Uzlah Disertai Tafakkur Adalah Obat Hati Paling Manjur

Tanamlah Dirimu di Tanah Kehinaan
Sep 2, 2018
Tidaklah Bercahaya Hati yang Bergambar Dunia
Sep 4, 2018

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْئٌ مِثلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat untuk hati seperti uzlah (menyendiri) untuk masuk ke medan tafakkur.

DENGAN kesepakatan ulama, mengobati penyakit hati wajib bagi seorang murid. Penyakit hati tiada lain timbul dari teman pergaulan yang tidak baik dan menuruti hawa nafsu. Cara pengobatannya banyak sekali. Yang paling manjur adalah uzlah (menyendiri dari pergaulan) dengan disertai tafakkur.

Arti uzlah adalah tidak bergaul dengan manusia kecuali dengan sekadar kebutuhannya. Uzlah berbeda dengan khalwah yang berarti tidak melihat dan dilihat manusia, atau pergaulan yang berarti berkumpul dengan segala manusia yang baik atau pun yang jahat. Uzlah bukan berarti tidak keluar sama sekali. Boleh keluar untuk menunaikan sesuatu yang wajib atau bermanfaat seperti pergi berobat ke dokter, mengajar, belajar, menghadiri undangan, dan menemui tamu. Orang yang seperti itu tetap disebut muktazil (orang yang uzlah). Uzlah itu dengan menghindar dari maksiat dan membersihkan hati.

Uzlah itu seperti himyah (menjaga diri dari pantangan), sedangkan tafakkur bagaikan obat. Orang yang berobat tetapi larangannya dilanggar, maka tidak berguna pengobatannya. Begitu juga sebaliknya. Kedua-keduanya harus dijalankan. Ber-himyah juga berobat. Dengan beruzlah yang disertai tafakkur orang itu akan sembuh dari segala penyakit hati.

Hasan Al-Basri berkata: “Bertafakkur adalah cermin yang memperlihatkan kepadamu keburukan dari kebaikanmu.” Dengan memikirkan keajaiban makhluk Allah ini, maka seseorang bisa mengerti keagungan Allah. Ia akan menemukan nikmat-nikmat Allah yang kecil atau pun yang besar. Dengan begitu, penyakit hatinya bisa hilang dan ia akan beristiqamah taat kepada Allah.

Tujuan uzlah adalah membersihkan hati dari segala kesibukan dan kotoran yang timbul dari berkumpul dengan manusia. Hati seseorang bisa tercemar disebabkan pergaulan di luar. Seorang yang keluar rumah dengan hati bahagia bisa-bisa pulang dengan hati susah. Pergi dengan lapang dada, kembali dengan dada yang sempit. Kalau tidak menabrak maksiat ia akan ditabrak oleh maksiat itu. Maka dengan beruzlah hati seseorang akan tentram dan tidak terjangkit penyakit hati yang ditimbulkan oleh pergaulan.

Pada zaman sekarang ini uzlah hukumnya wajib. Sebab, jarang orang selamat dari api pergaulan di luar seperti Nabi Ibrahim. Kalau hati seseorang seperti Nabi Ibrahim, bergaul dengan manusia tetapi hatinya tetap bersama Allah, maka tidak apa-apa ia bergaul dengan mereka. Kalau tidak punya keimanan seperti Nabi Ibrahim, maka lebih baik ‘bersembunyi di gua’ seperti Ashabul Kahfi.

Dengan uzlah maka penyakit hati seseorang yang disebabkan pergaulan akan sembuh. Ia akan lepas dari maksiat-maksiat yang timbul dari pergaulan seperti ghibah (menggunjing), mudahanah (plin-plan), riya’, berpura-pura.

Dengan uzlah tabiat seseorang akan selamat dan tidak sampai tercuri. Sebab, tabiat bisa mencuri tabiat lain. Kebanyakan rusaknya seseorang itu dengan sebab teman. Orang yang bergaul dengan orang jahat akan menjadi jahat pula. Itu semua disebabkan karena seseorang yang sering berteman dengan orang lain maka hatinya akan condong dan cinta kepada temannya itu. Kalau sudah cinta, maka ia akan meniru perbuatan teman yang dicintai tersebut.

Kalau ia berteman dengan orang shaleh maka ia akan meniru kesalehannya dan akhirnya ia akan jadi orang saleh. Kalau berteman dengan orang jahat, maka ia akan mengikuti kejahatannya dan akan menjadi jahat. Ia akan dikumpulkan dengan temannya itu di dunia dan akhirat. Nabi sudah menyatakan bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya, baik di dunia atau akhirat.

Di dalam hadits disebutkan, “Perumpamaan berteman duduk dengan orang jahat seperti duduk dengan tukang pandai besi. Kalau tidak terbakar dengan bunga apinya, maka engkau terkena bau busuknya.”

Bukti lain bahwa kejahatan dan kesialan seseorang itu bisa menular adalah sebuah hadits Nabi yang menyuruh kita untuk cepat-cepat dalam membawa jenazah.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا، وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ، فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Cepat-cepatlah membawa jenazah. Kalau ia orang baik, maka kalian mempercepat kebaikannya. Apabila ia jahat, maka ia adalah kejelekan yang kalian turunkan dari pundak-pundak kalian.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kalau dalam keadaan meninggal saja bisa menularkan kejahatannya, apalagi ketika di saat ia masih hidup. Tentu penularannya di saat ia hidup lebih cepat.

Diriwayatkan dari Nabi Isa bahwa ia berkata, “Janganlah berteman dengan orang mati, maka hatimu akan mati.”

Nabi Isa ditanya, “Siapa orang yang mati itu?”

“Orang-orang yang rakus dengan dunia,” jawab Nabi Isa.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku paling khawatir terhadap umatku adalah lemahnya keyakinan.” Sedangkan lemahnya keyakinan itu sebab melihat orang-orang yang lalai dan berteman dengan orang pengangguran dan berhati keras.

Nabi shallallahu alaihi wasallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar pandai-pandai memilih teman pergaulan. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Seseorang mengikuti kebiasaan temannya. Maka seseorang harus memperhatikan siapa yang ia temani. (HR. Ahmad, Abu Dawud)

Habib Abdullah Al-Haddad juga memperingatkan:

وَاصْحَبْ ذَوِى المَعْرُوفِ وَالْعِلْمِ وَالْهدَى ™ وَجَانِبْ وَلاَتَصْحَبْ هُدِيتَ مَنِ افْتَتَنْ

Bertemanlah orang yang baik, berilmu dan dapat petunjuk

Jauhilah dan jangan berteman dengan orang yang kena fitnah, niscaya engkau dapat hidayah

Ibnu Athaillah dalam kata hikmahnya menyatakan :

لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ

“Jangan berteman dengan seseorang yang keadaannya tidak membangkitkanmu dan perkataannya tidak menunjukkan dirimu kepada Allah ”

Kita disuruh berteman dengan orang baik. Kalau kita melihat wajahnya kita ingat kepada Allah. Kalau kita lupa, maka kita diingatkan olehnya. Kalau salah dinasehati, kalau dapat musibah ditolong. Kalau susah dihibur. Ini adalah teman yang sebenarnya. Kalau tidak seperti itu maka dia bukan teman, tetapi dia adalah musuh.

Allah Ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman itu antara satu dan yang lain pada hari kiamat akan saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Azzukhruf: 67)

Pertemanan yang tidak didasarkan dengan dasar ketakwaan adalah permusuhan. Sering kita lihat orang-orang jahat itu, kalau sudah tertangkap polisi, mereka saling menyalahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Ia akan menyelamatkan dirinya dan mengorbankan temannya. Di dunia sudah tampak bermusuhan apalagi nanti di akhirat.

Di dalam kitab terdahulu disebutkan bahwa Allah berfirman kepada Nabi Musa, “Hai putera Imran. jadilah engkau orang yang sadar. Pilihlah bagi dirimu teman. Setiap teman yang tidak membantumu untuk taat kepada-Ku, maka dia adalah musuhmu.”

Seseorang yang uzlah bukan berarti tidak boleh berteman. Kita malah disuruh berteman dengan orang baik yang bisa mengajak kepada kebaikan. Merupakan kebahagian terbesar kalau menemukan teman yang bermanfaat. Apalagi dia seorang guru, orang sholeh. Itu adalah teman yang sebenarnya. Teman seperti ini akan berguna dan saling memberi syafaat di akhirat.

Di sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti, Allah akan berseru:

أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

“Mana orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku. Hari ini Aku naungi mereka di dalam naungan-Ku, di mana hari ini tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim)

Kalau seseorang melakukan uzlah, maka janganlah ia mendengar berita-berita di luar dan jangan bertanya. Semua itu akan mengotori hati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan kepada sahabatnya agar jangan membawa berita tentang sahabatnya yang mengotori hati.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِي شَيْئًا؛ فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْهِمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ

“Janganlah seorang dari kalian menyampaikan kepadaku berita tentang salah satu sahabatku, karena aku senang keluar kepada kalian dalam keadaan hati bersih.” (HR. Abu Dawud, AtTurmudzi)

Uzlah bisa mengurangi pandangan seseorang terhadap dunia. Kita diperintah Allah untuk mengurangi pandangan terhadap dunia. Allah berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah kamu tunjukkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan– golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk kamu uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Seseorang yang sering bercampur dengan manusia ia akan melihat berbagai macam gemerlapnya dunia. Maka hatinya akan tertarik dengan keindahan dan keelokan dunia. Misalnya, setelah ia melihat rumah bagus dan mobil mewah, akan timbul di hatinya keinginan untuk memilikinya. Semakin banyak yang dilihat, maka semakin banyak pula yang diinginkan. Itu semua akan mengganggu dan merusak hati, apalagi kalau ia tidak bisa mencapainya. “Orang yang banyak pandangannya, maka semakin lama penyesalannya,” kata seorang pujangga.

Orang Arab mengatakan:

الْعَيْنُ سَبَبُ الْحَيْن

“Mata adalah penyebab celaka.”

Uzlah merupakan salah satu sifat yang menyebabkan seseorang menjadi seorang Wali Abdal. Sahal bin Abdullah At-Tusturi berkata: “Segala kebaikan berkumpul pada empat sifat ini. Para Abdal menjadi wali abdal dengan sebab empat sifat ini. Lapar, Diam, Menyendiri, dan Bangun Malam.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *