Wali-pun Seorang Manusia

Jadikan Alam Bersamamu
Aug 13, 2021
Cahaya Hati Diketahui Nilainya Di Alam Malakut
Sep 9, 2021

لَا يَلْزَمُ مِنْ ثُبُوْتِ الْخُصُوْصِيَّةِ عَدَمُ وَصْفِ الْبَشَرِيَّةِ اِنَّمَا مَثَلُ الْخُصُوْصِيَّةِ كَإِشْرَاقِ شَمْسِ النَّهَارِ ظَهَرَتْ فِى الْأُفُقِ وَلَيْسَتْ مِنْهُ تَارَةً تُشْرِقُ شُمُوْسُ اَوْصَافِهِ عَلَى لَيْلِ وُجُوْدِكَ وَتَارَةً يَقْبِضُ ذلِكَ عَنْكَ فَيَرُدَّكَ اِلَى حُدُوْدِكَ فَالنَّهَارُ لَيْسَ مِنْكَ اِلَيْكَ وَلكِنَّهُ وَارِدٌ عَلَيْكَ

Tidak harus dari adanya Khususiah (keistimewaan) hilangnya basyariah (sifat kemanusiaan). Perumpamaan khususiah itu seperti terangnya matahari siang yang tampak pada alam benda. Terangnya itu bukan berasal dari benda-benda tersebut. Terkadang cahaya sifat Allah menerangi kegelapan wujudmu, terkadang pula dicabut darimu sehingga engkau dikembalikan kepada asal kejadianmu. Terangnya siang itu bukan darimu kepadamu, tetapi dia datang kepadamu.

 

ORANG-orang ahli khususiah (para Arifin), walau mereka dapat keistimewaan dari Allah tidak bisa lepas dari basyariah (sifat kemanusiaan). Artinya, mereka seperti manusia yang lain tetap membutuhkan apa yang dibutuhkan oleh badannya seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal atau syahwat yang mubah seperti kawin. Sifat-sifat basyariah ini tidak menghilangkan khususiah (keistimewaan) mereka.

Mereka sama dengan para Nabi. Hanya saja kalau para Nabi mendapatkan khususiah berupa Nubuwwah (kenabian) dan mukjizat, sedangkan para Arifin mendapatkan wilayah (kewalian) dan karomah.

Allah Ta’ala berfirman mengenai para Nabi :

وَمَا اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّا اَنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِ

“Dan Kami tidak mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka makan makanan dan berjalan di pasar. ” (QS. Al-Furqon : 20)

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelummu dan Kami jadikan untuk mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’ad : 38)

Namun mereka berbeda dengan orang awam dalam melakukan syahwat basyariahnya. Orang-orang ahli khususiah (para Arifin) melakukan syahwatnya untuk Allah. Mereka memenuhi syahwatnya dengan tujuan ibadah. Akhirnya syahwat itu berubah menjadi ibadah.

Contohnya, mereka kawin seperti manusia lainnya. Cuma bedanya, mereka kawin bukan untuk melampiaskan nafsu. Mereka kawin bertujuan ibadah, seperti agar punya keturunan yang mendoakannya setelah mati, memperbanyak umat Nabi Muhammad dan untuk membanggakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Para wali juga lapar seperti manusia lainnya. Mereka juga makan seperti yang lain. Tetapi mereka makan dengan niatan littaqowwi ala ibadah (agar bisa kuat beribadah), mereka makan enak untuk mengikuti perintah Allah yang menyuruh untuk makan makanan yang baik dan bergizi. Mereka punya niat-niat baik yang banyak dalam melakukan syahwatnya. Satu kali suapan mengandung banyak ibadah, bisa mencapai tujuh puluh ibadah. Niatnya cepat berupa lintasan di hati. Meminum kopi juga dengan niat-niat mulia yang banyak.

Imam Ghazali menyatakan bahwa orang yang mau menjadi wali sangat membutuhkan kesehatan karena perjalanan menuju Allah itu sangat panjang. Kalau seseorang sakit, maka ia tidak bisa beribadah banyak. Oleh karena itu, apa yang dibutuhkan badan harus dipenuhi dengan tujuan-tujuan yang mulia tersebut.

Para wali tidak bisa lepas dari sifat basyariahnya, sebab itu adalah sifat aslinya. Sedangkan keistimewaan yang ada pada mereka bukan sifat asli mereka, maka tidak bisa langgeng dan tampak terus-menerus. Seperti mukjizat yang ada pada Nabi yang tidak selalu muncul, begitu pula kekeramatan atau kesaktian para wali tidak terus menerus ditampakkan. Kalau ada hajat dan kepentingan atau dharurat barulah keistimewaan itu muncul.

Nur cahaya yang ada pada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak selalu kelihatan pada diri beliau. Terkadang muncul seperti ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha mencari jarum di waktu malam lalu disoroti dengan cahaya wajah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Nur khususiah yang ada pada para wali itu dimisalkan seperti sinar matahari di waktu siang yang menyinari alam benda ini. Sinar matahari itu menghilangkan kegelapan pada benda-benda tersebut. Sehingga benda yang asalnya gelap itu menjadi terang. Tetapi apabila matahari terbenam, maka gelaplah kembali benda-benda itu. Karena cahaya yang ada pada benda itu bukan sifat aslinya. Sifat aslinya adalah gelap. Ia menjadi terang karena disinari oleh cahaya matahari.

Seorang wali asalnya gelap. Setelah cahaya sifat Allah menjelma pada dirinya, maka dirinya menjadi terang. Maka tampaklah pada badan wali itu sifat-sifat Allah. Tampaklah keistimewaan-keistimewaannya. Keluarlah khawariq adat (hal-hal yang luar biasa), kesaktian, mukasyafah dan lainnya. Kalau nur itu terbenam si wali kembali ke sifat aslinya. Ia menjadi bodoh dan tidak sakti lagi. Jika cahaya itu dicabut, maka ia kembali ke batasnya sebagai manusia yang bodoh, miskin, lemah.

Kalau kamu sudah mengerti bahwa khususiah tidak menghilangkan basyariah, sebab tempatnya khususiah itu bathin sedangkan basyariah itu dhahir, maka oleh karena itu wali itu tersembunyi dengan menampakkan sifat basyariah. Dengan tampaknya basyariah, maka tertutup keistimewaannya. Sulit menemukan seorang wali. Sifat basyariahnya lebih menonjol di masyarakat daripada keistimewaannya. Hanya orang yang dikehendaki oleh Allah bahagia yang dikenalkan kepada wali. Maka tampaklah kepadanya kekeramatan wali itu. Dikenalkan kepada seorang wali adalah suatu tanda kebahagiaan. Seseorang yang oleh Allah dikenalkan dengan kekasih-Nya berarti dia akan menjadi wali juga.

Karena yang menonjol basyariahnya, maka terjadi pengingkaran kepada para wali. Hal itu juga terjadi kepada para Nabi. Orang kafir mengingkari Nabi, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam menampakkan basyariahnya. Mereka menyatakan :

وَقَالُوْا مَا لِهذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِى فِى الْاَسْوَاقِ

“Mereka berkata, “Mengapa Rasul ini makan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al-Furqan : 7)

Orang yang tidak mengerti khususiah seorang wali akan mengingkari kewaliaannya. Orang itu berkata, “Mana mungkin wali hutang, miskin, baju compang-camping,” misalnya.

Oleh karena itu kita harus husnuddhon kepada setiap orang. Apabila seorang murid melihat kepada seorang guru, lihatlah dengan mata hati khususiah sang guru. Kalau dilihat dengan mata kepala, maka bisa salah menilai orang. Dia seorang manusia kadang punya kesalahan. Seorang murid harus melihat gurunya dengan mata kesempurnaan.

Sayyid Muhammad Al-Maliki juga pernah tidak punya uang. Lima hari atau satu minggu pinjam kepada anak-anak murid. Tapi kalau sudah datang khususiahnya, uang sekoper ditolak.

Jangan seperti Abu Jahal yang melihat basyariah Nabi. Dia melihat Nabi sebagai penggembala kambing di kota Mekkah. Lalu dia rugi bersama orang-orang yang rugi selama-lamanya di api neraka. Jadilah seperti Abu Bakar yang melihat khususiah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ia melihat Nabi dengan mata kesempurnaan, maka ia disempurnakan kedudukannya oleh Allah. Maka dia beruntung menjadi manusia yang paling bertakwa setelah Rasulullah.

Sifat basyariah memang tidak bisa menghilangkan keistimewaan seseorang. Adapun sifat-sifat tercela seperti hasud, riya’, sombong, ‘ ujub, maka harus dibersihkan dari khususiah Nabi dan wali. Sifat-sifat itu menghalangi dari khususiah.

Bagi Nabi, itu adalah harus karena Nabi itu maksum. Bagi wali tidak, tapi mereka mahfud (dijaga oleh Allah). Dari seorang wali bisa timbul kesalahan itu tapi tidak lama, hanya sebentar terus hilang. Seperti angin yang berhembus sejenak. Tetapi kesalahan mereka tidak bermudharrat. Karena kapan mereka melakukan kesalahan maka langsung ingat dan kembali kepada Allah. Kewalian dan ketakwaannya tidak dicabut. Malah setelah melakukan kesalahan itu ia semakin bersemangat menuju Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *