Tidak Takut Tidak Tahu Jalan, Tetapi Dikuatirkan Kalah Dengan Nafsu

Pikiran Dangkal Tak Melihat Kelembutan Allah Dibalik Musibah
Jan 9, 2020
Kewalian Ditutup Dengan Sifat Kemanusiaan
Jan 21, 2020

لَا يُخَافُ عَلَيْكَ أَنْ تَلْتَبِسَ الطُّرُقُ عَلَيْكَ وَإِنَّمَا يُخَافُ عَلَيْكَ مِنْ غَلَبَةِ الْهَوَى عَلَيْكَ

Tidak dikuatirkan padamu bingungnya jalan yang membingungkanmu, tetapi yang dikuatirkan atasmu ialah menangnya hawa nafsu atas dirimu.

 

JALAN menuju Allah itu jelas dan terang. Allah telah menurunkan Kitab Al-Qur’an. Allah telah mengutus seorang Rasul yang membawa As-Sunnah. Dengan pedoman dan petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka agama itu menjadi jelas. Jalan menuju Allah menjadi terang.

Maka tidak dikuatirkan terjadi kebingungan, sebab Rasulullah telah menyampaikan seluruh urusan manusia. Segalanya telah dijelaskan dari masalah yang besar seperti keimanan sampai masalah yang kecil seperti tata cara jongkok di WC ketika buang air. Rasul telah mengajarkan Syariat, Thariqat dan Haqiqat. Rasul telah menyampaikan kepada kita tentang Islam, Qawa’id Iman dan Maqam Ihsan. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan kita kepada Allah, kecuali Rasulullah telah memberi petunjuk kepada kita. Tidak ada sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah, kecuali Nabi telah memberi kita peringatan. Rasulullah meninggalkan para sahabat dan umatnya setelah semua yang diperintahkan oleh Allah disampaikan. Tak ada yang tertinggal dan tersisa.

Jalan menuju Allah jelas dan terang benderang. Tidak akan tersesat, kecuali orang yang hatinya buta. Kalau terjadi penyelewengan itu disebabkan kebutaan hati.

Allah Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini Aku sempurnakan agama kalian dan Aku sempurnakan kepada kalian nikmat-Ku dan Aku ridho Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam agama. Telah jelas petunjuk dan kesesatan. ” (QS. Al-Baqarah: 256)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْحَنِيْفِيَّةِ السَّمْحَةِ

“Aku telah meninggalkan kalian di atas Jalan agama yang lurus dan mudah. ”

Dalam riwayat lain:

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْمِلَّةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا

“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih terang, malamnya seperti siangnya.”

Ahmad bin Khadrawaih al-Balakhi berkata: “Jalan (menuju Allah) sudah jelas. Kebenaran terang. Juru dakwah sudah menyampaikan. Maka tidak ada kebingungan setelah ini, kecuali dari kebutaan (hati).”

Rabi’ah Al-Adawiyah mendengar Shaleh Al-Murri berkata: “Siapa yang terus menerus mengetuk pintu maka pasti dia akan dibukakan pintu.”

Maka Rabi’ ah berkata: “Pintu itu terbuka tetapi kamu lari dari pintu itu. Bagaimana engkau sampai pada tujuan sedangkan jalanmu salah dari permulaan langkahmu. ”

Jadi, tidak dikhawatirkan padamu kebingungan jalan menuju Allah, sebab jalan itu sangat jelas. Tetapi yang dikhawatirkan adalah menangnya hawa nafsu terhadap dirimu lalu kamu dibutakan dan ditulikan oleh hawa nafsu. Ini seperti yang dikatakan oleh Al-Bushiri:

إِنَّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصْمِ اَوْ يَصِمِ

“Sesungguhnya hawa nafsu itu bila berkuasa akan membutakan mata dan menulikan telinga.”

Bukan samarnya kebenaran yang dikuatirkan, tetapi yang dikhawatirkan padamu adalah kebodohan makhluk.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Bila engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi maka mereka menyesatkan engkau dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Kebenaran tetap benar, walau sedikit pengikutnya. Janganlah ikut orang banyak. Jangan peduli kepada manusia. Yang terpenting engkau dalam kebenaran.

Tidak dikhawatirkan samarnya ahli kebenaran, tetapi yang dikhawatirkan adalah sedikitnya kesungguhan dirimu dalam menempuh jalan Allah. Ahlul haq, para wali tetap ada sampai hari kiamat. Itu tidak usah dikhawatirkan. Tetapi yang dikhawatirkan adalah engkau kurang sungguh-sungguh dalam kebenaran.

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

“Andai mereka sungguh-sungguh menuju Allah, maka itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Para ahlul haq (wali Allah) itu tidak tampak kepada kita, karena kita tidak sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah dan kurang berbaik sangka dan kurang yakin kepada mereka. Bukan berarti mereka tidak ada, tetapi disebabkan kita tidak punya mata.

Habib Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih berkata dalam Rasyafatnya:

يَقُوْلُ قَوْمٌ عَنْ هُدَاهُمْ ضَلُّوْا      قَدْ عُدِمُوْا فِي الْأَرْضِ أَوْ قَلُّوْا

فَقُلْ لَهُمْ كَلَّا وَلَكِنْ جَلُّوْا       عَنْ أَنْ تَرَاهُمْ أَعْيُنُ الْجُهَّالِ

Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka (para wali) tidak ada di zaman kita atau hanya sedikit

Katakan kepada mereka, ‘Tidak mungkin. Tetapi mereka tidak mau dilihat oleh mata-mata jahil.’

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *