Walau tidak Keramat, Jangan Dihina

Kebodohan Murid: Salah Masih Merasa Benar
Mar 22, 2019
Berkhidmah atau Dicintai
Mar 30, 2019

 إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُوْدِ الْأَوْرَادِ, وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُوْلِ الْإِمْدَادِ, فَلَا تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلَاهُ لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيْمَا الْعَارِفِيْنَ وَلَا بَهْجَةَ الْمُحِبِّيْنَ, فَلَوْلَا وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ

Bila engkau melihat hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam mengamalkan wiridnya dan lama ia melakukannya tetapi belum mendapat keistimewaan, maka janganlah engkau menghina pemberian Allah kepadanya karena engkau tidak melihat adanya tanda-tanda orang arif dan engkau tidak melihat keindahan orang yang cinta. Sekiranya tidak ada keistimewaan, maka tidak mungkin ada wirid.

SEBAGAIMANA dalam kata hikmah sebelumnya, Ibnu Athaillah menyebut adab kepada Allah, Rasul dan guru serta manusia, maka dalam kata hikmah ini Ibnu Athaillah menyebutkan adab yang sangat penting. Yaitu, dalam keadaaan apapun tidak boleh meremehkan suatu pemberian dari Allah. Jangan menentang Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allah Maha Bijaksana.

Apabila engkau melihat seseorang yang istiqamah dalam mengamalkan wiridnya maka janganlah sekali-kali engkau meremehkannya lantaran belum timbul keistimewaan dari orang tersebut. Tanda-tanda orang yang cinta kepada Allah atau tanda kewalian tidak tampak pada orang itu, semisal rona mukanya tidak memancarkan cahaya kehebatan, karamah belum timbul darinya, ia tidak mukasyafah atau yang lainnya. Adalah termasuk kesopan tidak meremehkan orang itu. Sebab istiqamah yang ia lakukan merupakan keistimewaan dari Allah. Andaikan tidak ada keistimewaan niscaya ia tidak bisa istiqamah mengerjakan wiridnya. Istiqamah itu lebih baik dari seribu kekeramatan.

Wirid adalah sesuatu amalan yang dilakukan secara rutin untuk Allah, seperti banyak melakukan shalat sunnah, berpuasa Senin Kamis, banyak berdzikir, membaca Al-Qur’an, mencari ilmu dan lainnya. Warid adalah karunia dan keistimewaan yang datang dalam hati dari Allah.

Jelasnya, jangan menghina seorang muslim yang taat beribadah kepada Allah. Sebab orang muslim yang taat beribadah kepada Allah tersebut mempunyai kelebihan dan keistimewaan yang berupa rutin melakukan ibadah tersebut. Itu merupakan tanda bahwa orang tersebut mendapat inayah, hidayah dan taufiq dari Allah. Ia mempunyai derajat di sisi Allah. Sebab adanya wirid membuktikan adanya warid.

Allah Ta’ala berhrman dalam Al’Qur’an:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

“Kalau saja tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorang pun dari kamu yang bersih.” (QS. An-Nur: 21)

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa seseorang yang bersih dan taat beribadah itu sebab ada keistimewaan dari Allah yang berupa Fadhl (karunia) dan rahmat-Nya.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا (83)

“Andai saja tidak ada karunia Allah kepada kalian maka kalian mengikuti syaitan, kecuali sedikit.” (QS. An-Nisa’: 83)

Ayat diatas menyatakan bahwa hanya berkat karunia dan rahmat Allah kita bisa melakukan amal ketaatan, tidak mengikuti syaitan. Kalau tidak ada keistimewaan di hati yang mendorong kita untuk melakukan kebaikan maka kita menjadi pengikut syaitan yang melakukan kemungkaran.

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Maidah: 54)

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Allah memberi taubat kepada mereka agar mereka bertaubat.” (QS. At-Taubah: 118)

Ayat-ayat diatas membuktikan bahwa semuanya itu bermula dari Allah. Sebab Allah mencintai mereka, maka mereka menjadi cinta kepada Allah. Dan karena Allah memberi taubat, maka mereka kemudian bertaubat kepada Allah.

Bukan saja orang yang taat beribadah saja yang tidak boleh diremehkan, orang mukmin yang ahli maksiat pun tidak boleh dihina. Sebab orang yang beriman itu, walaupun bermaksiat, mempunyai cahaya keimanan di hatinya. Menurut Imam As-Syadzili, cahaya iman orang mukmin walaupun ahli maksiat bisa memenuhi langit dan bumi. Cahaya iman itu yang membawanya masuk surga. Bila mukmin ‘ashi (orang beriman yang ahli maksiat) tidak boleh dihina, apalagi mukmin thoi’ (orang beriman yang taat).

Ada dua golongan hamba Allah yang istimewa. Al-Muqorrobun dan Al-Abrar. Kedua-duanya sama-sama mendapat keistimewaan dari Allah, walaupun kadar dan nilainya tidak sama. Derajatnya berbeda tetapi mereka sama-sama istimewa. Mereka itu adalah pilihan Allah dan tidak boleh dihina.

Al-Muqorrobun sudah lepas dari segala kepentingan dunia. Hanya menyembah kepada Allah. Mereka memandang dunia ini kosong dan yang ada hanya Allah. Di hatinya hanya ada kecintaan kepada Allah. Mereka disebut Al-Muqorrobun (orang yang dekat kepada Allah) atau Al-Arifun (orang yang bermakrifat kepada Allah) atau Al-Muhibbun (orang yang mencintai Allah).

Al-Abrar (orang baik-baik) masih memiliki banyak kepentingan di dunia ini. Tetapi mereka taat dan istiqamah melakukan ibadah. Cinta mereka kepada Allah masih terbagi dan tercampur dengan yang lain, seperti istri, anak dan harta benda.

Tentu Al-Muqarrabun lebih utama dan lebih tinggi derajatnya dari Al-Abrar. Al-Muqarrabun lebih banyak mendapat inayah dan perhatian dari Allah. Perhatian mereka kepada Allah juga lebih banyak daripada Al-Abrar. Tetapi bukan berarti Al-Abrar tidak istimewa. Mereka tetap istimewa dengan karunia dari Allah. Al-Abrar sudah mendapat kunci untuk naik ke derajat yang di atasnya.

Oleh karena itu bila kita masih ada dalam golongan Al-Abrar, maka bersyukurlah dan mintalah kepada Allah agar ditingkatkan kepada tingkatan Al-Muqarrabun.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *