Tutup Allah Dalam Perbuatan Maksiat Dan Tutup Allah Dari Perbuatan Maksiat

Maaf Allah Lebih Dibutuhkan Ketika Beramal Taat
May 4, 2020
Allah-lah yang Pantas Dipuji
May 13, 2020

السِّتْرُ عَلَى قِسْمَيْنِ : سِتْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَسِتْرٌ فِيْهَا . فَالْعَامَّةُ يَطْلُبُوْنَ السِّتْرَ مِنَ اللهِ فِيْهَا خَشْيَةَ سُقُوْطِ مَرْتَبَتِهِمْ عِنْدَ الْخَلْقِ وَالْخَاصَّةُ يَطْلُبُوْنَ السِّتْرَ عَنْهَا خَشْيَةَ سُقُوْطِهِمْ مِنْ نَظَرِ الْمَلِكِ الْحَقِّ

 

Tutup Allah itu terbagi dua, tutup dari perbuatan maksiat dan tutup dalam perbuatan maksiat.

Orang-orang awam meminta kepada Allah agar Allah menutupi perbuatan maksiat mereka, sebab mereka khawatir bahwa kedudukan mereka jatuh di mata manusia. Sedangkan orang-orang khusus meminta kepada Allah agar tertutup (terhindar) dari maksiat, karena mereka takut jatuh dari pandangan Allah.

KEBANYAKAN manusia (orang-orang awam) selalu melihat kepada makhluk dan tidak melihat kepada Allah, suka berpura-pura, membagus-baguskan diri karena ingin dipuji oleh manusia dan sangat benci terhadap celaan manusia. Oleh karena itu segala apa yang mereka lakukan dikarenakan ingin mendapatkan perhatian dari manusia dan tanpa memperdulikan bahwa Allah akan murka terhadap apa yang mereka lakukan. Sehingga mereka lengah dan tidak menyadari bahwa Allah selalu memperhatikan mereka. Padahal sedikitpun manusia tidak bisa memberi manfaat dan mudharat kepada mereka.

Rabi’atul Adawiyah mengatakan dalam syairnya:

وَلَيْتَ الَّذِى بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ عَامِرٌ  وَبَيْنِيْ وَبَيْنَ الْعَالَمِيْنَ خَرَابٌ

Andaikan hubunganku dengan-Mu makmur,

walaupun hubunganku dengan manusia runtuh

Pada umumnya manusia (orang-orang awam) apabila mereka melakukan maksiat, mereka menyembunyikannya dan mereka meminta kepada Allah untuk menutupi perbuatan maksiat itu dari manusia agar jangan sampai kedudukan mereka jatuh dari pandangan manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an mengenai orang-orang yang seperti mereka itu:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridhai oleh Allah. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108)

Diriwayatkan oleh Adiy bin Hatim dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

يُؤْمَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِنَاسٍ إِلَى الْجَنَّةِ، حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْهَا ونَظَرُوا إِلَيْهَا واسْتَنْشَقُوا رِيْحَهَا وَمَا أَعَدَّ اللهُ لِأهْلِهَا فِيهَا نُودُوا: اصْرِفُوهُمْ عَنْهَا فَلَا نَصِيبَ لَهُمْ فِيهَا فَيَرْجِعُونَ بِحَسْرَةٍ مَا رَجَعَ الْأَوَّلُونَ بِمِثْلِهَا فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا لَو أَدْخَلْتَنَا النَّارَ قَبْلَ أَنْ تُرِيَنَا مَا أَرَيْتَنَا مِنْ ثَوَابِكَ وَمَا أَعْدَدْتَ فِيهَا لِأَوْلِيَائِكَ كَانَ أَهْوَنَ عَلَيْنَا, قَالَ: ذَلِكَ أَرَدْتُ بِكُمْ، إِذَا خَلَوْتُمْ بَارَزْتُمُونِي بِالْعَظَائِمِ وَإِذَا لَقِيْتُمُ النَّاسَ لَقِيْتُمُوهُمْ مُخْبِتيْنَ تُرَاءُونَ النَّاسَ بِخِلَافِ مَا تُعْطُونِي مِنْ قُلُوبِكُمْ، هِبْتُمُ النَّاسَ وَلَمْ تَهَابُونِي، وَأَجْلَلْتُمُ النَّاسَ وَلَمْ تُجِلُّونِي، وَرَكَنْتُمْ لِلنَّاسِ وَلَمْ تَرْكَنُوْا إِلَيَّ، فَالْيَوْمَ أُذِيقُكُمْ أَلِيمَ الْعَذَابِ مَعَ مَا حُرِّمْتُمْ مِنَ الثَّوَابِ

Manusia untuk (digiring ) masuk ke dalam surga sehingga apabila mereka sudah mendekati surga dan mereka memandang (kesenangan-kesenangan) surga dan mencium bau surga dan apa-apa yang Allah sediakan untuk penghuni surga, maka ada suara yang berseru kepada mereka: “Usirlah mereka dari surga, karena mereka tidak mempunyai nasib (bagian) untuk masuk surga!” Kemudian mereka kembali pulang dengan membawa kerugian seperti yang dibawa oleh orang terdahulu sehingga mereka mengatakan: “Wahai Tuhan kami, andaikan Engkau memasukkan kami ke dalam api neraka sebelum Engkau memperlihatkan kepada kami dari pahala-Mu dan kenikmatan-kenikmatan surga yang Engkau sediakan untuk kekasih-kekasih-Mu, maka hal itu lebih ringan bagi kami.” Allah berfirman: “Seperti itulah yang Aku kehendaki untuk kalian. Dulu (di dunia) apabila kalian berada di waktu sepi, kalian menantang Aku dengan melakukan hal-hal (dosa) yang besar. Apabila kalian bertemu dengan manusia, kalian bertemu mereka dengan berlagak (berpura-pura) menampakkan khusyuk (rendah diri). Kalian menampakkan kepada manusia berbeda dengan apa yang ada di dalam hati kalian. Kalian takut kepada manusia, namun kalian tidak takut kepada-Ku. Kalian mengagungkan manusia, namun kalian tidak mengagungkan-Ku. Kalian condong kepada manusia dan tidak condong kepada-Ku. Maka pada hari ini Aku rasakan kepada kalian azab yang pedih serta kalian diharamkan dari pahala-Ku.

Orang-orang yang sewaktu di dunia melakukan berbagai macam ibadah ataupun kebaikan, namun mereka melakukannya hanya supaya dilihat manusia (riya’). Maka kelak di ketika di akhirat, yaitu di saat mereka meminta balasan kepada Allah, Allah berfirman kepada mereka:

يَا فَاجِرُ يَا غَادِرُ يَا مُرَائِيْ ضَلَّ عَمَلُكَ وَحَبِطَ أَجْرُكَ, اذْهَبْ فَخُذْ أَجْرَكَ مِمَّنْ كُنْتَ تَعْمَلُ لَهُ

“Wahai orang yang jahat! Wahai penipu ! Wahai orang yang riya’! Telah hilang amalmu dan telah lenyap pahalamu. Pergilah dan mintalah balasan dari orang-orang yang engkau melakukan kebaikan kerena dia”

Ibnu Abbas mengatakan mengenai firman Allah :

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى الصُّدُوْرُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada (hati)” (QS. Ghafir: 19) “Yaitu seseorang laki-laki yang bersama suatu kaum kemudian lewat perempuan. Laki-laki itu berpura-pura bahwa ia memejamkan matanya dari perempuan itu, padahal ia ingin agar bisa melihat aurat perempuan itu dan menangkapnya.”

Dalam riwayat lain Ibnu Abbas mengatakan: “Yaitu seorang laki-laki bersama suatu kaum, kemudian lewat seorang perempuan. Laki-laki itu berlagak memejamkan matanya dan tatkala kaum itu lengah, maka ia melirik dan melihat perempuan itu. Manakala ia khawatir kaum itu mengetahuinya, maka ia memejamkan matanya. Sesungguhnya Allah mengetahui isi hatinya bahwa ia ingin seandainya saja bisa melihat aurat perempuan itu.”

Semua ini adalah perbuatan orang-orang yang beramal dengan riya’ yang meremehkan pandangan Allah dan takut kepada manusia agar jangan sampai perbuatan-perbuatan dosa mereka diketahui manusia.

Adapun orang-orang yang khusus, mereka meminta kepada Allah agar ditutupi dari perbuatan maksiat dan jangan sampai mereka melakukan maksiat, karena mereka takut jatuh dalam pandangan Allah. Namun bilamana mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat, maka mereka segera kembali dan meminta ampun kepada Allah serta merasa malu dan rendah diri. Bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk kembali beribadah kepada Allah.

Al-Habib Ahmad bin Umar bin Smith mengatakan:

مَنْ كَانَتْ غَرِيْزَتُهُ الْيَقِيْنَ لَا تَضُرُّهُ الذُّنُوْبُ

“Siapa yang tabiatnya adalah yakin, maka dosa tidak akan membahayakannya.”

Artinya, orang yang keyakinannya sudah meresap ke dalam dirinya sehingga menjadi kuat, bilamana ia melakukan dosa, maka ia akan segera sadar dan kembali, hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wa ta ‘ala dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan (sehingga terjatuh dalam perbuatan maksiat), mereka ingat kepada Allah, maka (ketika itu juga) mereka melihat (menyadari) kesalahan-kesalahan mereka.” (QS. Al-A’raf: 201)

Adapun orang-orang khususul khusus, mereka hanya memandang dan bersandar kepada Allah. Mereka merasa cukup dengan pengetahuan Allah terhadap mereka. Apabila mereka terjatuh dalam perbuatan maksiat, mereka minta ampun, dan apabila mereka melakukan perbuatan taat, maka mereka bersyukur kepada Allah.

Al-Imam asy-Syeikh Abul Hasan asy-Syadzili mengatakan dalam doanya:

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ التَّوْبَةَ وَدَوَامَهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ وَأَسْبَابِهَا وَذَكِّرْنَا بِالْخَوْفِ مِنْكَ قَبْلَ هُجُوْمِ خَطَرَاتِهَا وَاحْمِلْنَا عَلَى النَّجَاةِ مِنْهَا وَمِنَ التَّفَكُّرِ فِيْ طَرَائِقِهَا وَامْحُ مِنْ قُلُوْبِنَا حَلَاوَةَ مَا اجْتَنَيْنَاهُ مِنْهَا وَاسْتَبْدِلْهَا بِالْكَرَاهَةِ لَهَا وَالطَّعْمِ لِمَا هُوَ بِضِدِّهَا

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Engkau taubat dan kekekalannya dan kami berlindung kepada Engkau dari maksiat dan sebab-sebabnya. Sadarkanlah kami dengan merasa takut dari (siksa)-Mu sebelum terlintas perbuatan-perbuatan maksiat. Bawalah kami dalam keselamatan dari perbuatan maksiat dan dari merenungkan jalan-jalan kemaksiatan. Hilangkanlah dari hati-hati kami rasa manis dari perbuatan maksiat yang kami lakukan. Ubahlah perasaan manis itu dengan rasa benci terhadap perbuatan maksiat itu dan dengan merasakan yang sebaliknya dari kemaksiatan itu.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *