Turuti Nafsu: Giat Mengerjakan Sunnah, Malas Mengerjakan Wajib

Berat Kepada Nafsu, Lakukan! Itu Benar
Jan 1, 2021
Amal Taat Ditentukan Dan Diperluas Waktunya, Agar Tidak Ketinggalan Dan Bebas Memilih
Jan 15, 2021

مِنْ عَلَامَةِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ اِلَى نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ وَالتَّكَاسُلُ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ

Termasuk tanda menuruti hawa nafsu adalah cepat-cepat melakukan amal baik yang sunnah, tetapi malas untuk mengerjakan amal yang wajib.

BIASANYA, nafsu itu berat untuk melakukan kewajiban. Karena, kewajiban itu dilakukan bersama oleh semua orang dan tidak tampak keistimewaan bagi pelakunya. Seperti salat lima waktu yang diwajibkan kepada semua orang, maka orang yang melakukannya tidak tampak punya keistimewaan dan kelebihan dari orang lain.

Beda dengan ibadah sunnah. Nafsu senang melakukannya. Sebab, tidak semua orang melakukan kesunnahan. Maka bagi orang yang melakukan kesunnahan akan tampak keistimewaan dari orang lainnya. Misalnya, seseorang yang berpuasa sunnah. Ia akan tampak istimewa dari orang lain.

Oleh karena itu, sebuah tanda seseorang menuruti hawa nafsu adalah cepat-cepat melakukan ibadah sunnah, namun berat dalam melakukan kewajiban.

Misalnya, seorang yang dengan mudahnya bershadaqah sunnah di sana-sini. Ia suka menyumbang masjid, madrasah atau pesantren. Tetapi orang ini berat untuk mengeluarkan zakat hartanya.

Ada orang yang baik di luar rumah. Tersenyum dan ramah kepada orang lain. Memberi shadaqah kepada teman-temannya. Tetapi bila di dalam rumah ia menjadi kasar dan bengis. Kepada anak dan istrinya ia kejam dan pelit.

Ada pula yang rajin menghadiri yasinan, tahlilan atau istighatsah dengan penuh semangat. Tetapi ia malas dalam melakukan shalat lima waktu. Terkadang ia meninggalkan shalat demi kegiatan tersebut.

Ada yang senang melakukan umrah atau haji sunnah, sedangkan ibunya serba kekurangan di rumahnya tanpa ada yang mengurusinya. Tetangganya banyak kelaparan, tapi ia tidak peduli. Ada juga orang yang mendapatkan uang lalu digunakan untuk haji atau umrah, atau bershadaqah, sedangkan hutangnya tidak ia lunasi.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa orang sekarang banyak yang melakukan ibadah menuruti hawa nafsunya. Bukan hawa nafsu harus tunduk kepada ilmu. Tapi malah ilmu mengikuti hawa nafsu. Sehingga yang sunnah diutamakan hingga mengalahkan kewajiban. Betul apa yang dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud:

اَنْتُمُ الْيَوْمَ فِى زَمَانٍ الْهَوَى فِيْهِ تَابِعٌ لِلْعِلْمِ وَسَيَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يَكُوْنُ الْعِلْمُ فِيْهِ تَابِعًا لِلْهَوَى

“Kalian (para sahabat) sekarang berada di zaman, hawa nafsu ikut kepada ilmu. Dan akan datang kepada kalian sebuah zaman, ilmu ikut kepada hawa nafsu.”

Muhammad bin Abil Ward berkata: “Manusia binasa sebab dua perkara. Sibuk melakukan amal sunnah, tapi meninggalkan yang fardhu dan melakukan amal dhahir dengan mengabaikan keikhlasan hati. Mereka terhalang dari sampai kepada tujuan hanya disebabkan meninggalkan pokok (keikhlasan).”

Al-Khawwash berkata: “Makhluk terputus dari Allah sebab dua hal. Pertama, mereka melakukan kesunnahan, tapi meninggalkan kewajiban. Kedua, mereka melakukan amal-amal dhahir dan tidak memperhatikan keikhlasan dalam amal tersebut. Sedangkan Allah enggan menerima amal yang dilakukan kecuali disertai keikhlasan dan sesuai dengan kebenaran.”

Kesimpulannya, janganlah sibuk mengejar amal sunnah kecuali setelah selesai tugasnya dalam melaksanakan kewajiban. Sebab, sunnah tidak benar kecuali setelah fardhunya selamat. Sebagaimana laba keuntungan dalam berdagang itu tidak murni kecuali setelah kembali modalnya. Wallahu A’lam.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *