Terus Mengajar, Walau Berbuat Salah

Tanda Kedudukan Yang Dipilih Allah
Oct 20, 2020
Belum Betul-Betul Istiqamah, Sudah Keramat
Nov 4, 2020

مَنْ عَبَّرَ مِنْ بِسَاطِ اِحْسَانِهِ اَصْمَتَتْهُ اْلاِسَاءَةُ وَمَنْ عَبَّرَ مِنْ بِسَاطِ اِحْسَانِ اللهِ اِلَيْهِ لَمْ يَصْمُتْ اِذَا اَسَاءَ

Siapa yang mengajar (memberi nasihat) karena memandang kebaikan dirinya maka dia akan diam jika melakukan kesalahan dan siapa yang mengajar karena kebaikan Allah kepadanya, maka ia tidak akan diam jika berbuat salah atau dosa.

 

ORANG yang memberi nasihat tentang kebaikan dan ia merasa bahwa hal itu timbul dari kebaikan dirinya, apabila ia terjerumus dalam suatu kesalahan atau dosa, maka ia akan diam, tidak memberi nasihat lagi, karena ia merasa malu.

Tetapi, orang yang memberi nasihat dengan memandang bahwa hal itu adalah rahmat dan kebaikan Allah kepadanya, apabila orang itu jatuh pada kesalahan atau dosa maka ia tidak akan diam, ia tetap memberi nasihat, sebab ia merasa bahwa yang diajarkan itu dari rahmat Allah kepada manusia, bukan dari kebaikan dirinya.

Abul Abbas Al-Mursi berkata: “Manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, golongan yang selalu memperhatikan apa-apa yang datang darinya kepada Allah. Kedua, golongan yang selalu ingat apa yang datang dari Allah kepadanya. Ketiga, golongan yang hanya memandang semua berasal dari Allah dan kembali kepada Allah.”

Arti ungkapan Abul Abbas Al-Mursi di atas ialah golongan pertama adalah orang yang selalu memikirkan kekurangan dan kasalahan dirinya, ia dihantui oleh dosanya. Sehingga, orang ini terlihat selalu berduka cita. Golongan kedua adalah orang yang selalu melihat bahwa semua itu dari karunia Allah kepada dirinya. Orang seperti ini akan selalu merasa senang dan gembira. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus : 58)

Golongan ketiga adalah orang yang sudah lupa pada dirinya sendiri. Ia hanya ingat bahwa asal segala sesuatu itu dari Allah dan kembali kepada Allah. Maka ia berserah diri kepada Allah. Golongan ketiga ini adalah ahli tawakal yang sebenarnya.

Abul Hasan Asy-Syadzili berkata: “Orang arif itu mengetahui ada rahasia kelembutan Allah dalam malapetaka dan mengetahui kesalahannya itu dalam lingkungan belas kasih Allah. Maka ingatlah kenikmatan-kenikmatan Allah agar kalian bahagia.”

Abul Hasan Asy-Syadzili juga berkata: “Pada suatu malam aku membaca Qul a’udzu birabbinnas sampai pada kata min syarril waswas, tiba-tiba dikatakan padaku dalam hatiku bahwa syarril waswas (yang membisik di hati) ialah yang menyusup antaramu dengan kekasihmu (Allah) untuk melupakanmu dari karunia kebaikan Allah dan mengingatkanmu perbuatan-perbuatanmu yang jelek untuk membelokkanmu dari husnuddhon (baik sangka) kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi ber-suuddhon (berburuk sangka) kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka waspadalah dari hal ini karena banyak para zahid dan orang-orang yang semangat beribadah yang terkena hal ini.”

“Oleh karena itu engkau dapatkan mereka selalu susah. Sebab mereka merasa bahwa Allah menuntut mereka untuk beribadah dan memikulkan kepada mereka beban yang langit, bumi dan gunung-gunung tidak sanggup menerimanya. Allah berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Kami tawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung maka mereka tidak mau memikulnya dan takut kepadanya. Dan amanat itu dipikul oleh manusia, sesungguhnya manusia itu banyak berbuat aniaya dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab : 72)

Mereka para zahid itu merasa terbebani oleh beban ibadah yang berat. Mereka tidak melihat kelembutan Allah, Dzat yang memikulkan beban itu, kepada orang yang bertawakal kepada-Nya. Sebab inilah mereka selalu tampak susah.”

“Sedangkan Ahli makrifat billah (orang yang mengenal Allah) mengetahui bahwa mereka dibebani kewajiban yang sangat berat. Mereka tahu mereka tidak mampu memikul dan melaksanakannya bila hal itu diserahkan kepada diri mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

“Dan Manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa’ : 28)

Akan tetapi, mereka tahu apabila mereka kembali kepada Allah, memasrahkan diri kepada-Nya, maka Allah akan menanggung beban yang dipikul mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa berpasrah diri kepada Allah, maka Allah yang mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq : 3)

Maka mereka pasrah penuh kepada Allah dan beban ibadah yang berat itu menjadi ringan, sebab Allah yang menanggungnya bukan diri mereka sendiri.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *