Tidak Ada Isyarat Karena Lenyap Dalam Wujud Allah

Kesedihan Yang Menipu
Jun 8, 2019
Harapan Ataukah Angan-Angan Belaka?
Jun 21, 2019

مَا الْعَارِفُ مَنْ إِذَا أَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ أَقْرَبَ إِلَيْهِ مِنْ إِشَارَتِهِ بَلِ الْعَارِفُ مَنْ لَا إِشَارَةَ لَهُ لِفَنَائِهِ فِيْ وُجُوْدِهِ وَانْطِوَائِهِ فِيْ شُهُوْدِهِ

Bukannya orang yang Arif itu ialah orang yang bila ia menunjuk sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat kepadanya dari isyaratnya, tetapi orang arif itu ialah orang yang tidak ada baginya isyarat karena merasa lenyap dirinya dalam wujud Allah dan merasa diliputi oleh pandangan kepada Allah.

 

SIAPA yang masih punya pandangan kepada selain Allah, maka belum sempurna sebagai seorang arif. Tetapi seorang arif yang sesungguhnya ialah yang merasakan kepalsuan segala sesuatu selain Allah sehingga pandangannya hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Ia merasa segala sesuatu selain Allah tidak ada. Ia menyaksikan Allah dengan penyaksian yang melenyapkan lainnya, bahkan juga melenyapkan dirinya sendiri.

Atau dengan ungkapan lain, orang arif itu ialah orang yang berhubungan dengan dunia dan sebab-sebab dunia, tetapi tidak melihat dirinya kecuali bersama Allah. Sebab, bukan semua arif, atau umumnya disebut wali, dari golongan ahli tajrid. Mereka juga ada yang bekerja mencari nafkah dan bekerja untuk mencukupi keluarganya. Bedanya dengan manusia lain, ia berurusan dengan manusia, tapi hatinya tetap bersama Allah. Walau dalam pasar, hatinya tetap bermunajat kepada Allah.

Seorang dari mereka berkata:

عَرْشِيْ وَفَرْشِيْ فِيْ ҇انٍ وَاحِدٍ

“Arsyku (atapku) dan Farsyku (hamparanku) terjadi dalam satu waktu.”

Artinya, ketika ia bersama manusia di saat itu pula hatinya bersama Allah.

Pada masa sahabat, hal ini pernah terjadi. Memang, sufi pertama adalah mereka, para sahabat Nabi. Beberapa sahabat pilihan mencapai maqam makrifat seperti Abu Bakar Assiddiq. Ia mencapai derajat Assiddiqiyah Al-Kubro, sebuah derajat di bawah kenabian. Sebuah perkataan Abu Bakar Assiddiq menunjukkan bahwa ia telah makrifat kepada Allah.

مَا رَأَيْتُ شَيْئًا اِلَّا رَأَيْتُ اللهَ مَعَهُ وَقَبْلَهُ وَبَعْدَهُ

“Aku tidak melihat sesuatu, kecuali aku melihat Allah bersamanya, sebelumnya dan sesudahnya.”

Imam Junaid berkata:

أَنَا أُكَلِّمُ اللهَ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً وَالنَّاسُ يَظُنُّونَ أَنِّي أُكَلِّمُهُمْ

“Aku berbicara dengan Allah selama tiga puluh tahun, tapi manusia menyangka aku berbicara kepada mereka. ”

Seorang penyair mereka berkata:

مِثَالُكَ فِيْ عَيْنِيْ وَذِكْرُكَ فِيْ فَمِيْ  وَمَثْوَاكَ فِيْ قَلْبِيْ فَأَيْنَ تَغِيْبُ

“Gambaranmu ada di kedua mataku, sebutanmu selalu di mulutku, tempat tinggalmu di hatiku, maka di mana kamu bisa menghilang?”

Imam Fakhrurrozi berkata:

كُنْ ظَاهِرًا مَعَ الْخَلْقِ بَاطِنًا مَعَ الْحَقِّ

“Jadilah engkau secara dhahir bersama makhluk, secara bathin bersama Allah. ”

Maqam ini juga disebut dengan maqam Ka’in Ba’in. Kai’n artinya ia berada bersama manusia. Ba’in, tetapi hakikatnya putus dari manusia. Ini juga disebut maqam jam’. Ia hanyut dengan Allah. Banyak Imam Al-Ba Alawi mencapai derajat ini.

Ada cerita dari Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Beliau berkata:

“Pernah guru saya Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aththas datang ke rumah saya. Saya mengantarkannya pulang naik kendaraan dokar. Tiba-tiba ia menjerit dan membawakan dua bait qasidah Habib Abdullah Al-Haddad:

اللهَ لا تَـشْهَـدْ سِـوَاهُ وَلا تَرىَ   إِلاَّهُ فِـى مُـلْكٍ وَفِـى مَـلَـكُوتِ

يَالَيْتِنِى قَدْ غِبْتُ عَنْ هَذَا الوَرَى   وَدُعِيتُ بِالمُسْتَغْرِقِ الَمبْهُوتِ

Allah, Jangan menyaksikan yang lain-Nya dan Jangan melihat

Kecuali Dia di alam dunia atau alam malakut.

Aduhai kiranya aku bisa lenyap dari manusia

Sehingga aku disebut sebagai orang yang tenggelam dan tercengang dengan Allah.

Tiba-tiba kudanya ambruk. Beliau pingsan. Aku dan beberapa orang gemetar. Kemudian beliau sadar dan melanjutkan perjalanannya.

Yang kita ambil pelajaran dari kisah ini, Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aththas di tengah perjalanan ingat kepada Allah dan ingin putus dari manusia dan hanya memandang Allah. Semua wali berharap begitu.

Kita pun para dhuafa juga punya keinginan seperti itu. Di hati selalu ada harapan, kapan kita putus dari kemaksiatan. Kapan kita putus dari hal-hal yang tidak penting. Kapan bisa lenyap dari manusia dan hanya menyaksikan Allah.

Apakah bisa melakukan itu? Bisa, kalau hati kita cinta yang sungguh-sungguh kepada Allah, dan hati bersih dari penyakit-penyakit hati.

Derajat seperti ini bukan suatu hal yang mustahil bagi orang yang bersuluk kepada Allah. Manusia bisa meraih apa yang diinginkan termasuk bertemu dengan Allah. Teruslah berjalan dan jangan putus asa. Kalau sudah ada tanda-tanda dan lambang-lambang hasil dari amal ibadahnya seperti karomah atau mukasyafah, maka jangan berhenti di situ. Teruslah berjalan karena perjalanan menuju Allah masih jauh.

Bersemangatlah yang tinggi karena derajat-derajat itu tidak terbatas. Ada maqam autad, anjab, abdal dan lainnya. Terkadang si murid sampai pada derajat anjab tapi ia ditutup oleh gurunya sehingga ia tidak merasa sudah sampai pada derajat itu agar si murid itu terus meningkat ke derajat yang lebih tinggi.

Abu Yazid Al-Busthami berkata: “Aku mengerjakan haji pertama kali, aku melihat Ka’bah dan tidak melihat Tuhan Ka’bah. Kemudian aku mengerjakan haji kedua kalinya, aku melihat Ka’bah dan juga melihat Tuhan Ka’bah. Kemudian aku mengerjakan haji ketiga kalinya, aku melihat Tuhan Ka’bah dan tidak melihat Ka’bah.”

Perkataan di atas menunjukkan bahwa ia menjadi fana dari segala makhluk sehingga yang terlihat di pandangannya hanyalah Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *