajat kepada Allah dan bersandar kepada-Nya, karena mereka merasa bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu (Innahu ‘Ala Kalli Syain Qodir) dan menyadari bahwa dirinya lemah tak memiliki manfaat dan mudharrat bagi dirinya (La Yamliku linafsihi Dhorron wa la naf’an). menurut kadar pengetahuan mereka pada dirinya, begitu pula makrifat mereka kepada Allah.

Dalam hadits disebutkan:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ

“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya. ”

Maka orang Arif yang mengenal Allah itu tidak bisa terlepas dari kebutuhannya kepada Allah.

Syaikh Abul Abbas Al-Mursi mengomentari firman Allah:

أَمَّنْ يُـجِيْبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ

“Atau siapakah yang akan mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya.” (QS. An-Naml: 62)

Al-Mursi berkata: “Seorang wali itu selalu Al-Mudhthor (butuh kepada Allah).”

Menurut dasar ayat diatas, doa orang yang terpaksa dan membutuhkan kepada Allah itu mustajab. Oleh karena itu doa para wali itu mustajab sebab mereka selalu dalam keadaan mudhthor (sangat membutuhkan pertolongan Allah).

Tajuddin Ibnu Athaillah mengatakan: “Arti dari perkataan Syeikh Abul Abbas Al-Mursi adalah, bahwa kebutuhan orang awam itu dengan pengaruh sebab. Bila sebab itu hilang maka kebutuhannya juga hilang. Sebab yang dilihat orang awam itu terbatas pada hissi (benda) saja. Kalau mereka mengetahui bahwa kekuasaan Allah itu meliputi segala sesuatu maka mereka tahu bahwa kebutuhan mereka kepada Allah itu untuk selamanya.’

Begitulah, orang awam merasa butuh kepada Allah bila ada suatu sebab. Misalnya, bila ada sesuatu benda atau hajat yang ia inginkan maka ia akan berdoa dan merasa membutuhkan Allah. Tetapi bila sebab itu hilang maka kebutuhannya kepada Allah juga ikut lenyap. Jika apa yang ia maksud sudah tercapai maka ia tidak berdoa lagi, tidak membaca wirid atau shalawat nariyah, misalnya, sebagaimana yang biasa ia lakukan sebelum hajatnya itu terkabul.

صَلَّى وَصَامَ لِأَمْرٍ كَانَ يَطْلُبُهُ   لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ لَا صَلَّى وَلَا صَامَ

Ia shalat dan berpuasa karena ada perkara yang ia inginkan

Setelah hajatnya terkabul, ia tidak shalat dan berpuasa lagi.

Namun orang Arif selalu merasa butuh kepada Allah dalam waktu dan keadaan apapun. Sebagian dari mereka berkata: “Seandainya pada setiap saat engkau meminum seribu lautan maka engkau melihat itu hanyalah sedikit dan engkau melihat kedua bibirmu kering.”

Perkataan itu sebagai kinayah bahwa kebutuhan mereka (para Arif) kepada Allah tidak ada batas akhirnya. Walau telah meneguk seribu lautan mereka tidak merasa puas dan masih banyak kebutuhannya kepada Allah. Bahkan tidak pernah berhenti membutuhkan Allah. Mereka selalu membutuhkan tambahan sebagaimana yang difirmankan Allah kepada Sayyidil Arifin Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Dan katakan: Wahai Tuhanku tambahilah aku ilmu.” (QS. Thoha: 114)

Allah mengajarkan kepada Nabi untuk selalu meminta tambahan ilmu kepada Allah. Nabi yang paling banyak mendapatkan kenikmatan dari Allah dan paling banyak pahalanya masih selalu merasa membutuhkan kepada Allah dan meminta tambahan ilmu kepada-Nya.

Kebutuhan kepada Allah untuk diberi tambahan ilmu tidak pernah terlepas walaupun semua ilmu di langit dan di bumi telah dikuasai. Allah berfirman kepada semua makhluk:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Kalian tidak diberi ilmu kecuali sedikit.” (QS. Al-Isra’ : 85)

Begitu pula para wali selalu membutuhkan Allah untuk mendapatkan tambahan dan merasa kurang terhadap pemberian Allah dari ilmu dan keyakinan dan makrifat untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi, sebab tingkatan para wali itu tidak ada batasnya.

Sedangkan mengenai alasan kenapa mereka, para wali, tidak merasa tenang dan tidak bersandar para selain Allah sebab hati mereka sudah pergi dari alam ini menuju Allah. Mereka tidak membutuhkan lagi kepada selain Allah. Yang membikin mereka tenang dan senang hanyalah melihat Dzat Allah Yang Maha Suci. Mudah-mudahan kita mendapat berkah mereka.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *